0 5 min 3 mths

KUDUS, ISKNEWS.com  – Obyek Wisata Air Terjun Montel di Desa Colo, Kecamatan Dawe, Kabupaten Kudus, bersiap menghadirkan wahana wisata petualangan canyoning. Jika terealisasi, destinasi tersebut akan menjadi lokasi canyoning pertama di Kabupaten Kudus yang dikembangkan dengan mengedepankan standar keselamatan bagi pengunjung.

Pengelola Obyek Wisata Montel, Eko Andi Riyanto, mengatakan saat ini pengembangan canyoning masih berada pada tahap persiapan. Fokus utama yang dilakukan adalah membenahi akses menuju lokasi air terjun sebelum aktivitas wisata ekstrem tersebut dibuka untuk umum.

“Yang kami utamakan sekarang adalah pembenahan akses. Jalur menuju lokasi memang sangat ekstrem, sehingga harus dipastikan benar-benar aman sebelum digunakan untuk kegiatan canyoning,” ujar Eko, Selasa (14/7/2026).

Canyoning atau canyoneering merupakan olahraga petualangan yang dilakukan dengan menyusuri aliran sungai dan ngarai di kawasan pegunungan.

Aktivitas tersebut memadukan berbagai teknik alam bebas, mulai dari berjalan menyusuri sungai, memanjat bebatuan, meluncur di batu (sliding), berenang, melompat ke kolam alami (cliff jumping), hingga turun tebing menggunakan tali atau rappelling.

Menurut Eko, karakter alam Air Terjun Montel sangat mendukung untuk pengembangan wisata tersebut. Air terjun yang memiliki ketinggian sekitar 70 meter dengan kontur tebing alami menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan pencinta olahraga petualangan.

Meski demikian, ia menegaskan seluruh pengembangan dilakukan secara bertahap. Pengelola tidak ingin terburu-buru membuka wisata canyoning tanpa didukung sarana dan prosedur keselamatan yang memadai.

“Kami tidak ingin mengejar cepat dibuka, tetapi mengabaikan faktor keamanan. Keselamatan pengunjung tetap menjadi prioritas utama,” katanya.

Untuk mempersiapkan destinasi tersebut, pengelola juga menggandeng CEO Pijar Park, Yusuf, sebagai tempat belajar dan berdiskusi mengenai pengelolaan wisata petualangan berbasis alam. Pengalaman dalam mengembangkan destinasi wisata menjadi referensi bagi pengelola Montel untuk menyusun konsep canyoning yang aman dan profesional.

Selain menyiapkan sumber daya manusia, pengelola juga mulai membenahi infrastruktur menuju lokasi. Dari total jalur sekitar 450 meter dari pintu masuk menuju air terjun, bagian paling curam sepanjang sekitar 40 meter telah diperkeras menggunakan konstruksi beton agar lebih aman dilalui wisatawan maupun tim pendamping.

“Perbaikannya dilakukan bertahap sesuai kemampuan pengelola. Jalur yang paling berbahaya sudah kami beton, sedangkan sisanya akan terus kami benahi,” jelasnya.

Eko menambahkan, keaslian alam Air Terjun Montel akan tetap dipertahankan. Pengelola tidak akan membangun wahana buatan di sekitar air terjun, melainkan hanya menambah fasilitas penunjang keselamatan seperti jalur akses, titik pengamanan, dan perlengkapan aktivitas canyoning.

Menurutnya, kondisi alam yang masih asri justru menjadi nilai jual utama wisata Montel. Oleh karena itu, pengembangan wisata petualangan dilakukan tanpa mengurangi karakter alami kawasan tersebut.

Pengelola juga menjadikan sebuah insiden yang terjadi beberapa waktu lalu sebagai bahan evaluasi. Saat itu, seorang pengunjung nekat melakukan aktivitas bergelantungan menggunakan tali menjelang waktu magrib tanpa pengawasan yang memadai. Peristiwa tersebut semakin menguatkan pentingnya pengelolaan wisata ekstrem secara profesional.

“Kejadian itu menjadi pelajaran bagi kami. Nantinya semua aktivitas harus menggunakan perlengkapan sesuai standar dan wajib didampingi pemandu yang memiliki kompetensi. Tidak boleh ada aktivitas ekstrem yang dilakukan secara sembarangan,” tegas Eko.

Selain canyoning saat debit air mencukupi, kawasan tebing di sekitar Air Terjun Montel juga dinilai berpotensi dimanfaatkan untuk aktivitas panjat tebing ketika memasuki musim kemarau. Dengan demikian, wisata petualangan di kawasan lereng Muria itu dapat terus berjalan sepanjang tahun sesuai kondisi alam.

Sementara itu, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Kudus, Abdul Halil, menyambut baik inisiatif pengembangan wisata canyoning di kawasan Air Terjun Montel. Menurutnya, inovasi tersebut dapat memperkaya pilihan destinasi wisata di Kabupaten Kudus, khususnya wisata minat khusus yang menyasar pencinta olahraga dan petualangan alam.

Namun demikian, Halil menegaskan bahwa aspek keselamatan harus menjadi prioritas utama sebelum wisata canyoning dibuka untuk masyarakat. Seluruh sarana, prasarana, hingga sumber daya manusia yang bertugas mendampingi wisatawan harus memenuhi standar keamanan yang berlaku.

“Potensinya sangat bagus karena bisa menjadi daya tarik baru bagi pariwisata Kudus. Tetapi yang paling penting adalah faktor keselamatan. Pengelola harus memastikan seluruh peralatan, jalur, dan pemandu telah memenuhi standar sehingga wisatawan dapat menikmati aktivitas dengan aman,” ujarnya.

Ia menambahkan, Disbudpar Kudus siap memberikan pendampingan sesuai kewenangannya agar pengembangan wisata minat khusus tersebut dapat berjalan secara profesional tanpa mengabaikan kelestarian lingkungan di kawasan lereng Gunung Muria.

“Konsepnya harus tetap mengedepankan konservasi alam. Jangan sampai pengembangan wisata justru merusak keaslian kawasan Air Terjun Montel yang selama ini menjadi daya tarik utamanya. Jika dikelola dengan baik, wisata canyoning ini berpotensi menjadi ikon wisata petualangan pertama di Kabupaten Kudus,” pungkas Halil. (YM/YM)


Post Views: 61

Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *