KUDUS, ISKNEWS.com – Atlet nasional peraih dua medali emas SEA Games, Safira Dwi Meilani, menjadi pusat perhatian saat tampil pada partai utama friendly match antara Akademi Silat Kudus (ASK) dan Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT) Cabang Pati di Gedung Tenis Indoor Kabupaten Kudus, Minggu (28/6/2026). Penampilannya menghadapi pesilat PSHT Pati, Septiyiana Cahaya Ningrum, menjadi laga yang paling dinantikan dalam kegiatan tersebut.
Friendly match yang diikuti sekitar 120 pesilat itu diselenggarakan sebagai bagian dari pembinaan atlet sekaligus persiapan menghadapi berbagai kejuaraan. Selain menjadi ajang mengukur kemampuan, pertandingan tersebut juga dimanfaatkan untuk meningkatkan pengalaman bertanding para atlet sebelum turun pada kompetisi resmi seperti Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Jawa Tengah.
Panitia pelaksana, Mas’ud, mengatakan kegiatan tersebut dirancang agar para atlet terbiasa menghadapi atmosfer pertandingan yang sesungguhnya. Menurutnya, pembinaan atlet tidak cukup hanya melalui latihan rutin, tetapi juga harus dibarengi kesempatan bertanding secara langsung.
“Tujuan kegiatan ini untuk memberikan jam terbang kepada atlet, melatih mental mereka, sekaligus mempererat tali persaudaraan antarperguruan. Harapannya, atlet-atlet kami semakin siap menghadapi berbagai kejuaraan, terutama Porprov mendatang,” ujarnya.
Ia menambahkan, pembentukan mental menjadi salah satu fokus utama dalam pembinaan atlet di Akademi Silat Kudus. Karena itu, ASK secara berkala mengadakan latih tanding dengan berbagai perguruan sebagai sarana meningkatkan rasa percaya diri dan kesiapan atlet saat bertanding.
Kehadiran Safira Dwi Meilani turut memberikan warna tersendiri dalam friendly match tersebut. Atlet yang sukses menyumbangkan medali emas bagi Indonesia pada SEA Games Thailand 2022 dan 2025 itu tidak hanya bertanding, tetapi juga berbagi pengalaman kepada para pesilat muda.
Safira menilai laga persahabatan merupakan media yang efektif untuk membangun mental bertanding sekaligus mengevaluasi kemampuan teknik sebelum mengikuti kejuaraan yang sesungguhnya.
“Ajang seperti ini sangat bagus untuk melatih mental adik-adik. Kemarin saya juga sempat sparring dengan atlet Bangau Ruyung, sekarang ada kesempatan sparring dengan teman-teman dari PSHT Pati. Ini menjadi pengalaman yang sangat berharga,” katanya.
Menurutnya, friendly match memiliki fungsi sebagai try out sehingga atlet dapat membiasakan diri dengan sistem pertandingan resmi, mulai dari penerapan peraturan hingga kepemimpinan wasit di arena.
“Biasanya digunakan sebelum event-event seperti Porprov. Anak-anak bisa menambah jam terbang dan membiasakan diri bertanding dengan aturan resmi,” jelasnya.
Safira menjelaskan bahwa cabang olahraga pencak silat mempertandingkan dua nomor utama, yakni seni dan tanding. Nomor seni meliputi kategori tunggal, ganda, dan beregu, sedangkan nomor tanding dibedakan berdasarkan kelas berat badan untuk putra maupun putri.
Ia juga memberikan apresiasi terhadap perkembangan Akademi Silat Kudus yang dinilai semakin maju. Menurut Safira, pola pembinaan yang diterapkan Mas’ud memberikan dampak positif terhadap kesiapan atlet, terutama dari sisi mental.
“Menurut saya, kalau dipegang Pak Mas’ud memang berbeda. Beliau lebih menekankan pembentukan mental. Sekitar 70 persen itu mental, sisanya akan mengikuti. Itu yang membuat atlet lebih siap saat bertanding,” ungkapnya.
Di sela kesibukannya mengikuti friendly match, Safira mengungkapkan bahwa dirinya tengah fokus menjalani persiapan menuju Seleksi Nasional Kejuaraan Dunia Pencak Silat yang akan berlangsung di Uzbekistan pada Desember 2026. Sejak Januari lalu, ia telah menjalani program latihan intensif bersama Pelatda Jawa Tengah.
“Insya Allah saya siap. Fokus saya sekarang menghadapi seleknas terlebih dahulu. Semoga bisa kembali dipercaya mewakili Indonesia di kejuaraan dunia,” tuturnya.
Menutup keterangannya, Safira mengajak para atlet muda untuk menjaga semangat, disiplin, dan konsistensi dalam menjalani latihan. Menurutnya, prestasi tidak hanya ditentukan oleh kemampuan teknik, tetapi juga dipengaruhi kedisiplinan, kondisi fisik, dan kemauan untuk terus berkembang.
“Kunci utama itu disiplin dan konsisten latihan. Konsisten jauh lebih sulit daripada sekadar menguasai teknik. Selain itu, jaga fisik dengan pola makan yang baik, istirahat cukup, dan latihan mandiri di luar jadwal bersama pelatih,” pesannya.
Ia juga berharap pemerintah terus meningkatkan perhatian terhadap pembinaan olahraga pencak silat melalui penyediaan fasilitas latihan yang memadai dan program pembinaan jangka panjang agar semakin banyak atlet daerah mampu berprestasi di level nasional maupun internasional.
“Prestasi harus didukung fasilitas yang memadai. Pembinaan juga sebaiknya dilakukan secara berkelanjutan, bukan hanya menjelang kejuaraan. Dengan begitu, atlet bisa berkembang lebih maksimal dan mampu mengharumkan nama daerah maupun Indonesia,” pungkasnya. (AS/YM)
Post Views: 4
