KUDUS, Liputan7.Net – Keterbatasan fisik tidak menghalangi penyandang disabilitas di Kabupaten Kudus untuk mengambil bagian dalam perayaan kemerdekaan. Sekitar 100 penyandang disabilitas bersama anak berkebutuhan khusus (ABK) mengikuti upacara bendera HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia di halaman Balai Desa Mlati Lor, Kecamatan Kota, Kudus, Senin (17/8).
Kegiatan yang digelar Forum Komunikasi Disabilitas Kudus (FKDK) tersebut diikuti peserta dari berbagai ragam disabilitas. Sejumlah peserta tampak mengikuti upacara dengan menggunakan kursi roda maupun alat bantu berupa kruk.
Tidak hanya menjadi peserta, penyandang disabilitas juga dipercaya menjalankan sejumlah tugas dalam upacara. Bahkan, seluruh petugas pengibar bendera berasal dari penyandang disabilitas yang menggunakan kursi roda.
Ketua FKDK Kudus, Rismawan Yulianto, yang bertindak sebagai pemimpin upacara mengatakan kegiatan tersebut menjadi momentum untuk membangkitkan semangat penyandang disabilitas dalam memperjuangkan hak-haknya. Ia juga mengajak para peserta menjadikan peringatan kemerdekaan sebagai dorongan untuk terus berkontribusi bagi masyarakat.
“Alhamdulillah, ternyata kita mampu mengikuti upacara ini,” kata Rismawan, Senin (17/8).
Menurut Rismawan, pelaksanaan upacara sekaligus menjadi media untuk mengenalkan nilai nasionalisme kepada anak-anak berkebutuhan khusus. Dengan terlibat secara langsung, mereka diharapkan dapat memahami makna kemerdekaan dan menumbuhkan rasa cinta kepada Indonesia.
Ia menegaskan, keterbatasan fisik bukan alasan bagi penyandang disabilitas untuk tidak terlibat dalam kegiatan kebangsaan. Melalui upacara tersebut, mereka ingin memperlihatkan kepada masyarakat bahwa penyandang disabilitas tetap mampu menjalankan peran dalam kegiatan resmi.
“Kami ingin menunjukkan bahwa meskipun memiliki keterbatasan, teman-teman disabilitas tetap mampu mengibarkan bendera dan menjalankan tugas sebagai petugas upacara,” ujarnya.
Rismawan menjelaskan, pelaksanaan upacara memang dibuat menyesuaikan kondisi para peserta. Pola barisan tidak dibuat seperti upacara pada umumnya karena sebagian peserta menggunakan kursi roda maupun alat bantu lainnya.
Bagi FKDK, kata dia, keseragaman gerakan bukan menjadi hal utama. Yang lebih penting adalah memberikan ruang kepada penyandang disabilitas agar dapat mengikuti upacara secara khidmat dan merasakan langsung suasana peringatan kemerdekaan.
“Selama ini dari berbagai cerita yang saya dengar, teman-teman disabilitas belum pernah mengikuti upacara. Kami ingin mereka juga merasakan bagaimana bisa berkontribusi untuk negara, meskipun sederhana, salah satunya lewat upacara,” tuturnya.
Untuk mempersiapkan kegiatan tersebut, FKDK telah beberapa kali melakukan latihan dan kegiatan serupa. Sementara gladi bersih untuk pelaksanaan upacara kali ini baru dilakukan sehari sebelum acara berlangsung.
Meski waktu persiapannya singkat, Rismawan menyebut para petugas dapat memahami tanggung jawab masing-masing. Seluruh rangkaian upacara pun dapat terlaksana tanpa kendala berarti.
“Alhamdulillah, teman-teman langsung memahami tugas masing-masing dan tanpa kesulitan kami bisa melaksanakan kegiatan ini,” ungkapnya.
Ia berharap kegiatan tersebut mampu mengubah pandangan masyarakat terhadap penyandang disabilitas. Menurutnya, kesempatan untuk berpartisipasi perlu diberikan karena mereka juga mempunyai kemampuan untuk terlibat dalam berbagai kegiatan sosial dan kemasyarakatan.
FKDK juga mendorong pemerintah daerah agar semakin membuka ruang bagi penyandang disabilitas dalam berbagai kegiatan resmi. Keterlibatan tersebut dinilai penting untuk mewujudkan lingkungan yang lebih inklusif.
“Harapannya pemerintah daerah semakin terbuka melibatkan kami, baik dalam upacara maupun kegiatan lainnya. Ternyata kami mampu menyelenggarakan upacara ini,” kata Rismawan.
Usai upacara, kegiatan peringatan kemerdekaan dilanjutkan dengan ziarah dan tabur bunga di Makam Pahlawan Kaliputu. FKDK juga menggelar sejumlah perlombaan yang dirancang agar dapat diikuti peserta dengan beragam kondisi fisik.
Beberapa permainan yang disiapkan antara lain balap kelereng menggunakan kursi roda, memasukkan caping ke dalam lubang, lomba makan kerupuk, serta merias wajah secara berpasangan. Seluruh perlombaan dikemas dengan konsep yang menyesuaikan kemampuan peserta.
Nuansa keberagaman juga terlihat dari pakaian yang dikenakan sejumlah peserta perempuan. Mereka tampil menggunakan busana adat dari berbagai daerah di Indonesia sebagai bagian dari upaya mengenalkan kekayaan budaya kepada anak-anak berkebutuhan khusus.
Salah satu petugas pembawa baki bendera Merah Putih, Indriyati, mengaku sempat merasa gugup ketika menjalankan tugas. Kekhawatiran terutama muncul saat proses pengibaran bendera karena ia takut posisi bendera tidak sesuai.
Untuk memastikan tugasnya berjalan lancar, Indriyati mengaku telah melakukan latihan sehari sebelum upacara. Persiapan tersebut menjadi bekal baginya untuk menjalankan tugas hingga seluruh rangkaian pengibaran bendera selesai. (AS/YM)
Post Views: 29
