KUDUS, Liputan7.Net – Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Kudus menggelar halaqoh dalam rangka memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW sekaligus menyambut Hari Jadi ke-477 Kudus. Kegiatan tersebut mengangkat tema “Membangun Kudus yang Religius dan Modern dengan Nilai-Nilai GUSJIGANG.”
Halaqoh berlangsung di Aula Mubarakfood Cipta Delicia, Kudus, Sabtu (26/9/2026). Kegiatan tersebut menghadirkan sejumlah tokoh, di antaranya Ketua MUI Jawa Tengah Prof. Dr. KH. Noor Achmad, Rektor IAIN Kudus Prof. Dr. KH. Abdulrohman Kasdi, serta KH. Supriyanto atau Mbah Riyan Al-Jawi.
Ketua panitia yang juga Wakil Ketua MUI Kabupaten Kudus, H. Su’udi, mengatakan kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya MUI untuk ikut berperan dalam pembangunan Kabupaten Kudus.
“Dalam rangka menyambut Hari Jadi Kota Kudus, kami berharap MUI tetap ikut berperan sehingga pembangunan Kudus yang modern dan religius bisa tercapai,” katanya, Sabtu (26/9/2026).
Menurutnya, halaqoh tersebut juga menjadi ruang untuk memberikan pencerahan kepada masyarakat melalui pembahasan keagamaan dan berbagai persoalan yang berkembang.
Su’udi menjelaskan, pihaknya sengaja menghadirkan sejumlah narasumber dengan latar belakang dan keahlian yang berbeda. Salah satunya Prof. Dr. KH. Noor Achmad selaku Ketua MUI Jawa Tengah.
Selain itu, MUI Kudus menghadirkan KH. Supriyanto atau Mbah Riyan Al-Jawi yang dikenal aktif melakukan tahqiq terhadap kitab-kitab turats. Kehadirannya diharapkan dapat memberikan wawasan mengenai khazanah keilmuan Islam, termasuk kaitannya dengan sejarah dan nilai-nilai yang berkembang di Kudus.
“Beliau produktif mentahkiq kitab-kitab turats. Kitab-kitabnya bahkan dibaca di tingkat internasional. Nanti beliau akan menyampaikan tentang turats wali sholeh yang tentu saja menyangkut Sunan Kudus,” jelasnya.
Su’udi menambahkan, kegiatan tersebut diikuti pengurus MUI serta ketua dan sekretaris MUI tingkat kecamatan. Jumlah peserta yang hadir mencapai sekitar 130 orang dan memenuhi aula kegiatan.
Ia juga menyampaikan apresiasi karena Bupati Kudus Sam’ani Intakoris dapat hadir sekaligus menjadi keynote speaker dalam kegiatan tersebut.
“Alhamdulillah Pak Bupati bisa hadir. Kami juga bersyukur karena kegiatan ini mendapat antusiasme yang baik,” ujarnya.
Sementara itu, Ketua MUI Jawa Tengah Prof. Dr. KH. Noor Achmad mengatakan halaqoh tersebut memiliki nilai penting karena mengangkat gagasan pembangunan Kudus yang tetap mempertahankan karakter religius sekaligus mampu mengikuti perkembangan zaman.
Menurutnya, tema tersebut selaras dengan nilai-nilai yang diwariskan Sunan Kudus, khususnya mengenai akhlakul karimah yang bersifat inklusif.
“Nilai-nilai GUSJIGANG itu merupakan ajaran Kanjeng Sunan Kudus. Akhlakul karimah dalam konteks ini adalah akhlak yang inklusif, karena ajaran Kanjeng Sunan Kudus sangat inklusif,” ungkapnya.
Ia menjelaskan, Kudus memiliki sejumlah potensi yang dapat dikembangkan, mulai dari bidang keagamaan, pendidikan, hingga perdagangan. Potensi tersebut terlihat dari banyaknya pesantren Al-Qur’an maupun pesantren kitab yang berkembang di Kudus.
Selain itu, Kudus juga memiliki berbagai produk unggulan dan identitas ekonomi masyarakat, seperti jenang, kretek, ukir, dan bordir.
“Potensi yang ada di Kudus, baik yang terkait akhlakul karimah, ngaji, maupun perdagangan, sebenarnya memiliki kekuatan untuk dikembangkan hingga tingkat internasional,” jelasnya.
Untuk mewujudkan hal tersebut, menurut Noor Achmad, diperlukan kolaborasi antarberbagai potensi yang ada. Dunia usaha, komunitas, masyarakat, pendidikan, serta sektor lainnya perlu membangun komunikasi dan kerja sama agar potensi lokal dapat berkembang lebih luas.
Ia mencontohkan potensi seni ukir Kudus yang memiliki sejarah panjang dan karakter tersendiri. Potensi tersebut dinilai dapat terus dikembangkan sehingga memiliki jangkauan pasar yang lebih luas.
“Bagaimana semua potensi ini dikembangkan untuk internasional? Caranya dengan membangun kekuatan bersama,” katanya.
Noor Achmad juga menyebut perkembangan modernisasi perlu berjalan beriringan dengan penguatan karakter religius masyarakat. Menurutnya, digitalisasi, konsep smart city, jaringan internasional, hingga pengembangan pendidikan harus tetap berpijak pada nilai akhlakul karimah dan inklusivitas.
“Kotanya menjadi smart city, digitalisasi semuanya, jaringan-jaringan internasional dibuka, sekolah-sekolah internasional dibuka. Tetapi tidak kehilangan arah akhlakul karimah dan inklusivitas yang diajarkan Kanjeng Sunan Kudus,” paparnya.
Dengan demikian, ia berharap Kudus dapat terus berkembang sebagai daerah yang modern tanpa meninggalkan identitas religius dan nilai-nilai GUSJIGANG.
“Ciri khas religiusitasnya dikembangkan, modernitas ke depan juga dikembangkan,” tandasnya. (AS/YM)
Post Views: 29
