0 4 min 3 mths

KUDUS, ISKNEWS.com – Sejarah makam Mbah Syekh Sultan Kamaludin yang berada di Dukuh Jetak, Desa Kedungdowo, Kecamatan Kaliwungu, Kabupaten Kudus, kembali diceritakan oleh sesepuh setempat, H. Ali Ihsan. Menurutnya, makam yang kini menjadi pusat pelaksanaan tradisi haul setiap 17 Muharam itu memiliki kisah panjang yang diwariskan secara turun-temurun oleh masyarakat.

H. Ali Ihsan menjelaskan, masyarakat Dukuh Jetak hingga kini tetap melestarikan tradisi Haul Mbah Syekh Sultan Kamaludin sebagai bentuk penghormatan kepada sosok yang diyakini sebagai cikal bakal berdirinya dukuh tersebut. Salah satu agenda utama dalam peringatan haul adalah kirab budaya yang setiap tahun melibatkan seluruh elemen masyarakat.

“Hari ini kita melaksanakan kirab budaya dalam rangka haul Mbah Syekh Sultan Kamaludin. Kirab budaya ini sudah bertahun-tahun berjalan secara kontinu dan diikuti oleh seluruh masyarakat Dukuh Jetak,” ujarnya saat ditemui, Minggu (28/6/2026).

Ia mengungkapkan, sebelum kirab budaya digelar, masyarakat terlebih dahulu melaksanakan prosesi buka luwur, yakni mengganti kain penutup makam lama dengan luwur baru. Prosesi tersebut menjadi simbol penghormatan sekaligus bentuk penghargaan terhadap jasa Mbah Syekh Sultan Kamaludin.

Selain tradisi budaya, peringatan haul juga diisi berbagai kegiatan keagamaan. Sebanyak 15 musala di Dukuh Jetak secara serentak menggelar khataman Al-Qur’an 30 juz sebagai doa bersama untuk memohon keberkahan bagi seluruh warga.

“Di masing-masing musala mengadakan khataman Al-Qur’an 30 juz. Ada 15 musala yang melaksanakannya secara bersama-sama,” katanya.

Kirab budaya tahun ini diikuti warga dari dua RW yang terdiri atas 18 RT. Masing-masing RT membawa gunungan berisi hasil bumi yang diarak mengelilingi kampung sebagai simbol rasa syukur atas limpahan rezeki dan hasil panen.

“Gunungan itu merupakan ungkapan rasa syukur masyarakat atas rezeki dan hasil bumi yang diberikan Allah SWT. Setelah disusun, semuanya dikirab bersama-sama,” ungkap Ali Ihsan.

Menurut Ali Ihsan, rangkaian haul belum berakhir. Pada 29–30 Juni 2026 masyarakat melaksanakan ziarah ke sejumlah lembaga pendidikan di Dukuh Jetak. Selanjutnya, pada 1 Juli 2026 digelar prosesi pemasangan luwur baru, ziarah umum, serta pembagian nasi berkah kepada masyarakat.

Puncak peringatan haul akan ditandai dengan penyembelihan seekor kerbau dan beberapa ekor kambing yang kemudian dimasak menjadi nasi barokah untuk dibagikan kepada warga. Seluruh rangkaian kegiatan akan ditutup dengan pengajian umum yang menghadirkan KH. Ahmad Badawi Basyir dari Kudus pada malam 17 Muharam 1448 Hijriah.

Ali Ihsan menuturkan, sejarah makam Mbah Syekh Sultan Kamaludin bermula dari penemuan yang tidak disengaja oleh seorang warga Dukuh Jetak bernama Mbah Ngasiman. Saat itu, Mbah Ngasiman sedang mencangkul tanah hingga menemukan sebuah makam yang kondisinya masih utuh.

Menurut cerita yang diwariskan secara turun-temurun, jasad di dalam makam tersebut masih lengkap beserta kain kafannya. Penemuan itu membuat warga berdatangan ke lokasi, kemudian membersihkan area makam dan melaksanakan salat jenazah sebagai bentuk penghormatan kepada sosok yang dimakamkan.

“Awalnya masyarakat meyakini beliau sebagai Mbah Jogo yang menjaga dan menjadi cikal bakal Dukuh Jetak. Kemudian ada beberapa ulama yang menyampaikan bahwa makam ini merupakan makam Mbah Syekh Sultan Kamaludin,” jelasnya.

Ia mengatakan, keyakinan masyarakat semakin kuat setelah sejumlah tokoh agama, di antaranya Mbah Doro Umar dan seorang wali asal Grabag, Magelang, Mbah Yusuf, menyampaikan bahwa makam tersebut merupakan makam Syekh Sultan Kamaludin. Sejak saat itu, warga secara rutin memperingati haul setiap tanggal 17 Muharam untuk mengenang jasa dan perjuangan beliau.

Ali Ihsan juga mengisahkan asal-usul nama Dukuh Jetak. Berdasarkan cerita yang berkembang di masyarakat, wilayah tersebut dahulu didominasi tanah bergamping berwarna putih yang tampak mencolok dari kejauhan. Dalam bahasa setempat kondisi itu dikenal dengan istilah njet atau ngetak-ngetak, yang kemudian berkembang menjadi nama Jetak.

Selain kisah mengenai asal-usul dukuh, masyarakat juga mewariskan cerita perjalanan Sultan Hadirin yang dikaitkan dengan wilayah Kaliwungu. Berbagai cerita lisan tersebut, menurut Ali Ihsan, menjadi bagian dari identitas masyarakat yang terus dijaga agar sejarah Mbah Syekh Sultan Kamaludin beserta tradisi haulnya tetap lestari di tengah perkembangan zaman. (AS/YM)


Post Views: 12

Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *