KUDUS, Liputan7.Net – Pembangunan seni di daerah kerap kali terjebak pada modernisasi hilir: pembangunan panggung megah, gedung kesenian, serta dokumentasi visual yang estetik. Padahal, tanpa adanya ruang latihan sederhana, proses berkesenian warga, dan dorongan regenerasi dari akar rumput, fasilitas tersebut hanyalah ruang kosong yang tak bernyawa.
Pendekatan organik inilah yang diterapkan oleh Kampung Budaya Cabean bersama tim Serah dalam gelaran Serah#9. Dibanding mendatangkan karya dari luar, mereka memilih menggali potensi yang telah berakar di Desa Papringan, Kecamatan Kaliwungu, yakni tradisi pembuatan genteng pres.
Pembuatan genteng menyimpan keahlian kognitif dan fisik yang tidak tertulis di lembaran kertas. Pengetahuan tentang kadar air tanah, durasi pengeringan di bawah terik matahari, hingga teknik pembakaran (gobong) hanya ada di ingatan kolektif para perajin tua. Ketika generasi muda memandang genteng sebatas benda mati di atas atap, mata rantai kearifan itu terancam putus.
Melalui kepemimpinan Achmad Apshohus Sobirin (Ketua Kampung Budaya Cabean), kerja fisik pembuatan genteng ditransformasikan menjadi seni pertunjukan bernama Tari Gobong. Seni tidak hadir untuk membekukan tradisi menjadi barang pajangan yang mati, melainkan sebagai wadah dinamis yang merajut kembali pengetahuan lokal dengan kehidupan anak muda hari ini.
Proses kreasi berbasis ekosistem ini berpuncak pada gelaran Serah#9 bertajuk “Merawat Tradisi Merayakan Kreasi“, yang dijadwalkan berlangsung pada Sabtu, 19 September 2026, pukul 19.00 WIB di Kampung Budaya Cabean. Pentas ini membawa tubuh para penari menjadi perantara yang memanggil kembali ingatan tentang tanah, api, dan kerja keras warga kampung.
Seni pertunjukan pada akhirnya bukan sekadar tentang estetika gerak di bawah sorot lampu, melainkan sebuah strategi bertahan hidup bagi identitas sebuah komunitas. Di tengah laju modernisasi yang serba instan, keberanian untuk menengok kembali pada tanah dan kerja kasar warga adalah pengingat penting: bahwa kemajuan sejati tidak pernah dicapai dengan menanggalkan akar dari mana kita berasal. (*)
Post Views: 42
