0 4 min 5 mths

Kudus, Liputan7.Net — Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi menggelar kegiatan “Rembug Pembangunan Provinsi Jawa Tengah Tahun 2026” bersama pemerintah daerah se-eks Karesidenan Pati di Pendopo Kabupaten Kudus, Selasa (26/5/2026).

Kegiatan dengan wilayah pengembangan Jekuti dan Banglor yang meliputi Jepara, Kudus, Pati, Rembang, dan Blora tersebut mengusung tema “Mengembangkan Pariwisata Berkelanjutan dan Ekonomi Syariah sebagai Tulang Punggung Pertumbuhan Ekonomi”.

Forum tersebut menjadi wadah penyelarasan program pembangunan daerah sekaligus mengakomodasi berbagai usulan yang belum terwadahi saat Musrenbang tingkat provinsi.

Ahmad Luthfi mengatakan rembuk pembangunan dilakukan berbasis eks karesidenan agar kebutuhan dan persoalan tiap wilayah dapat dibahas lebih detail.

Menurutnya, pola tersebut diharapkan mampu memperkuat sinkronisasi pembangunan antardaerah.

“Rembug provinsi ini kita gunakan untuk mereduksi. Kemarin sudah dilakukan musrenbang, tetapi lebih menjeneralkan lagi bahwa rembuk ini kita lakukan per eks karesidenan. Barangkali pada saat musrenbang di provinsi kemarin ada yang belum terwadahi, hari ini diwadahi,” ujarnya.

Ia menjelaskan, arah pembangunan Jawa Tengah tahun 2027 akan difokuskan pada pengembangan pariwisata dan ekonomi kreatif, setelah sebelumnya fokus pada penguatan swasembada pangan.

Hal tersebut selaras dengan tema pembangunan Jawa Tengah 2027 yakni pengembangan pariwisata berkelanjutan dan ekonomi syariah sebagai tulang punggung pertumbuhan ekonomi daerah.

“2027 nanti tidak hanya swasembada pangan, tetapi terkait dengan pariwisata dan ekonomi kreatif yang kita lakukan,” katanya.

Ahmad Luthfi menargetkan pertumbuhan ekonomi Jawa Tengah terus meningkat hingga melampaui delapan persen sesuai arahan pemerintah pusat.

Saat ini pertumbuhan ekonomi Jawa Tengah tercatat mencapai 5,89 persen.

“Target kita sesuai arahan pemerintah bahwa pertumbuhan ekonomi harus di atas 8 persen. Kita sudah menuju 8, sekarang sudah 5,89 persen. Kalau bisa kita tingkatkan lagi di tingkat wilayah,” ujarnya.

Menurut Ahmad Luthfi, sektor investasi terutama industri padat karya menjadi penopang utama pertumbuhan ekonomi Jawa Tengah.

Industri alas kaki, pakaian, tekstil, dan garmen dinilai memiliki kontribusi besar karena mampu menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar.

“Yang paling menunjang adalah investasi terutama padat karya. Mulai dari alas kaki, kemudian pakaian, tekstil, garmen dan lain sebagainya sangat menunjang sekali. Hampir 410 ribu masyarakat kita padat karya bisa terserap di wilayah kita,” katanya.

Selain itu, pemerintah provinsi juga mulai mengarahkan pengembangan kawasan industri baru di sejumlah daerah untuk mendukung investasi padat modal maupun padat karya.

Beberapa daerah yang disiapkan antara lain Banyumas, Pati, Rembang, Sragen hingga Demak.

“Sudah ada 12 kabupaten/kota menerapkan kawasan industri baru untuk menumbuhkan ekonomi baru di wilayahnya masing-masing. Mau PMA, PMDN, yang penting investasi,” tegasnya.

Terkait isu efisiensi industri dan potensi pemutusan hubungan kerja (PHK), Ahmad Luthfi memastikan kondisi di Jawa Tengah masih relatif terkendali. Pemerintah daerah melalui Dinas Tenaga Kerja juga terus melakukan langkah antisipasi agar pekerja terdampak dapat kembali terserap di perusahaan lain.

“Nggak ada pengaruhnya, di tempat kita masih landai. Antisipasinya Dinas Tenaga Kerja akan memainkan peran untuk mengaktifkan kembali masyarakat kita yang kena PHK. Sebelum potensi menjadi PHK, sudah kita lakukan warning melalui satgas sehingga sebisa mungkin mereka dimanfaatkan kembali bekerja di perusahaan lain,” ujarnya.

Dalam arahannya, Ahmad Luthfi juga meminta seluruh pemerintah kabupaten/kota bersinergi mendukung pengembangan pariwisata berkelanjutan dan ekonomi syariah, memperkuat fiskal daerah melalui collaborative funding, serta mendukung penanganan piutang PKB demi peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD). (YM/YM)


Post Views: 90

Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *