0 4 min 2 mths

KUDUS, Liputan7.Net – Tingkat okupansi hotel di Kabupaten Kudus melonjak hingga mencapai 100 persen seiring maraknya event olahraga bertaraf regional, nasional, hingga internasional sepanjang 2026. Derasnya kedatangan atlet, official, keluarga peserta, dan penonton turut menggerakkan sektor perhotelan sekaligus ekonomi masyarakat.

GM Horison IJ Kudus, Rama, menilai geliat tersebut menciptakan iklim bisnis yang sehat bagi industri perhotelan. Ia menyebut Kudus kini berada dalam kategori Blue Zone, istilah yang menggambarkan persaingan usaha dengan tarif kamar yang masih berada pada tingkat wajar, bukan Red Zone yang berpotensi memicu perang harga demi merebut pelanggan.

“Blue Zone itu iklim yang segar bagi para pelaku usaha, karena rate harga yang ditawarkan masih dalam track yang wajar dan sehat. Kalau Red Zone itu berbahaya karena akan terjadi perang harga dan perilaku harga yang sudah tidak sehat demi menjaring customer,” ungkap Rama.

Baru sekitar enam bulan hotelnya beroperasi di Kudus, Rama mengaku melihat langsung besarnya magnet olahraga terhadap pergerakan pengunjung. Menurutnya, setiap event besar mampu mendatangkan kelompok masyarakat yang jauh lebih luas daripada peserta pertandingan.

“Saya baru pertama kali di Kudus, paling nggak enam bulanan. Apalagi olahraga, ternyata yang bukan atlet yakni para penggemar olahraga itu juga pada datang dan memenuhi hotel-hotel di sini,” katanya.

Salah satu gambaran terlihat saat Srikandi Merdeka Cup 2026, turnamen sepak bola putri internasional U-16. Tingkat hunian Horison IJ Kudus mencapai sekitar 85 persen selama perhelatan tersebut berlangsung.

Kondisi lebih tinggi dialami Sapphire Boutique Hotel Kudus. GM Sapphire Boutique Hotel Kudus, Tika Encim, menyebut seluruh 93 kamar hotelnya terpesan atau mencapai okupansi 100 persen selama Srikandi Merdeka Cup, dengan tamu berasal dari tim dan official peserta.

“Kalau selama event ini, Srikandi Cup, kami dibooking 100 persen full. Ada 93 kamar yang dibooking,” ujar Tika.

Menurut Tika, dampak positif juga dirasakan saat event panahan sebelumnya. Tren pemesanan bahkan berlanjut karena sejumlah agenda kejuaraan hingga Oktober telah masuk dalam kalender kegiatan dan mulai memesan kamar.

Sepanjang 2026, Kudus menjadi tuan rumah berbagai kompetisi, antara lain MilkLife Soccer Challenge dan All Stars, HYDROPLUS Soccer League dan All-Stars, MilkLife Athletics Challenge, MilkLife Archery Challenge, serta rangkaian sepak bola putri yang berpuncak pada Srikandi Merdeka Cup. Kehadiran event-event tersebut memperkuat posisi Kudus sebagai tujuan sport tourism.

Namun, ramainya event juga menjadi tantangan bagi hotel lokal. Tika menyebut hotel berbintang tiga dan empat di Kudus dituntut meningkatkan standar kebersihan dan pelayanan untuk memenuhi ekspektasi tamu event internasional yang terbiasa dengan layanan setara hotel bintang lima.

Sementara itu, Bupati Kudus Sam’ani Intakoris mengakui perhelatan olahraga telah memberikan efek berganda terhadap ekonomi daerah. Sektor hotel, kuliner, UMKM hingga destinasi wisata ikut menikmati perputaran ekonomi dari meningkatnya kunjungan.

“Dampak dari acara yang juga menjadi sport tourism ini memang luar biasa,” ujar Sam’ani.

Khusus dampak ekonomi Srikandi Merdeka Cup, Sam’ani menyebut sejumlah dinas terkait masih melakukan penghitungan. Hasilnya diharapkan menjadi bahan evaluasi untuk memperkuat penyelenggaraan event olahraga sebagai salah satu penggerak ekonomi baru di Kabupaten Kudus. (YM/YM)


Post Views: 41

Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *