KUDUS, ISKNEWS.com — Tradisi buka luwur Makam Syeikh Abdurrohman Tuan Sang-Sang kembali digelar di Desa Loram Kulon, Kecamatan Jati, Kabupaten Kudus, Selasa (30/6/2026). Rangkaian prosesi yang diikuti warga serta peziarah dari berbagai daerah berlangsung khidmat sebagai bentuk penghormatan kepada Syeikh Abdurrohman Tuan Sang-Sang, ulama yang dikenal memiliki peran penting dalam penyebaran agama Islam di wilayah Loram Kulon.
Sejak pagi, masyarakat mulai memadati kompleks makam untuk mengikuti seluruh rangkaian acara. Prosesi diawali dengan pelepasan kain luwur yang selama satu tahun menyelimuti cungkup makam. Penggantian luwur dilakukan oleh pengurus makam bersama para tokoh agama dan tokoh masyarakat, disertai pembacaan doa sebagai ungkapan penghormatan kepada ulama pendahulu.
Di sela-sela prosesi, peziarah terus berdatangan untuk berziarah dan mengikuti doa bersama. Meski jumlah pengunjung cukup banyak, seluruh rangkaian kegiatan berlangsung tertib, aman, dan penuh kekhusyukan.
Ketua Panitia, Ahmad Zainuddin, mengatakan tradisi buka luwur merupakan agenda tahunan yang bertujuan menjaga warisan para ulama sekaligus mempererat tali silaturahmi di tengah masyarakat.
“Tradisi ini bukan sekadar mengganti kain penutup makam, tetapi juga menjadi momentum untuk mengenang perjuangan para ulama dalam menyebarkan ajaran Islam serta meneladani nilai-nilai perjuangan mereka,” ujarnya.
Setelah pelepasan luwur lama, kain luwur baru dipasang secara bersama-sama untuk menyelimuti kembali cungkup makam. Prosesi tersebut menjadi simbol penghormatan kepada ulama sekaligus wujud komitmen masyarakat dalam menjaga tradisi yang telah diwariskan secara turun-temurun.
Rangkaian kegiatan kemudian dilanjutkan dengan pembacaan tahlil, doa bersama, serta mauidhah hasanah yang disampaikan oleh K.H. Hasan Fauzi. Dalam tausiyahnya, ia mengajak jamaah untuk meneladani akhlak para ulama, memperkuat persatuan umat, serta terus menghidupkan semangat dakwah dalam kehidupan bermasyarakat.
Bagi masyarakat Loram Kulon, tradisi buka luwur tidak hanya memiliki makna religius, tetapi juga menjadi bagian dari warisan budaya yang mempererat kebersamaan antarwarga.
Antusiasme masyarakat dan peziarah yang datang dari berbagai daerah setiap tahunnya menjadi bukti bahwa tradisi tersebut tetap lestari dan terus mendapat tempat di tengah kehidupan masyarakat. (*)
Post Views: 1
