KUDUS, Liputan7.Net – Kopi menjadi salah satu komoditas utama yang menopang perekonomian masyarakat Desa Ternadi, Kecamatan Dawe, Kabupaten Kudus. Sekitar 80 persen dari 2.700 penduduk desa tersebut diketahui berprofesi sebagai petani kopi dengan produksi yang mencapai sekitar 200 ton dalam satu musim.
Kepala Desa Ternadi, Arik Wahono, mengatakan terdapat sekitar 500 petani yang mengandalkan perkebunan kopi sebagai sumber penghasilan. Produksi kopi di wilayahnya pada musim ini diperkirakan tidak jauh berbeda dengan tahun sebelumnya.
“Untuk Ternadi sendiri sekitar 200 ton per musim. Tahun kemarin surplus, tahun ini juga hampir sama, sekitar 200 ton,” ujar Arik saat diwawancarai Kamis (13/8/2026).
Menurut Arik, musim panen kopi di Ternadi berlangsung secara bertahap. Tanaman kopi arabika mulai dipanen sejak April, sedangkan robusta memasuki masa panen pada Juni. Proses pemetikan diperkirakan masih berlangsung hingga November mendatang.
Dalam satu kali panen, hasil yang diperoleh petani cukup bervariasi. Saat kondisi panen basah, rata-rata produksi yang dihasilkan petani berkisar antara dua hingga tiga ton.
Dari sisi harga, kopi hasil panen petani juga memiliki nilai jual yang cukup tinggi. Kopi jenis campuran saat ini berada di kisaran Rp62 ribu per kilogram, sedangkan kopi petik merah dapat mencapai Rp65 ribu per kilogram.
“Kalau jenis campur sekitar Rp62 ribu, untuk petik merah sekitar Rp65 ribu,” jelasnya.
Selain menjual hasil panen, sebagian masyarakat mulai mengembangkan pengolahan kopi secara mandiri. Biji kopi tidak seluruhnya dijual sebagai bahan mentah, tetapi mulai diolah hingga menjadi produk kopi yang siap dipasarkan.
Meski begitu, jumlah petani yang telah melakukan pengolahan dan pengemasan sendiri masih relatif terbatas. Arik memperkirakan baru sekitar 10 hingga 15 persen petani yang sudah mengembangkan produk kopi olahan.
“Yang sudah diolah dan dikemas sendiri sekitar 10 sampai 15 persen dari jumlah petani,” katanya.
Kopi bukan satu-satunya komoditas pertanian yang dikembangkan masyarakat Ternadi. Sejumlah tanaman lain juga menjadi bagian dari aktivitas pertanian warga, di antaranya jahe, tales, ketela, alpukat dan cengkeh.
Namun, keberlangsungan produksi kopi tetap dipengaruhi kondisi cuaca. Musim kemarau yang berkepanjangan dapat mengganggu pertumbuhan tanaman dan berpotensi menyebabkan penurunan hasil, bahkan gagal panen apabila kondisinya cukup ekstrem.
Selain faktor cuaca, petani juga menghadapi gangguan hama. Salah satu yang menjadi perhatian yakni semut merah yang dapat menyerang tanaman hingga bagian akar.
Di tengah pengembangan komoditas kopi, pemerintah desa juga berupaya menjaga keseimbangan antara aktivitas pertanian dan kelestarian lingkungan. Petani terus diberikan edukasi agar tidak melakukan pembukaan lahan baru maupun pembakaran lahan secara sembarangan.
Arik menegaskan, peningkatan produksi kopi di Ternadi harus tetap berjalan seiring dengan upaya menjaga kawasan dan konservasi alam.
“Kami terus memberikan edukasi kepada petani kopi untuk tetap menjaga konservasi alam, termasuk tidak membuka lahan lagi dan tidak membakar sembarangan,” pungkasnya. (AS/YM)
Post Views: 24
