0 6 min 2 mths

KUDUS, Liputan7.Net – Nuansa perjuangan tempo dulu mewarnai peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia di Kabupaten Kudus. Ratusan penggiat sepeda tua atau onthelis tampil mengenakan pakaian bernuansa pejuang saat mengikuti upacara bendera di kompleks Gelanggang Olahraga (GOR) Wergu Wetan, Kudus, Senin (17/8).

Sekitar 200 orang turut meramaikan kegiatan tersebut. Peserta tidak hanya berasal dari komunitas sepeda tua di Kudus, tetapi juga masyarakat umum yang ingin ikut memeriahkan suasana kemerdekaan.

Selain upacara pengibaran bendera, panitia menyiapkan sejumlah kegiatan untuk membuat perayaan semakin semarak. Peserta mengikuti lomba makan kerupuk, bernyanyi bersama, serta menyaksikan atraksi obor yang menjadi bagian dari rangkaian acara.

Ketua Onthelis Onthelista Indonesia (OOI) Jawa Tengah, Yon Sugiyanto, menyampaikan bahwa kegiatan tersebut menjadi agenda tahunan komunitas dalam memperingati Hari Kemerdekaan. Menurut dia, kegiatan bukan sekadar perayaan, tetapi juga menjadi kesempatan bagi para penggemar sepeda tua untuk saling bertemu.

“Tujuannya untuk mempererat persaudaraan, mempersatukan. Tidak ada tendensi apa-apa, untuk menanamkan rasa cinta tanah air,” kata Yon, Senin (17/8).

Ia menyebut, peserta dari kalangan penggiat sepeda tua yang mengikuti kegiatan tersebut mencapai sekitar 150 orang. Kehadiran 44 anggota paduan suara kemudian membuat jumlah keseluruhan peserta berada di kisaran 200 orang.

Yon menuturkan, kegiatan para komunitas sepeda tua di Kudus sebenarnya berlangsung sepanjang tahun. Mereka tidak hanya berkumpul ketika ada momentum peringatan nasional, tetapi memiliki agenda rutin setiap Minggu.

Lokasi pertemuan pun berbeda sesuai dengan kelompok masing-masing. Sejumlah komunitas memilih Alun-Alun Kudus, GOR Wergu, kawasan Oasis, hingga lingkungan sekitar Menara Kudus sebagai titik berkumpul.

“Kalau Minggu kumpulnya bermacam-macam. Ada yang di alun-alun, ada yang di GOR, ada yang di Oasis, sesuai klubnya masing-masing. Setelah itu putar-putar sebentar, kemudian pulang,” ungkapnya.

Dalam kegiatan rutin tersebut, para anggota biasanya menempuh rute sekitar lima kilometer. Setelah bersepeda, mereka kembali berkumpul untuk berbincang santai sembari menikmati minuman.

Yon menilai, komunitas sepeda tua memiliki tantangan tersendiri di tengah masyarakat yang semakin mengandalkan kendaraan bermotor. Karena itu, keberadaan komunitas diharapkan dapat ikut menjaga eksistensi sepeda lawas sebagai bagian dari hobi sekaligus warisan masa lalu.

Ia mengatakan, keikutsertaan seseorang dalam komunitas lebih banyak berawal dari ketertarikan pribadi. Selain memberikan kesenangan, bersepeda juga dianggap memiliki manfaat praktis karena dapat mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar minyak.

“Ini hanya kesadaran. Saya sendiri sudah tua, arahnya ke mana. Kebetulan punya sepeda, kemudian ikut ngonthel. Istilahnya juga bisa menghemat BBM,” ujarnya.

Menurut Yon, sepeda tua mempunyai daya tarik tersendiri karena menyimpan nilai sejarah. Hal tersebut membuat para pemiliknya tidak sekadar menggunakan sepeda, tetapi juga berusaha mempertahankan dan merawatnya agar tetap dalam kondisi baik.

Komunitas sepeda tua juga menjadi ruang untuk membangun relasi antarwarga. Perbedaan kelompok dan latar belakang tidak menghalangi mereka untuk berkumpul serta menjalankan kegiatan bersama.

“Untuk melestarikan sepeda tua, kita memang berusaha untuk bersaudara semuanya, kumpul jadi satu. Melalui sepeda tua, kita tetap bersaudara. Satu rasa, satu sepeda, satu onthel, semuanya saudara,” jelas Yon.

Penggunaan pakaian bernuansa pejuang dalam peringatan kemerdekaan juga memiliki makna tersendiri bagi komunitas. Yon menyebut konsep tersebut dipilih untuk membawa peserta lebih dekat dengan gambaran perjuangan masyarakat Indonesia pada masa lalu.

Menurutnya, kondisi transportasi pada zaman perjuangan sangat terbatas. Banyak pejuang harus berjalan kaki untuk berpindah dari satu tempat ke tempat lain. Karena itu, penggunaan sepeda onthel menjadi simbol sederhana untuk mengenang keterbatasan tersebut.

“Seperti peringatan ini untuk mengingatkan. Para pejuang dulu jalan kaki. Paling tidak dengan sepeda, kita ikut merasakan perjuangan,” tuturnya.

Dari berbagai koleksi yang dimiliki anggota, sebagian besar sepeda merupakan produksi sebelum 1960. Jenis yang dipertahankan komunitas adalah sepeda onthel, berbeda dengan sepeda jengki, sepeda balap, maupun kendaraan roda dua modern.

Sejumlah anggota bahkan memiliki sepeda yang diproduksi pada 1954 dan 1956. Koleksi tersebut tetap dirawat karena memiliki nilai sejarah dan menjadi bagian dari kecintaan terhadap sepeda lawas.

Salah satu sepeda yang dimiliki anggota diketahui dibuat pada 1938. Sepeda tersebut pernah mendapatkan penawaran hingga Rp48 juta, tetapi pemiliknya tidak melepas karena memiliki rencana untuk menjadikannya sebagai koleksi museum.

“Yang paling tua ada yang tahun 1938. Sudah ditawar Rp48 juta, tetapi tidak dilepas karena mau dimuseumkan,” ujar Yon.

Saat ini, komunitas sepeda tua yang aktif di Kudus diperkirakan berjumlah lima hingga enam kelompok. Setiap komunitas mempunyai titik berkumpul masing-masing, di antaranya Alun-Alun Simpang Tujuh, Balai Jagong Kudus, Menara Kudus, dan kawasan Oasis.

Menurut Yon, banyaknya komunitas justru menjadi keuntungan bagi para penggemar onthel. Meskipun memiliki kelompok berbeda, mereka tetap dapat menjalin komunikasi dan mengikuti kegiatan bersama.

Perayaan HUT ke-81 RI di GOR Wergu Wetan akhirnya berlangsung dalam suasana penuh kebersamaan. Setelah upacara, peserta menikmati berbagai kegiatan hiburan dan perlombaan yang membuat suasana semakin meriah.

Yon berharap semangat tersebut terus terjaga. Baginya, sepeda tua bukan hanya benda peninggalan masa lalu, tetapi juga menjadi sarana untuk merawat sejarah, mempererat persaudaraan, serta menumbuhkan rasa nasionalisme di tengah masyarakat. (AS/YM)


Post Views: 17

Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *