0 5 min 3 mths

KUDUS, Liputan7.Net – Musim kemarau yang mulai melanda Kabupaten Kudus memicu peningkatan kasus kebakaran lahan. Hingga awal Juli 2026, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Kudus mencatat 18 kejadian kebakaran lahan di berbagai wilayah.

Dari rangkaian kejadian tersebut, sedikitnya lebih dari 3,1 hektare lahan telah terbakar dengan kerugian material sedikitnya Rp130 juta, sementara Kecamatan Jekulo menjadi wilayah yang paling rawan.

Sekretaris BPBD Kabupaten Kudus, Syarif Hidayah, mengatakan meningkatnya suhu udara dan minimnya curah hujan membuat vegetasi menjadi sangat kering sehingga mudah terbakar. Kondisi tersebut diperparah apabila masih terdapat aktivitas pembakaran sampah maupun sisa tanaman di lahan terbuka.

“Untuk menjaga lingkungan dari kebakaran, masyarakat tidak boleh membakar sampah. Sampah harus diolah, baik sampah rumah tangga maupun limbah pertanian. Jangan membakar apa pun di lahan terbuka karena saat musim kemarau api sangat mudah merembet,” ujarnya.

Menurut Syarif, hingga awal Juli 2026 BPBD Kudus telah menangani 18 kejadian kebakaran lahan yang tersebar di sejumlah kecamatan. Mayoritas kebakaran terjadi di lahan kosong, semak belukar, perkebunan, hingga lahan pertanian yang mengering akibat kemarau.

Data yang dihimpun oleh media ini dan sejumlah laporan lapangan menunjukkan Kecamatan Jekulo menjadi wilayah yang paling sering mengalami kebakaran lahan. Dari empat kejadian besar yang terdokumentasi sepanjang tahun ini, dua di antaranya terjadi di kecamatan tersebut.

Peristiwa pertama terjadi pada 17 Juni 2026 di Desa Singocandi, Kecamatan Kota. Api membakar lahan penimbunan limbah plastik seluas sekitar 450 meter persegi. Sebanyak empat unit mobil pemadam kebakaran diterjunkan untuk mengendalikan api agar tidak merembet ke permukiman warga.

Petugas berhasil memadamkan kobaran api dengan cepat sehingga tidak menimbulkan korban jiwa. Kerugian material diperkirakan mencapai Rp10 juta. Dugaan sementara, api berasal dari tumpukan limbah plastik yang mudah terbakar, kemudian membesar akibat tiupan angin dan membakar semak kering di sekitar lokasi.

Masih pada hari yang sama, kebakaran juga terjadi di Desa Loram Wetan, Kecamatan Jati. Api melalap lahan tebu pascapanen seluas sekitar 500 meter persegi.

Berdasarkan laporan BPBD, kebakaran diduga dipicu pembakaran sisa daun tebu yang tidak terkendali sehingga api dengan cepat menjalar ke area sekitar. Tidak ada korban jiwa dalam kejadian tersebut dan nilai kerugian belum dipublikasikan.

Memasuki akhir Juni 2026, kebakaran kembali terjadi di Desa Sadang, Kecamatan Jekulo. Lahan tebu kembali menjadi sasaran si jago merah. Petugas Damkar berhasil mengendalikan api sebelum meluas, namun hingga kini luas lahan yang terbakar maupun nilai kerugiannya belum diumumkan. Penyebab pasti kebakaran juga masih dalam proses penyelidikan.

Kebakaran terbesar sepanjang tahun ini terjadi pada Senin (6/7/2026) sekitar pukul 12.30 WIB di Dukuh Tompe, Desa Gondoharum RT 05 RW 01, Kecamatan Jekulo. Sekitar tiga hektare atau 21 petak lahan tebu yang siap dipanen hangus terbakar. Kerugian akibat peristiwa tersebut diperkirakan mencapai Rp120 juta. Petugas gabungan dari Damkar, BPBD, TNI, Polri, pemerintah desa, dan warga berjibaku memadamkan api agar tidak merembet ke areal pertanian lainnya.

Secara keseluruhan, luas lahan yang diketahui terbakar sepanjang 2026 telah mencapai lebih dari 3,1 hektare, belum termasuk luas kebakaran di Desa Sadang yang hingga kini belum diumumkan secara resmi. Total kerugian yang telah terdata mencapai sedikitnya Rp130 juta, dan angka tersebut masih berpotensi bertambah seiring proses pendataan sejumlah kejadian lainnya.

Berdasarkan karakteristik lokasi, mayoritas kebakaran terjadi di lahan tebu pascapanen. Areal yang telah selesai dipanen umumnya masih dipenuhi slamper, yaitu tumpukan daun-daun tebu kering yang tertinggal setelah proses penebangan. Saat musim kemarau, slamper menjadi bahan bakar alami yang sangat mudah tersulut api. Ditambah embusan angin, kobaran api dapat dengan cepat menjalar hingga menghanguskan lahan dalam hitungan menit.

Dari empat kejadian besar yang terdokumentasi, tiga di antaranya terjadi di lahan tebu, sedangkan satu kejadian lainnya terjadi di lahan penimbunan limbah plastik. Kondisi ini menunjukkan kawasan pertanian, khususnya perkebunan tebu, menjadi titik paling rawan kebakaran selama musim kemarau.

Selain kerugian material, rangkaian kebakaran lahan tahun ini juga diwarnai insiden yang merenggut korban jiwa. Seorang petani lanjut usia, ditemukan meninggal dunia di area persawahan Kecamatan Gebog, beberapa waktu lalu.

BPBD juga mulai memetakan pola penyebab kebakaran yang terjadi sepanjang tahun ini. Selain dugaan pembakaran sampah dan sisa tanaman yang tidak terkendali, material kering seperti slamper, semak belukar, tumpukan limbah yang mudah terbakar, serta embusan angin menjadi faktor utama yang mempercepat penyebaran api. Beberapa kejadian lainnya masih menunggu hasil penyelidikan untuk memastikan penyebab pasti.

Syarif kembali mengingatkan masyarakat agar menghentikan kebiasaan membakar sampah maupun sisa tanaman di lahan terbuka. Menurutnya, tindakan sederhana tersebut menjadi langkah paling efektif untuk mencegah kebakaran saat musim kemarau.

“Masyarakat kami minta tidak membakar sampah ataupun sisa tanaman. Kalau menemukan titik api segera laporkan kepada pemerintah desa, Damkar, atau BPBD agar bisa segera ditangani sebelum meluas,” tegasnya. (YM/YM)


Post Views: 61

Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *