0 5 min 5 mths

Kudus, Liputan7.Net – Bidang Perikanan pada Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Kudus mengusulkan sebanyak 22 Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) ke Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) RI untuk mendapatkan bantuan program bioflok tematik bidang perikanan tahun 2026.

Program tersebut diharapkan mampu mendorong peningkatan produksi ikan air tawar di Kabupaten Kudus sekaligus menjadi pemasok kebutuhan protein untuk Program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Kepala Bidang Perikanan Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Kudus, Zaenal Arifin mengatakan, bantuan bioflok tematik merupakan program nasional KKP yang tahun ini menyasar sekitar 4.000 KDMP di seluruh Indonesia.

“Jadi dari program Kementerian Kelautan dan Perikanan Indonesia, ada program bioflok tematik untuk bidang perikanan. Tahun 2026 ini KKP memberikan bantuan sebanyak 4.000 KDMP untuk bantuan bioflok tematik bidang perikanan,” ujarnya.

Di Kabupaten Kudus sendiri, terdapat 22 KDMP yang telah mengakses dan mengajukan usulan bantuan tersebut. Pihaknya berharap mayoritas usulan bisa terealisasi.

“Khusus Kudus sendiri tahun 2026 ini ada 22 KDMP yang mengakses usulan tersebut. Harapan kami dari 22 itu bisa real semua, minimal 20 bisa real,” katanya.

Menurut Zaenal, sebenarnya jumlah KDMP yang bisa diusulkan lebih banyak. Namun dari total 132 KDMP di Kabupaten Kudus, baru 22 yang dinilai siap memenuhi persyaratan program.

“Dari KDMP itu sebenarnya kita bisa mengusahakan lebih, cuma dari kesiapan dari seluruh KDMP, dari 132 KDMP itu hanya 22 yang siap,” jelasnya.

Ia memaparkan, terdapat sejumlah spesifikasi dan syarat yang harus dipenuhi oleh KDMP penerima bantuan bioflok. Di antaranya memiliki lahan minimal 1.000 meter persegi, sumber air yang mencukupi untuk budidaya, serta legalitas usaha yang lengkap.

“Yang pertama mengenai lahan, dibutuhkan lahan 1.000 meter. Yang kedua air, ada kecukupan air untuk budidaya tersebut,” ungkapnya.

Selain itu, kelompok juga wajib memiliki Nomor Induk Berusaha (NIB) dengan klasifikasi KBLI budidaya air tawar.

“KDMP itu juga harus punya KBLI, jadi harus ada izin usahanya. Yang tercantum di NIB itu KBLI-nya 03221, budidaya air tawar,” imbuhnya.

Tak hanya itu, KDMP pengusul juga harus memiliki kesiapan kelembagaan dan rekam jejak usaha budidaya perikanan agar bantuan yang diberikan benar-benar dapat dimanfaatkan secara optimal.

Berdasarkan data usulan, 22 KDMP tersebut tersebar di delapan kecamatan, yakni Dawe, Bae, Jekulo, Undaan, Kaliwungu, Kota, Jati dan Mejobo.

Beberapa KDMP yang diusulkan di antaranya KDMP Puyoh, Karangbener, Panjang, Purworejo, Dersalam, Bacin, Pedawang, Gondangmanis, Wates, Honggosoco, Gondoharum, Bulung Kulon, Hadipolo, Pladen, Tanjungrejo, Klaling, Wergu Kulon, Burikan, Jati Kulon, Blimbing Kidul, Mijen dan Payaman.

Zaenal menyebut, bantuan yang diterima nantinya tidak hanya berupa pembangunan instalasi budidaya, tetapi juga sarana produksi lengkap.

“Bantuannya nanti berupa pembangunan instalasi, jadi nanti dibangunkan tempat budidayanya. Kemudian bantuan kolam bundar terpal diameter empat meter sebanyak 24 kolam,” jelasnya.

Selain itu, setiap KDMP juga akan mendapatkan bantuan benih ikan hingga sekitar 50 ribu ekor dan pakan untuk satu siklus budidaya.

“Bibit nanti sekitar 50 ribu. Kemudian bantuan instalasi dan pakannya diberikan satu siklus,” katanya.

Untuk jenis ikan yang dibudidayakan, KDMP diberi pilihan antara ikan nila maupun lele sesuai kesiapan kelompok.

“Kemarin KDMP diberikan keleluasaan, bisa nila atau lele. Dari KKP hanya dua itu karena kesiapan bibitnya tersedia,” ujarnya.

Ia berharap keberadaan sentra budidaya ikan di tiap KDMP nantinya mampu memperkuat ketahanan pangan berbasis protein hewani di Kabupaten Kudus.

“Harapannya dengan adanya bantuan bioflok bidang perikanan itu bisa meningkatkan produksi perikanan. Dengan meningkatnya produksi perikanan nanti bisa mensuplai dan mendukung rantai pasok SPPG membantu MBG,” terangnya.

Menurutnya, program tersebut juga menjadi langkah awal agar kebutuhan protein ikan untuk dapur MBG di Kudus bisa dipenuhi dari hasil budidaya lokal.

“Harapannya nanti setiap kabupaten bisa memanfaatkan budidaya lokal untuk mensuplai. Memang belum bisa mencukupi seluruh kebutuhan, tapi minimal kita sedang mengawal dan program ini nanti berlanjut,” katanya.

Ia menambahkan, keberadaan protein ikan sangat penting untuk memberikan variasi menu bergizi bagi anak-anak.

“Ke depan nanti bisa berimbang dengan protein lain, perikanan dan peternakan. Jadi anak-anak tidak hanya makan ayam terus, ada selingan protein dari ikan,” tandasnya. (YM/YM)


Post Views: 12

Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *