0 3 min 3 mths

KUDUS, Liputan7.Net – Pemerintah Provinsi Jawa Tengah memastikan proyek penanganan longsoran di ruas Jalan Kudus–Colo akan mengedepankan aspek keselamatan konstruksi tanpa mengganggu akses menuju kawasan wisata religi Sunan Muria.

Selama masa pekerjaan, jalur utama menuju Colo dipastikan tetap beroperasi karena metode konstruksi dirancang agar tidak memerlukan penutupan jalan secara total.

Kepastian tersebut disampaikan dalam sosialisasi pelaksanaan proyek penanganan longsoran yang digelar Dinas Pekerjaan Umum Bina Marga dan Cipta Karya (DPUBMCK) Provinsi Jawa Tengah di Balai Desa Colo, Kecamatan Dawe, Jumat (10/7/2026).

Kegiatan itu dihadiri Forkopimcam Dawe, Pemerintah Desa Colo, tokoh masyarakat, pelaku wisata, paguyuban, serta penyedia jasa pelaksana.

Staf Teknik DPUBMCK Provinsi Jawa Tengah, Harjono, mengatakan seluruh masyarakat memberikan dukungan terhadap pelaksanaan proyek. Menurutnya, masukan warga dalam sosialisasi menjadi bagian penting agar pekerjaan berjalan lancar tanpa mengganggu aktivitas masyarakat maupun wisatawan.

“Terima kasih kepada warga Colo, terutama yang berada di sekitar lokasi. Semuanya mendukung pelaksanaan penanganan longsoran ini,” ujarnya.

Harjono menjelaskan proyek memiliki masa pelaksanaan selama 180 hari kalender. Namun, durasi tersebut bukan berarti akses menuju kawasan wisata akan ditutup selama enam bulan. Penutupan jalan hanya dilakukan secara terbatas apabila terdapat pekerjaan tertentu yang memang mengharuskan penggunaan badan jalan.

“Penutupan total tidak ada. Kalau memang diperlukan hanya bersifat sementara saat pekerjaan konstruksi tertentu berlangsung, itu pun tidak sampai satu kali 24 jam,” katanya.

Menurutnya, sebagian besar pekerjaan konstruksi akan dilakukan dari sisi bawah lereng, termasuk pemasangan pondasi dan pengecoran struktur bawah. Metode tersebut dipilih agar arus kendaraan menuju kawasan wisata religi tetap berjalan normal.

“Karena ini jalur wisata religi, kami juga memikirkan lalu lintas. Selama pekerjaan bisa dilakukan dari bawah, tentu akan dilakukan dari bawah agar tidak mengganggu pengguna jalan,” jelasnya.

Sementara itu, Staf Teknik CV Tri Jasa Tehnik, Rio, mengungkapkan pihaknya telah melakukan mitigasi sejak dua pekan sebelum kontrak pekerjaan diterima. Persiapan tersebut meliputi koordinasi dengan pemerintah daerah, aparat keamanan hingga berbagai paguyuban yang ada di kawasan Colo.

“Kami sudah melakukan mitigasi hampir dua minggu sebelum kontrak. Sosialisasi hari ini juga mendapat respons sangat baik. Hampir 80 peserta hadir mewakili berbagai unsur masyarakat sehingga seluruh masukan bisa kami tampung,” katanya.

Rio mengakui tantangan terbesar proyek berada pada area kerja yang menjadi satu-satunya akses menuju kawasan wisata Colo. Kondisi tersebut membuat pelaksana harus menyusun metode konstruksi yang berbeda dibanding proyek jalan pada umumnya.

“Jalan ini tidak bisa ditutup dan tidak bisa dialihkan karena merupakan akses utama menuju Colo. Karena itu kami menggunakan metode pekerjaan dari bawah agar aktivitas masyarakat tetap berjalan,” ujarnya. (YM/YM)


Post Views: 17

Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *