0 3 min 2 mths

KUDUS, Liputan7.Net – Musim kemarau yang berlangsung panjang membuat kebutuhan air bersih di sejumlah wilayah Kabupaten Kudus meningkat. Hingga 28 Agustus 2026, sebanyak 729.500 liter air bersih telah disalurkan kepada warga terdampak kekeringan menggunakan 137 tangki.

Kepala Pelaksana Harian (Kalakhar) BPBD Kudus, Eko Hari Djatmiko, mengatakan distribusi air bersih telah dilakukan sejak 15 Juli 2026. Bantuan tersebut diberikan untuk memenuhi kebutuhan warga di wilayah yang mengalami kesulitan memperoleh air akibat kemarau.

“Kalau yang di Colo itu karena saluran air dari gunung yang selama ini digunakan warga sempat terputus. Sekarang masih dalam proses perbaikan dan sudah berjalan sekitar dua pekan,” kata Eko saat ditemui Sabtu (29/8/2026).

Menurut Eko, musim kemarau tahun ini tergolong panjang bahkan cukup ekstrem. BPBD Kudus memperkirakan kondisi kemarau masih berlangsung hingga Oktober, sedangkan prakiraan dari BMKG menyebut musim kering berpotensi bertahan sampai November 2026.

“Musim kemarau ini panjang dan sangat ekstrem, bahkan bisa disebut super ekstrem. Kami memprediksi sampai Oktober, tetapi dari BMKG diperkirakan hingga November 2026,” ujarnya.

Selama penyaluran berlangsung, bantuan air bersih telah menjangkau empat desa yang tersebar di tiga kecamatan. Wilayah tersebut meliputi Desa Glagahwaru, Kecamatan Undaan; Desa Colo, Kecamatan Dawe; serta Desa Setrokalangan dan Desa Kedungdowo, Kecamatan Kaliwungu.

Desa Glagahwaru menjadi wilayah dengan distribusi air terbanyak. Tercatat sebanyak 603.000 liter air bersih telah dikirimkan ke desa tersebut.

Sementara itu, Desa Setrokalangan memperoleh 88.500 liter air bersih. Kemudian Desa Colo mendapatkan 18.000 liter, sedangkan Desa Kedungdowo menerima 5.000 liter.

Pasokan air bersih tersebut berasal dari kolaborasi berbagai pihak. Selain BPBD Kudus, bantuan juga datang dari BBWS Pemali Juana, PMI, Satpol PP, IDI, Kodim, Baznas, Polres Kudus, Bhayangkari, PDAM, IBI, hingga PT Sukun Wartono Indonesia.

Eko memastikan kebutuhan air bersih masyarakat di wilayah yang terdampak masih dapat dipenuhi. Menurutnya, keberadaan jaringan PDAM turut membantu menjaga ketersediaan air bagi warga selama musim kemarau.

“Selama PDAM masih mengalir, saya pikir aman,” terangnya.

Di tengah kondisi tersebut, BPBD Kudus juga menerima permohonan bantuan air bersih dari Pemerintah Desa Larikrejo, Kecamatan Undaan, pada 28 Agustus 2026.

Permohonan itu selanjutnya ditindaklanjuti BPBD dengan melakukan asesmen untuk mengetahui kondisi serta kebutuhan masyarakat di wilayah tersebut. Hasil asesmen akan menjadi pertimbangan dalam menentukan penyaluran bantuan air bersih berikutnya. (AS/YM)


Post Views: 26

Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *