KUDUS, Liputan7.Net – Sebanyak 81 balon membumbung ke langit Kecamatan Dawe, Kabupaten Kudus, Kamis (3/9/2026). Pelepasan balon tersebut menandai pembukaan Festival Tunas Bahasa Ibu (FTBI) tingkat Korwilcam Dawe yang diikuti 432 siswa sekolah dasar.
Penerbangan 81 balon bukan sekadar seremoni pembukaan. Angka tersebut dipilih bertepatan dengan momentum HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia sekaligus menjadi simbol semangat generasi muda untuk menjaga dan melestarikan bahasa serta budaya Jawa.
Festival yang berlangsung di Aula Korwilcam Dawe, SD 6 Cendono, dan SD 1 Cendono itu diikuti peserta dari berbagai sekolah dasar di wilayah Korwilcam Dawe.
432 Siswa Ikuti Tujuh Cabang Lomba
Para siswa berkompetisi dalam tujuh cabang perlombaan, yakni sesorah, geguritan, macapat, ndagel ijen, nulis cerkak, nulis langsung maca aksara Jawa, dan ndongeng.
Suasana festival berlangsung meriah. Para peserta menunjukkan keberanian dan kreativitas saat menggunakan bahasa Jawa. Ada yang tampil berpidato melalui sesorah, membawakan geguritan dan macapat, melucu dalam ndagel ijen, hingga menunjukkan kemampuan menulis dan membaca aksara Jawa.
Bagi para peserta, berbagai cabang lomba tersebut bukan hanya menjadi ajang untuk meraih prestasi. Kegiatan itu juga menjadi ruang bagi siswa untuk berani tampil, berekspresi, sekaligus mengenal lebih dekat kekayaan bahasa dan budaya daerah.
Ketua panitia FTBI tingkat Korwilcam Dawe sekaligus Ketua KKG Kelas Korwilcam Dawe, Syaefudin, S.Pd., M.Pd., mengatakan kegiatan tersebut tidak semata-mata bertujuan mencari pemenang.
Menurutnya, FTBI menjadi bagian dari upaya menanamkan kecintaan terhadap bahasa dan budaya Jawa kepada generasi muda.
“Semangat mengikuti kegiatan ini dan tetap melestarikan budaya dan bahasa Jawa. Menang dan kalah itu hal yang biasa. Yang paling penting adalah prosesnya,” ujar Syaefudin.
Ia menilai keberanian siswa untuk tampil dalam berbagai cabang lomba merupakan bagian penting dari proses pembelajaran. Melalui proses tersebut, anak-anak belajar percaya diri, berani berekspresi, menghargai orang lain, sekaligus mengenal kekayaan budaya daerahnya.
Syaefudin juga mengingatkan para peserta agar menjunjung tinggi sportivitas. Hasil perlombaan, menurut dia, hendaknya diterima dengan lapang dada dan dijadikan pengalaman untuk terus belajar.
FTBI Jadi Ruang Merawat Bahasa Ibu
Korwilcam Dawe Susanti, S.Pd., M.Pd., secara resmi membuka kegiatan tersebut. Pembukaan ditandai dengan penerbangan 81 balon yang disambut antusias oleh peserta dan panitia.
Momentum itu menjadi bagian dari pesan utama FTBI: memperkenalkan bahasa Jawa kepada generasi muda melalui kegiatan yang menyenangkan dan kompetitif.
Bahasa Jawa hadir dalam berbagai bentuk perlombaan, mulai dari sesorah, geguritan, macapat, ndongeng, nulis cerkak, ndagel ijen, hingga aksara Jawa. Keragaman tersebut menunjukkan bahwa bahasa dan budaya lokal dapat menjadi bagian dari aktivitas belajar yang dekat dengan dunia anak-anak.
Melalui FTBI, para siswa diharapkan tidak hanya mengenal bahasa Jawa sebagai bagian dari pembelajaran di sekolah, tetapi juga tumbuh rasa bangga untuk menggunakannya.
Pelestarian bahasa ibu pada akhirnya bukan sekadar mempertahankan kata-kata yang diwariskan dari generasi sebelumnya. Bahasa juga menjadi bagian dari identitas dan jembatan yang menghubungkan generasi muda dengan akar budayanya.
Dengan 432 siswa yang ambil bagian, FTBI tingkat Korwilcam Dawe menjadi salah satu ruang bagi pelajar untuk belajar, berkompetisi, dan menumbuhkan kecintaan terhadap bahasa serta budaya Jawa. (*)
Post Views: 11
