Kudus, Liputan7.Net – Tingginya temuan kasus gangguan jantung pada anak di wilayah Pantura Timur Jawa Tengah mulai menjadi perhatian serius tenaga medis dan pemerintah daerah. Hal itu terlihat dalam bakti sosial skrining jantung yang digelar Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) di RSUD dr. Loekmono Hadi Kudus.
Sebanyak 120 anak dari Kudus, Pati dan sejumlah daerah sekitar mengikuti pemeriksaan jantung menggunakan alat ekokardiografi atau USG jantung. Dari hasil pemeriksaan awal, sekitar 10 persen anak terdeteksi memiliki indikasi maupun kelainan jantung yang memerlukan pemeriksaan lanjutan dan pemantauan medis.
“Dalam tiga bulan terakhir pasien yang datang cukup banyak. Bahkan saat kegiatan skrining ini juga ditemukan sejumlah anak dengan indikasi gangguan jantung yang perlu penanganan lebih lanjut,” ujarnya saat kegiatan pemeriksaan jantung anak di Ruang Rehabilitasi Medik Gedung Utama Lantai 3 RSUD dr. Loekmono Hadi Kudus, Jumat (23/5).
Dokter spesialis anak konsultan kardiologi dr. Agus Priyatno, Sp.A Subsp.Kardio(K) mengungkapkan pentingnya deteksi dini penyakit jantung pada anak untuk mencegah kondisi yang lebih berat. Menurutnya, banyak kasus kelainan jantung pada anak sebenarnya bisa diketahui lebih awal apabila orang tua dan tenaga kesehatan memahami gejalanya.
Hal itu disampaikan dr. Agus saat kegiatan bakti sosial skrining ekokardiografi anak dalam rangka Hari Jadi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) di RSUD dr. Loekmono Hadi Kudus, Sabtu (24/5).
Dokter yang juga bertugas di RSUP dr. Kariadi dan RS Telogorejo Semarang tersebut menjelaskan, gejala penyakit jantung pada anak bisa muncul sejak bayi lahir hingga masa pertumbuhan.
“Gejala awal yang sering muncul misalnya bayi tampak kebiruan atau cyanosis, kemudian ditemukan bunyi bising pada jantung saat diperiksa dokter,” ujarnya.
Selain itu, lanjut dr. Agus, pertumbuhan anak yang terganggu juga bisa menjadi tanda adanya kelainan jantung bawaan. Salah satunya berat badan anak yang sulit naik meski asupan makan cukup.
“Kemudian tumbuh kembang terdampak, misalnya berat badan tidak naik-naik. Itu harus dicurigai,” katanya.
Ia juga mengingatkan agar bayi prematur mendapatkan pemeriksaan lebih lanjut karena memiliki risiko lebih tinggi mengalami gangguan jantung bawaan.
“Bayi-bayi prematur juga harus diperiksa karena bisa memiliki penyakit jantung,” jelasnya.
Menurut dr. Agus, denyut jantung yang tidak teratur atau terlalu cepat juga menjadi salah satu gejala yang perlu diwaspadai oleh orang tua maupun tenaga kesehatan.
“Kalau denyut jantung tidak teratur atau terlalu cepat, itu juga perlu diperiksa lebih lanjut,” tambahnya.
Dalam kegiatan tersebut, IDAI bersama tim dokter jantung anak menggelar pemeriksaan menggunakan enam alat ekokardiografi atau USG jantung untuk mendeteksi kelainan jantung pada anak secara lebih cepat dan akurat.
dr. Agus menilai peran dokter umum, bidan dan tenaga kesehatan di puskesmas sangat penting dalam mendeteksi gejala awal penyakit jantung pada anak sebelum dirujuk ke dokter spesialis.
“Dokter umum sebenarnya bisa mengenali tanda-tanda awalnya. Karena itu kita juga mengadakan pelatihan praktis untuk dokter puskesmas dan bidan agar deteksi dini lebih maksimal,” ujarnya.
Ia menegaskan, semakin cepat penyakit jantung pada anak ditemukan, maka peluang keberhasilan penanganan juga akan semakin besar.
“Kalau diketahui lebih awal, penanganannya bisa lebih cepat sehingga risiko komplikasi bisa ditekan,” pungkasnya. (YM/YM)
Post Views: 51
