Kudus, Liputan7.Net – Usai Sidang Terbuka Senat Pengukuhan Guru Besar yang berlangsung pada Senin (13/4/2026) di Auditorium Universitas Muria Kudus (UMK), Prof. Dr. Drs. Muh. Syafei, M.Pd. menegaskan pentingnya peran kecerdasan buatan (AI) dalam mendukung, bukan menggantikan, proses berpikir dalam menulis.
Dalam pemaparannya, Prof. Syafei menyoroti fenomena yang terjadi di kalangan mahasiswa saat ini. Ia menilai, kemampuan mengetik memang semakin meningkat, namun tidak selalu diiringi dengan kemampuan berpikir kritis dan mandiri. Ketergantungan terhadap teknologi seperti copy–paste, auto-correct, hingga machine translation menjadi tantangan tersendiri dalam dunia akademik.
“Menulis itu bukan sekadar mengetik, tetapi proses berpikir. Ketika teknologi terlalu dominan, mahasiswa cenderung kehilangan kedalaman dalam mengolah ide,” ujarnya.
Menurutnya, tanpa bantuan teknologi, tidak sedikit mahasiswa justru mengalami kesulitan dalam merangkai gagasan. Kondisi ini menunjukkan perlunya pendekatan pembelajaran yang mampu mengembalikan esensi menulis sebagai proses kognitif yang utuh.
Ia pun menawarkan sejumlah metode pembelajaran, di antaranya Timed Handwriting atau menulis tangan dalam waktu terbatas yang dinilai efektif untuk melatih kemandirian berpikir. Selain itu, konsep No-Assistance Writing diterapkan guna menjaga orisinalitas tulisan, serta Structured Revision untuk meningkatkan kualitas hasil karya tulis mahasiswa.
Lebih lanjut, Prof. Syafei juga menekankan pentingnya penerapan digital portfolio dan reflective practice. Kedua pendekatan ini dinilai mampu membantu mahasiswa melacak perkembangan kemampuan mereka sekaligus membangun kesadaran berpikir atau metakognisi.
Di sisi lain, ia mengakui bahwa kehadiran AI telah membawa perubahan besar dalam dunia penulisan akademik. Teknologi tersebut mampu menghasilkan teks dalam waktu singkat, bahkan melampaui kecepatan manusia. Namun demikian, ia mengingatkan agar penggunaannya tetap berada dalam koridor pendidikan.
“AI memang bisa mempercepat proses, tetapi makna tetap milik manusia. Tantangannya bukan pada apakah AI digunakan, tetapi bagaimana kita memposisikannya,” tegasnya.
Ia menambahkan, AI seharusnya dimanfaatkan sebagai alat bantu (scaffolding) yang memperkuat proses belajar. Dengan pemanfaatan yang tepat, teknologi ini justru dapat meningkatkan motivasi, kepercayaan diri, serta kualitas tulisan mahasiswa.
Menurutnya, dalam pembelajaran bahasa, interaksi tetap menjadi unsur utama. Teknologi hanya berperan sebagai pemberi input, sementara makna lahir dari interaksi antarmanusia.
“Bahasa tidak hanya dipelajari, tetapi dialami. Anak-anak mungkin tumbuh bersama layar, tetapi bahasa berkembang dari interaksi,” tambahnya.
Sebagai penutup, Prof. Syafei menegaskan bahwa pendidikan bukan sekadar proses transfer pengetahuan, melainkan transformasi manusia agar mampu berpikir kritis, berintegritas, dan berdaya.
“AI bukan untuk menggantikan pikiran, tetapi untuk menajamkannya,” pungkasnya.
Sementara itu, Rektor UMK periode 2025–2029, Prof. Dr. Ir. Darsono, M.Si., menyampaikan bahwa pengukuhan Prof. Muh. Syafei menjadi Guru Besar merupakan pencapaian penting bagi universitas dalam memperkuat kualitas akademik.
Ia menyebut, saat ini UMK terus mendorong peningkatan jumlah guru besar sebagai bagian dari roadmap pengembangan institusi. Dalam periode kepemimpinannya, ditargetkan adanya penambahan signifikan profesor baru guna memperkuat ekosistem akademik.
“Pengukuhan ini menjadi kapital penting bagi UMK untuk terus tumbuh, apalagi setelah meraih akreditasi unggul. Kita harus menjaga dan meningkatkan kualitas akademik secara berkelanjutan,” ungkapnya.
Menurut Darsono, peningkatan jumlah profesor akan berdampak pada penguatan ekosistem akademik yang sehat. Hal ini akan berimbas pada kualitas proses pembelajaran, penelitian, hingga luaran lulusan yang lebih kompetitif.
Ia juga menegaskan bahwa UMK saat ini berfokus pada pengembangan karier dosen melalui sistem yang terstruktur, termasuk percepatan kenaikan jabatan fungsional. Upaya tersebut dinilai telah menunjukkan hasil positif dalam beberapa tahun terakhir.
Lebih lanjut, terkait perkembangan AI, Darsono mengakui adanya tantangan baru dalam dunia pendidikan, khususnya dalam menjaga orisinalitas karya akademik mahasiswa. Oleh karena itu, pihak kampus tengah menyiapkan instrumen dan regulasi untuk mengontrol penggunaan AI, termasuk dalam penulisan skripsi.
“AI harus dimanfaatkan sebagai instrumen pendukung, bukan menjadi yang utama. Mahasiswa jangan sampai terjebak pada jalan instan tanpa proses berpikir,” tegasnya.
Ia menambahkan, meskipun terdapat kekhawatiran terhadap dampak AI, namun sebagai produk manusia, teknologi tersebut seharusnya dapat dikelola dengan bijak untuk mendukung kemajuan pendidikan.
Dengan langkah-langkah strategis tersebut, UMK optimistis mampu mencetak lulusan yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga mampu berkontribusi secara nyata di masyarakat. (AS/YM)
Post Views: 18
