0 4 min 1 hr

KUDUS, Liputan7.Net – Persoalan sampah plastik mendorong Benny Haryanto (49), warga Desa Rendeng, Kecamatan Kota, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, untuk berinovasi. Bermodalkan sejumlah barang bekas, ia membuat alat mini pirolisis yang mampu mengolah sampah plastik menjadi cairan bahan bakar yang disebutnya setara bensin.

Benny, sapaan akrabnya, membuat sendiri alat mini pirolisis tersebut. Menariknya, alat itu tidak dibuat dari perangkat khusus berharga mahal, melainkan memanfaatkan berbagai barang bekas yang ada di sekitarnya.

Di antaranya kaleng biskuit, kaleng obat nyamuk, toples bekas, galon bekas hingga oli bekas. Peralatan sederhana tersebut dirangkai sedemikian rupa untuk menjalankan proses pengolahan sampah plastik melalui pemanasan tanpa oksigen atau pirolisis.

Benny Haryanto (49) warga Desa Rendeng, Kecamatan Kota, Kabupaten Kudus. (Foto: Istimewa)

“Di sini banyak sampah plastik. Saya tertarik untuk melakukan inovasi mengubah plastik ini menjadi bensin. Walaupun sampai saat ini masih dalam tahap percobaan. Belum saya gunakan ke sepeda motor,” kata Benny, Rabu (7/10/2026).

Benny menjelaskan, uji coba yang telah dilakukan sejauh ini masih sebatas melihat karakteristik hasil olahan dengan cara membakarnya menggunakan korek api. Cairan hasil penyulingan tersebut dapat terbakar, namun ia belum memastikan penggunaannya sebagai bahan bakar kendaraan.

Dalam waktu dekat, Benny berencana melakukan pengujian lebih lanjut. Ia ingin mengetahui apakah bahan bakar hasil pengolahan sampah plastik tersebut dapat digunakan pada sepeda motor.

Untuk menghasilkan minyak mentah, sampah plastik terlebih dahulu dimasukkan ke dalam kaleng biskuit. Sampah kemudian dipanaskan sehingga menghasilkan uap yang dialirkan melalui pipa menuju alat pendingin yang dibuat dari kaleng obat nyamuk bekas.

“Kaleng obat nyamuk ini fungsinya sebagai pendingin. Ini saya lubangi untuk dimasukkan es. Fungsinya mengubah uap menjadi cairan,” terangnya.

Uap yang telah mengalami pendinginan kemudian berubah menjadi cairan dan ditampung dalam toples bekas. Cairan tersebut selanjutnya belum langsung digunakan sebagai bahan bakar, melainkan kembali melalui proses penyulingan menggunakan alat mini pirolisis kedua.

Pada tahap kedua, minyak mentah dimasukkan ke dalam toples berukuran kecil. Cairan tersebut kemudian dipanaskan menggunakan kompor listrik mini. Dari proses penyulingan tersebut, cairan menetes dan ditampung menggunakan botol saus bekas berukuran mini.

Menurut Benny, proses dari sampah plastik mulai dipanaskan hingga menghasilkan minyak mentah membutuhkan waktu sekitar 1,5 jam. Sementara proses berikutnya untuk mengolah minyak mentah menjadi bahan bakar setara bensin membutuhkan waktu sekitar 30 menit.

Dari satu kaleng biskuit yang diisi sekitar 0,3 kilogram sampah plastik, Benny menyebut dapat menghasilkan sekitar 40 mililiter bahan bakar setara bensin. Hasil tersebut masih relatif sedikit karena alat yang digunakan berukuran mini dan dibuat secara mandiri.

“Hasilnya memang masih sedikit karena saya menggunakan alat mini pirolisis yang saya buat sendiri. Kalau ada alat pirolisis yang besar, hasil bahan bakar setara bensinnya juga bisa lebih banyak,” jelasnya.

Selain melakukan eksperimen pengolahan sampah plastik, Benny juga mengelola Bank Sampah Karya Lestari di lingkungan tempat tinggalnya. Bank sampah tersebut saat ini fokus menangani sampah anorganik yang masih dapat dikelola dan dimanfaatkan.

Sementara untuk sampah organik, pihaknya bekerja sama dengan Kudus Asik yang diinisiasi Bakti Lingkungan Djarum Foundation. Kerja sama tersebut telah berjalan sejak Mei 2026, mengingat volume sampah organik di Desa Rendeng masih cukup banyak.

“Sampah organiknya kerja sama dengan Kudus Asik sudah sejak Mei 2026. Alasannya karena sampah organik di Desa Rendeng masih banyak,” ujarnya.

Bagi Benny, inovasi mengolah sampah plastik menjadi bahan bakar bukan semata-mata tentang menghasilkan produk baru. Lebih dari itu, ia ingin menunjukkan bahwa persoalan sampah membutuhkan keterlibatan masyarakat dan dapat dimulai dari lingkungan masing-masing.

Ia berharap masyarakat semakin sadar pentingnya memilah sampah sejak dari rumah. Menurutnya, pemilahan menjadi langkah awal agar sampah organik dan anorganik dapat ditangani sesuai jenis dan potensinya.

“Harapan saya tentu warga mau memilah sampah, karena sampah kan ada organik dan anorganik,” imbuhnya. (YM/YM)


Post Views: 26

Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *