0 5 min 2 mths

KUDUS, Liputan7.Net – Dinas Kearsipan dan Perpustakaan (Dinarpus) Kabupaten Kudus terus mengembangkan berbagai inovasi untuk meningkatkan minat masyarakat datang ke perpustakaan. Salah satunya dengan menghadirkan Duta Baca Indonesia Gol A Gong dalam rangkaian Safari Literasi Jawa di Gedung Layanan Perpustakaan Umum Kabupaten Kudus, Selasa (18/8/2026).

Kehadiran Gol A Gong tidak sekadar menjadi agenda literasi, tetapi dimanfaatkan Dinarpus Kudus sebagai upaya memberikan motivasi kepada masyarakat agar menjadikan membaca dan menulis sebagai bagian dari aktivitas sehari-hari.

Kepala Dinarpus Kabupaten Kudus Mutrikah mengatakan, pihaknya sengaja menghadirkan berbagai kegiatan kreatif untuk menjadikan perpustakaan sebagai ruang yang lebih menarik bagi masyarakat. Menurutnya, perpustakaan harus mampu mengikuti perkembangan zaman, terutama di tengah kebiasaan generasi muda yang semakin banyak mengakses informasi melalui gawai.

“Kami sangat senang karena mendapat kesempatan mengundang beliau dan hadir bersama kita semuanya untuk memberikan semangat kepada masyarakat Kudus agar mempunyai budaya membaca atau budaya literasi,” katanya.

Mutrikah mengungkapkan, Dinarpus Kudus saat ini tidak hanya berfokus pada penyediaan buku. Berbagai program juga disiapkan untuk menghidupkan aktivitas di perpustakaan sekaligus memperluas keterlibatan masyarakat.

Pihaknya menggandeng sejumlah komunitas dan lembaga dalam berbagai kegiatan literasi. Di antaranya lembaga pendidikan, komunitas budaya dan pariwisata, penggiat literasi, penulis, komunitas yang bekerja sama dengan perusahaan, hingga kelompok penyandang disabilitas.

“Ini memberikan satu warna tersendiri bagi masyarakat secara luas bahwa di perpustakaan sekarang ada kegiatan-kegiatan inovatif yang bisa menjadi magnet masyarakat untuk datang ke perpustakaan dan membaca buku,” ujarnya.

Rangkaian Safari Literasi Jawa di Kudus diawali dengan bimbingan teknis kepada para penggiat literasi. Pesertanya berasal dari perpustakaan desa, penggiat literasi di sejumlah kecamatan, serta para penulis yang sebelumnya mengikuti pelatihan.

Setelah itu, kegiatan dilanjutkan dengan talkshow bertema “Proses Kreatif di Balik Sebuah Buku”, pembacaan puisi, serta musik akustik. Dinarpus juga menghadirkan bazar buku serta bazar makanan dan minuman untuk membuat suasana perpustakaan semakin hidup.

Mutrikah berharap kegiatan tersebut dapat mendorong masyarakat untuk tidak hanya membaca, tetapi juga berani menghasilkan karya. Kehadiran Gol A Gong dinilai memberikan motivasi sekaligus pengalaman praktis kepada para peserta mengenai proses kreatif dalam menulis.

“Antusiasnya sangat luar biasa. Pak Gong memberikan trik-trik bagaimana membuat sebuah karya atau membuat tulisan,” ungkapnya.

Menurut Mutrikah, budaya literasi memiliki kaitan erat dengan kemampuan masyarakat dalam mempersiapkan masa depan. Karena itu, perpustakaan diharapkan dapat menjadi tempat masyarakat memperoleh pengetahuan sekaligus mengembangkan keterampilan.

“Bagaimana masyarakat bisa meraih masa depan gemilang? Datang di perpustakaan. Ini yang menginspirasi kami, bagaimana masyarakat bisa meningkatkan kemampuan dan keterampilannya untuk masa depan,” jelasnya.

Sementara itu, Duta Baca Indonesia Gol A Gong mengatakan bahwa kegiatan Safari Literasi merupakan salah satu program yang dijalankannya untuk mendekatkan budaya membaca dan menulis kepada masyarakat di berbagai daerah.

Ia mengatakan Safari Literasi Jawa berlangsung mulai 7 Juli hingga 1 September 2026 dengan menyasar sekitar 29 kota. Setiap daerah diisi dengan berbagai kegiatan, mulai dari diskusi, pembacaan puisi, seminar literasi, pelatihan, hingga bimbingan teknis.

Gol A Gong mengaku terkesan dengan rangkaian kegiatan literasi yang disiapkan Dinarpus Kudus. Dalam satu kunjungan, kegiatan yang diikutinya cukup padat, mulai dari bimbingan teknis pada pagi hari, talkshow dan kegiatan literasi pada sore hingga malam hari, serta pelatihan menulis fiksi mini di SMP Negeri 1 Jati pada Rabu (19/8/2026).

Ia juga menegaskan anggapan bahwa minat baca masyarakat Indonesia rendah tidak sepenuhnya benar. Berdasarkan pengalamannya selama bertahun-tahun berkeliling Indonesia, ia justru melihat masyarakat memiliki keinginan besar untuk membaca.

“Saya tahu sekali, saya saksi hidup bahwa masyarakat Indonesia itu minat bacanya tinggi. Hanya negara belum sanggup memenuhi hasrat itu,” katanya.

Menurutnya, persoalan literasi di Indonesia lebih banyak dipengaruhi keterbatasan ketersediaan buku, akses perpustakaan yang belum merata, serta sarana dan prasarana literasi yang masih terbatas di sejumlah daerah, terutama wilayah Indonesia bagian timur.

Ia menilai perpustakaan daerah memiliki posisi penting dalam menjembatani kebutuhan masyarakat terhadap bahan bacaan. Karena itu, dukungan terhadap perpustakaan dan program literasi harus tetap diperkuat.

Gol A Gong juga melihat adanya perkembangan positif dari masyarakat yang mulai memproduksi buku secara mandiri. Guru, siswa, penulis, dan komunitas kini semakin banyak menghasilkan karya tanpa harus selalu bergantung pada penerbit besar.

“Saya datang ke satu kota di Kalimantan, meluncurkan 700 buku yang ditulis guru dan murid. Kalau dikasihkan ke penerbit besar, menunggu antre lama. Nah, itu sedang tumbuh,” ujarnya.

Ia berharap gerakan literasi yang dilakukan di berbagai daerah, termasuk Kudus, dapat terus berkembang. Menurutnya, membaca memberikan pengetahuan, sedangkan menulis menjadi sarana bagi masyarakat untuk menghasilkan gagasan dan karya.

Melalui Safari Literasi Jawa tersebut, Gol A Gong mengajak masyarakat untuk tidak terjebak pada anggapan bahwa budaya baca di Indonesia rendah. Sebaliknya, menurut dia, yang perlu diperkuat adalah ekosistem yang membuat masyarakat mudah memperoleh buku, mengakses perpustakaan, serta memiliki ruang untuk membaca dan berkarya. (AS/YM)


Post Views: 27

Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *