KUDUS, Liputan7.Net – Museum Jenang Kudus berkolaborasi dengan komunitas Kudus Sketch dan Cerita Kudus Tua menggelar kegiatan bertajuk Tilas Rupa Rasa Crita dalam rangka memperingati Hari Museum Indonesia 2026. Kegiatan yang mengusung semangat merawat ingatan, menggambar warisan, dan menghidupkan cerita Kudus itu berlangsung di Museum Jenang, Jalan Sunan Muria Nomor 33, Desa Glantengan, Kecamatan Kota, Kabupaten Kudus, Minggu (18/10/2026).
Sebanyak 50-an peserta mengikuti kegiatan tersebut dengan mengeksplorasi berbagai sudut museum sebagai objek gambar. Mereka menuangkan kreativitas melalui beragam teknik menggambar, mulai dari sketsa hingga karya berwarna, sesuai minat dan kenyamanan masing-masing.
Manager Marketing Mubarokfood, Muhammad Kirom, mengatakan kegiatan tersebut diselenggarakan untuk memperingati Hari Museum Indonesia yang jatuh pada 12 Oktober. Melalui kolaborasi dengan Kudus Sketch dan Cerita Kudus Tua, pihaknya ingin menghadirkan pengalaman berbeda bagi masyarakat dalam mengenal museum.
“Komunitas Kudus Sketch memiliki ketertarikan dalam menggambar berbagai objek. Kami ingin memberikan ruang bagi mereka untuk mengeksplorasi seluruh sudut Museum Jenang dan menjadikannya sebagai sumber inspirasi karya,” ujarnya.
Menurut Kirom, kegiatan ini tidak berorientasi pada perlombaan, melainkan menjadi ruang berekspresi sekaligus sarana memperkenalkan museum kepada generasi muda. Berbagai koleksi, diorama, serta aktivitas yang berkaitan dengan sejarah jenang diharapkan dapat memantik kreativitas peserta.
Ia menjelaskan, Museum Jenang tidak hanya berfungsi sebagai tempat menyimpan koleksi sejarah, tetapi juga dapat menjadi ruang publik untuk belajar, berkreasi, dan mengenal warisan budaya Kudus.
“Kami ingin menumbuhkan kecintaan terhadap museum melalui kegiatan yang menyenangkan. Generasi muda bisa mengembangkan kreativitasnya sekaligus belajar mengenai sejarah dan peradaban Kudus, salah satunya melalui jenang sebagai makanan tradisional yang menjadi kebanggaan daerah,” jelasnya.
Kirom menambahkan, jenang memiliki perjalanan panjang yang diwariskan dari generasi ke generasi. Keberadaan Museum Jenang menjadi salah satu upaya untuk menjaga ingatan tentang perjalanan produk tradisional tersebut sekaligus memperkenalkannya kepada masyarakat luas.
Melalui tema Tilas Rupa Rasa Crita, peserta diajak mengenali kembali warisan budaya yang tersimpan di museum, menggambarkannya melalui karya visual, serta menghidupkan cerita di balik setiap objek yang mereka temukan.
Sementara itu, Inisiator Kudus Sketch, Rizka Soviana, menyambut positif kolaborasi tersebut. Menurutnya, kegiatan menggambar di Museum Jenang memberikan kesempatan kepada anggota komunitas untuk mengenal lebih dekat sejarah dan budaya lokal melalui pendekatan kreatif.
“Senang sekali karena ini menjadi pengalaman kolaborasi dengan museum. Kami juga bisa menambah jaringan pertemanan sekaligus mengenal lebih dekat cerita di balik jenang. Menurut saya, makanan bukan sekadar sesuatu yang dikonsumsi, tetapi juga memiliki cerita, tradisi, dan nilai budaya,” ungkapnya.
Rizka mengatakan, peserta diberikan kebebasan menentukan objek maupun teknik menggambar. Mereka dapat menggunakan pensil, membuat sketsa sederhana, atau menambahkan warna sesuai gaya masing-masing tanpa dibebani tuntutan teknis tertentu.
Ia berharap kegiatan tersebut dapat membuka kesempatan bagi anak muda untuk lebih aktif mengenali dan mengapresiasi warisan budaya di daerahnya. Menurutnya, keterlibatan generasi muda menjadi penting agar sejarah dan tradisi lokal tetap dikenal oleh masyarakat di masa mendatang.
Peserta kegiatan, Dimas Wahyu, warga Desa Ternadi, Kecamatan Dawe, menilai kegiatan tersebut menjadi wadah positif bagi masyarakat yang memiliki minat terhadap seni gambar.
Ia mengaku kegiatan itu mengingatkannya pada aktivitas komunitas menggambar yang pernah berlangsung di Kudus. Menurutnya, kehadiran Kudus Sketch dapat menjadi ruang berkumpul bagi seniman maupun masyarakat yang ingin belajar menggambar.
“Menurut saya, kegiatan seperti ini bagus karena membuat komunitas semakin aktif. Kudus Sketch bisa menjadi wadah bagi teman-teman yang senang menggambar untuk berkumpul, menambah kenalan, dan menyalurkan hobi dengan suasana santai,” katanya.
Dalam kegiatan itu, Dimas memilih diorama yang menggambarkan aktivitas perdagangan sebagai objek sketsanya. Ia juga mengaku mendapatkan pengalaman baru setelah melihat secara langsung proses pembuatan jenang di lingkungan Museum Jenang.
Menurutnya, kunjungan tersebut memberikan pemahaman bahwa jenang memiliki proses produksi dan nilai tradisi yang menarik untuk dipelajari, sekaligus menjadi inspirasi bagi peserta dalam menghasilkan karya.
Pegiat Cerita Kudus Tua, Imam Khanafi, menambahkan bahwa karya-karya peserta direncanakan untuk dipamerkan di Museum Jenang. Pameran tersebut ditargetkan dapat digelar paling cepat pada 28 Oktober 2026, bertepatan dengan peringatan Hari Sumpah Pemuda.
Ia menyebut, karya yang akan ditampilkan terlebih dahulu melalui proses kurasi untuk menentukan hasil yang sesuai dengan konsep pameran. Dari sekitar 46 karya yang terkumpul, pihaknya memperkirakan sekitar 29 hingga 30 karya berpotensi dipilih untuk dipamerkan.
“Kami akan melakukan kurasi terlebih dahulu untuk menentukan karya yang paling sesuai. Karya terpilih nantinya akan dipamerkan di Museum Jenang, disertai katalog dan apresiasi khusus dari pihak museum,” jelasnya.
Imam berharap kegiatan tersebut tidak berhenti pada aktivitas menggambar semata, tetapi dapat berkembang menjadi agenda kolaboratif yang mempertemukan komunitas kreatif dengan pegiat sejarah dan budaya.
Ia juga menyampaikan bahwa Cerita Kudus Tua berencana mengembangkan kegiatan lanjutan berupa ruang diskusi untuk membahas sejarah Kudus, termasuk perjalanan jenang sebagai salah satu produk tradisional yang memiliki nilai penting bagi identitas daerah.
Melalui kolaborasi tersebut, Museum Jenang diharapkan semakin dikenal sebagai destinasi wisata edukasi yang mampu menghubungkan sejarah, seni, dan kreativitas masyarakat. Dengan demikian, museum dapat menjadi ruang belajar yang inspiratif bagi generasi muda tanpa meninggalkan akar budaya yang diwariskan dari masa ke masa. (AS/YM)
Post Views: 8
