0 3 min 6 mths

Kudus, Liputan7.Net – Kenaikan harga minyak dunia akibat ketegangan geopolitik global berpotensi menimbulkan efek berantai bagi perekonomian Indonesia. Dosen Universitas Muria Kudus (UMK) mengingatkan bahwa kondisi ini tidak hanya berdampak pada sektor energi, tetapi juga bisa memicu lonjakan subsidi hingga tekanan inflasi.

Dosen UMK, Muhammad Teguh Kuncoro, S.E., M.B.A., menjelaskan bahwa konflik yang memanas di kawasan Timur Tengah, khususnya melibatkan Iran, Israel, dan Amerika Serikat, berisiko mengganggu jalur distribusi minyak global.

Menurutnya, salah satu titik krusial dalam rantai pasok energi dunia adalah Selat Hormuz. Jika jalur tersebut mengalami gangguan, distribusi minyak dapat tersendat sehingga pasokan global ikut tertekan.

Ia menuturkan, ketika suplai berkurang sementara permintaan tetap tinggi, maka harga minyak secara alami akan mengalami kenaikan. Dampaknya, biaya distribusi energi ikut terdongkrak dan berimbas pada harga minyak di pasar internasional.

“Dengan meningkatnya tensi geopolitik, harga minyak yang sebelumnya berada di kisaran USD64 per barel berpotensi melonjak hingga mendekati USD100 per barel,” ujarnya.

Sebagai negara yang masih mengandalkan impor untuk memenuhi sebagian kebutuhan minyak, Indonesia dinilai rentan terhadap gejolak harga global tersebut. Kenaikan harga minyak akan berpengaruh langsung pada besaran subsidi energi yang harus ditanggung pemerintah.

Teguh menilai, apabila tren kenaikan harga terus berlanjut, beban subsidi BBM berpotensi membengkak dan memberi tekanan tambahan terhadap anggaran negara. Untuk mengatasinya, pemerintah kemungkinan perlu mengoptimalkan sumber penerimaan, baik dari pajak maupun sektor lainnya.

Dalam jangka pendek, ia menyebut dampak paling cepat dirasakan masyarakat adalah pada harga BBM non-subsidi yang mengikuti mekanisme pasar. Sementara itu, pemerintah diperkirakan tetap menjaga stabilitas harga BBM subsidi.

Namun demikian, kondisi tersebut dapat memicu perubahan pola konsumsi masyarakat. Kenaikan harga BBM non-subsidi berpotensi membuat sebagian masyarakat beralih ke BBM subsidi.

Jika lonjakan permintaan tidak diimbangi dengan ketersediaan pasokan, situasi ini berisiko menimbulkan kelebihan permintaan yang berujung pada antrean panjang bahkan kelangkaan BBM di lapangan.

Ia mencontohkan, kondisi serupa pernah terjadi di Filipina, di mana gangguan distribusi BBM sempat memicu kepanikan publik akibat tidak lancarnya pasokan.

Lebih jauh, Teguh menambahkan bahwa dampak kenaikan harga BBM tidak hanya berhenti pada sektor energi. Biaya transportasi dan distribusi barang juga akan ikut naik, sehingga mendorong kenaikan harga berbagai kebutuhan pokok.

Menurutnya, kondisi ini dapat menciptakan efek berantai dalam perekonomian yang berpotensi memicu inflasi sekaligus menekan daya beli masyarakat.

Oleh karena itu, ia mengimbau masyarakat untuk mulai lebih cermat dalam mengelola keuangan di tengah ketidakpastian global.

“Masyarakat perlu menyesuaikan prioritas pengeluaran, memastikan kebutuhan pokok tetap terpenuhi, serta menyiapkan dana cadangan agar lebih siap menghadapi situasi ekonomi yang dinamis,” pungkasnya. (AS/YM)


Post Views: 20



Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *