SAPA PAGI :
Car Free Day seharusnya menjadi ruang bagi pelaku UMKM dan pedagang kecil mencari rezeki. Namun ketika mulai muncul dugaan adanya praktik jual beli lapak hingga mencapai ratusan ribu rupiah, yang dipertaruhkan bukan hanya satu titik lokasi berdagang, melainkan kepercayaan para pedagang terhadap sistem yang ada.
Keluhan yang diterima redaksi menyebut adanya dugaan transaksi lapak di kawasan Gang 1 Jalan Ahmad Yani senilai Rp500 ribu. Benar atau tidaknya informasi tersebut tentu harus dibuktikan melalui klarifikasi dan penelusuran dari pihak yang berwenang. Namun satu hal yang tidak bisa diabaikan adalah munculnya keresahan dari para pedagang sendiri.
Yang lebih memprihatinkan, bukan sekadar isu dugaan jual beli lapak, melainkan kesan bahwa mekanisme penataan dan pembagian lapak masih belum dipahami secara terbuka oleh seluruh pedagang. Ketika ditanya siapa yang bertanggung jawab, jawaban yang diterima justru saling mengarah ke bidang lain. Akibatnya, persoalan terus berputar tanpa ada kepastian.
Jika memang tidak ada praktik jual beli lapak, maka sudah seharusnya pemerintah menjelaskan secara terbuka bagaimana mekanisme pembagian lokasi, siapa yang berhak menentukan penempatan pedagang, bagaimana daftar tunggu dikelola, hingga ke mana masyarakat harus melapor jika menemukan dugaan penyimpangan.
Sebaliknya, apabila benar ada oknum yang memanfaatkan situasi untuk mencari keuntungan pribadi, maka tindakan tegas menjadi langkah yang paling tepat agar tidak mencederai pedagang lain yang selama ini mengikuti aturan.
Transparansi adalah obat paling sederhana untuk meredam kecurigaan. Daftar penerima lapak, mekanisme penempatan, hingga prosedur perpindahan lokasi dapat diumumkan secara terbuka sehingga semua pedagang memiliki kesempatan yang sama tanpa harus bertanya-tanya.
CFD adalah milik masyarakat. Jangan sampai ruang yang seharusnya menghadirkan semangat kebersamaan justru melahirkan prasangka karena sistem yang belum mampu memberikan rasa adil.
Semoga persoalan ini segera memperoleh penjelasan yang terang, bukan sekadar berpindah dari satu meja ke meja lainnya.( Mr )
Post Views: 67
