Kudus, Liputan7.Net – Tingginya angka perceraian di Kabupaten Kudus dan wilayah eks-Karesidenan Pati menjadi perhatian dalam Pengajian Akbar Milad ke-109 Aisyiyah yang digelar di Pendapa Kabupaten Kudus, Minggu (31/5/2026).
Momentum milad yang dihadiri sekitar 3.500 jamaah itu dimanfaatkan untuk mengajak masyarakat memperkuat ketahanan keluarga sebagai fondasi utama mewujudkan kehidupan yang damai dan sejahtera.
Pengajian Akbar Milad ke-109 Aisyiyah mengusung tema “Memperkokoh Dakwah Kemanusiaan untuk Mewujudkan Perdamaian”.
Tema tersebut dinilai relevan dengan berbagai tantangan sosial yang dihadapi masyarakat saat ini, termasuk tingginya angka perceraian dan persoalan keluarga.
Dalam kesempatan tersebut, Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kudus yang diwakili Wakil Ketua Prof. Dr. Hilal Madjdi menyoroti tingginya angka perceraian di Kabupaten Kudus dan wilayah eks-Karesidenan Pati.
Menurutnya, kondisi tersebut menjadi alarm sosial yang harus mendapat perhatian bersama karena berdampak langsung terhadap ketahanan keluarga dan masa depan generasi muda.
Prof. Hilal menyebutkan, berdasarkan data hingga akhir 2025, Kabupaten Pati mencatat 2.406 kasus perceraian dengan sekitar 75 persen merupakan gugatan dari pihak istri.
Di Jepara terdapat 2.015 kasus, Blora 1.888 kasus, Rembang lebih dari 1.100 kasus, dan Kudus mencapai 1.354 kasus.
“Mayoritas penyebabnya adalah persoalan ekonomi dan kekerasan dalam rumah tangga. Ini menjadi pekerjaan rumah bersama yang harus kita selesaikan,” ujarnya.
Menurutnya, dakwah kemanusiaan yang selama ini diusung Muhammadiyah dan Aisyiyah harus dimulai dari lingkungan keluarga sebagai unit sosial terkecil dalam masyarakat.
“Kita kembali ke rumah kita masing-masing. Dakwah kemanusiaan yang paling dekat adalah di keluarga kita sendiri. Dari keluarga yang kuat akan lahir masyarakat yang kuat,” katanya.
Selain persoalan keluarga, Hilal juga mengingatkan tantangan dakwah pada era Generasi Z yang memiliki karakter dan pola pikir berbeda dibanding generasi sebelumnya. Karena itu, pendekatan pendidikan dan dakwah perlu terus beradaptasi agar pesan yang disampaikan dapat diterima dengan baik.
“Kalau metode dakwah dan pendidikan masih menggunakan pendekatan lama, maka pesan yang disampaikan tidak akan mudah diterima. Karena itu kita perlu melakukan penyesuaian dan inovasi dalam berdakwah,” jelasnya.
Sementara itu, Ketua Pimpinan Daerah Aisyiyah (PDA) Kudus, Eny Alifah Kurnia, menyampaikan bahwa Aisyiyah terus memperkuat kontribusinya melalui berbagai program pendidikan, kesehatan, sosial, dan pemberdayaan ekonomi yang menyentuh langsung kebutuhan masyarakat.
Saat ini Aisyiyah Kudus mengelola 20 TK Aisyiyah Bustanul Athfal, 17 Kelompok Bermain, 11 Tempat Penitipan Anak, satu sekolah dasar, panti asuhan, panti lansia, serta dua rumah sakit yang melayani masyarakat.
“Program-program Aisyiyah terus berjalan dan memberikan manfaat bagi masyarakat. Ini menjadi bentuk nyata dakwah kemanusiaan yang selama ini kami lakukan,” ujarnya.
Dalam rangkaian Milad ke-109, Aisyiyah Kudus juga menggelar berbagai kegiatan sosial dan kesehatan, di antaranya pelayanan KB gratis yang diikuti 70 akseptor serta penyaluran santunan kepada 448 lansia.
Bupati Kudus Sam’ani Intakoris mengapresiasi kiprah Aisyiyah yang selama ini menjadi mitra strategis pemerintah dalam bidang pendidikan, kesehatan, dan sosial.
“Kami berharap Aisyiyah terus berinovasi dan memperluas kontribusinya, termasuk dalam pendampingan perempuan dan anak serta penguatan ekonomi masyarakat,” katanya.
Menurut Sam’ani, kolaborasi antara pemerintah dan organisasi kemasyarakatan menjadi penting dalam menghadapi berbagai tantangan sosial yang berkembang di masyarakat, termasuk persoalan keluarga dan tingginya angka perceraian.
“Semoga semangat dakwah kemanusiaan yang diusung Aisyiyah dapat terus memberikan manfaat bagi masyarakat dan memperkuat harmoni di tengah kehidupan sosial,” pungkasnya. (YM/YM)
Post Views: 74
