0 5 min 2 mths

KUDUS, Liputan7.Net — Prestasi membanggakan kembali ditorehkan siswa SMP 3 Kudus. Daffa Ahza Pradana, Favian Azka Adhyastha, dan Ewaldo Andra Adriatic Sutanto berhasil meraih medali perak atau juara II dalam ajang Thailand International Science, Invention, and Innovation Fair (TISIIF) yang digelar pada 30 Juli hingga 1 Agustus 2026.

Dalam kompetisi tersebut, ketiganya didampingi oleh guru Bahasa Inggris SMP 3 Kudus sekaligus guru pembimbing, Hibatullah Putra Adhirajasa, S.Pd.

Di bawah arahan Adhirajasa, ketiganya mengembangkan rasa ingin tahu mereka menjadi sebuah penelitian yang kemudian diajukan dalam bentuk research paper.

Daffa Ahza Pradana, Favian Azka Adhyastha, dan Ewaldo Andra Adriatic Sutanto, bersama guru pembimbing, Hibatullah Putra Adhirajasa, S.Pd. (Foto: Istimewa)

Penelitian tersebut berjudul “Pemanfaatan Aloe Vera dan Arang Tempurung Kelapa sebagai Core Inti Biji agar Tahan Kekeringan.”

Ide penelitian itu berangkat dari perhatian mereka terhadap kondisi tanaman yang sulit berkembang di tengah lingkungan dengan tingkat kekeringan tinggi.

“Kita ada sesuatu yang menjadi concern kita. Apa yang kita pikirkan? Kok di Thailand tanaman itu sulit berkembang? Jadi kita berusaha cari solusinya. Kita pakai aloe vera dan arang tempurung kelapa sebagai sumber nutrisinya,” ujar Adhirajasa.

Prestasi di Thailand tersebut bukanlah pencapaian pertama bagi ketiganya. Sebelumnya, mereka berhasil meraih medali emas atau juara I dalam kompetisi karya ilmiah tingkat nasional di Bandung, melalui penelitian mengenai genteng yang dilapisi sabut kelapa untuk membantu mereduksi suhu panas.

Pengalaman tersebut menjadi modal penting bagi mereka untuk kembali mengikuti kompetisi karya ilmiah.

Menariknya, ketiga siswa tersebut tidak hanya aktif dalam bidang akademik.

Andra merupakan atlet badminton, sedangkan Daffa dan Favian merupakan atlet renang yang kerap meraih prestasi dalam berbagai ajang kejuaraan.

Menurut Adhirajasa, ketiganya merupakan siswa yang aktif di kelas dan memiliki rasa ingin tahu yang tinggi. Karena itu, sekolah berupaya memberikan ruang bagi mereka untuk mengeksplorasi minat di luar kegiatan akademik reguler.

“Memang anaknya suka eksplore dan rasa ingin tahunya tinggi, jadi kita berusaha memfasilitasi. Karena sudah kelas 9, mungkin lomba olahraga dikurangi karena ada persiapan TKA, jadi kita arahkan dan fasilitasi keaktifan anak-anak,” jelas Adhirajasa.

Keikutsertaan mereka dalam kompetisi tersebut juga bukan semata-mata hasil seleksi dari sekolah. Ketiganya justru mengajukan diri karena memiliki semangat berkompetisi yang tinggi.

Adhirajasa mengatakan, para siswa memang memiliki jiwa kompetitif dan aktif mencari pengalaman baru. Salah seorang siswa bahkan mengaku ingin mengikuti kegiatan tersebut karena merasa aktivitas di kelas 9 mulai lebih banyak berkutat dengan kegiatan sekolah.

“Karena saat kelas sembilan, kegiatannya kok tinggal sekolah-sekolah saja,” ujar salah satu siswa.

Untuk mempersiapkan kompetisi, ketiganya menjalani proses penelitian yang cukup panjang. Selama kurang lebih dua bulan sebelum perlombaan, mereka melakukan berbagai percobaan dan terus memperbaiki penelitian melalui proses trial and error.

“Latihan yang dijalani lumayan keras. Penelitiannya dua bulan dilakukan sebelum lomba, trial and errordilakukan terus,” ungkap Adhirajasa.

Prestasi tersebut sekaligus menjadi warna baru bagi SMP 3 Kudus. Selama ini, sekolah tersebut dikenal memiliki berbagai capaian di bidang olahraga, seperti voli, hoki, tenis meja, dan sepak bola.

Namun, belakangan minat siswa terhadap kegiatan ekstrakurikuler di bidang akademik mulai menunjukkan peningkatan.

Adhirajasa yang juga menjadi pembina ekstrakurikuler English Club merasakan langsung perubahan tersebut.

Jika sebelumnya kegiatan English Club biasanya diikuti sekitar 10 siswa, jumlah peserta sempat meningkat hingga sekitar 60 siswa.

“Saya juga pembina ekstrakurikuler English Club. Biasanya yang datang sekitar 10, dan kemarin yang datang sampai 60 siswa,” kata Adhirajasa.

Menurutnya, keberhasilan ketiga siswa tersebut diharapkan dapat menjadi pemantik bagi siswa lain untuk berani mencoba bidang yang sesuai dengan minat dan potensinya.

Adhirajasa berharap pencapaian tersebut tidak berhenti pada tiga siswa tersebut, tetapi mampu melahirkan lebih banyak bibit baru di lingkungan SMP 3 Kudus.

“Semoga dari kompetisi ini melahirkan bibit-bibit baru dari anak-anak yang mau join, dan semoga makin sukses ke depannya,” pungkas guru Bahasa Inggris SMP 3 Kudus tersebut. (Najib/ISKNEWS.com)


Post Views: 9

Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *