KUDUS, Liputan7.Net – Enam pebalap muda Kabupaten Kudus menghadapi tantangan tidak ringan menuju Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Jawa Tengah (Jateng) 2026.
Selain mayoritas baru akan menjalani debut di ajang tersebut, mereka juga terbatas dalam kesempatan berlatih di lintasan velodrome.
Meski demikian, kondisi tersebut tidak menyurutkan optimisme Ikatan Sport Sepeda Indonesia (ISSI) Kabupaten Kudus. Enam atlet yang terdiri dari tiga putra dan tiga putri tetap dipersiapkan untuk bersaing pada nomor velodrome dan jalan raya.
Ketua ISSI Kudus, Suwantoro, mengatakan pihaknya memasang target realistis sekaligus tetap membuka peluang bagi para atlet untuk meraih medali.
“Semaksimalnya kita tetap optimistis. Targetnya perak dan perunggu,” ujar Suwantoro, Rabu (16/9/2026).
Persiapan para atlet dilakukan melalui latihan rutin hampir setiap hari. Mereka mendapat waktu istirahat pada Senin, sementara latihan jalan raya lebih banyak dilakukan pada Jumat, Sabtu, dan Minggu dengan rute jarak jauh.
“Setiap hari latihan, libur hanya Senin. Untuk jalan raya Jumat, Sabtu, dan Minggu,” jelasnya.
Selain mengasah kemampuan bersepeda, ISSI Kudus memberikan latihan fisik pendukung seperti push up, sit up, dan squat jump. Latihan tersebut diarahkan untuk meningkatkan kekuatan sekaligus daya tahan tubuh atlet saat menghadapi perlombaan.
“Fisik sangat memengaruhi. Push up, sit up, dan squat jump juga kita berikan,” katanya.
Keterbatasan latihan di velodrome menjadi salah satu pekerjaan rumah. Lokasi lintasan yang berada di luar daerah membuat tim tidak bisa leluasa melakukan latihan maupun uji coba secara rutin, terutama karena harus mempertimbangkan biaya.
“Untuk velodrome kita jarang latihan karena jauh. Uji coba juga terkendala biaya,” ungkap Suwantoro.
Karena itu, penentuan nomor yang akan diikuti setiap atlet dilakukan berdasarkan hasil evaluasi. Pelatih tidak memaksakan seluruh atlet mengikuti semua nomor, melainkan menyesuaikan dengan kemampuan fisik dan karakter masing-masing.
“Kita melihat fisik mereka. Tidak semua atlet harus mengikuti semua nomor,” tuturnya.
Untuk nomor jalan raya, para atlet ditempa dengan rute latihan panjang yang melewati sejumlah wilayah. Di antaranya Pati, Keling, Kelet, Bangsri, Jepara hingga Mayong.
Enam atlet tersebut seluruhnya masih berstatus pelajar. Tiga atlet merupakan siswa SMP dan tiga lainnya siswa SMA, dengan rentang usia 14 hingga 17 tahun.
Dari enam atlet, lima di antaranya akan menjalani debut pada Porprov. Hanya satu atlet putri yang sebelumnya pernah tampil dalam Porprov 2023.
Minim pengalaman tersebut coba diatasi dengan memperbanyak keikutsertaan dalam kompetisi. ISSI Kudus membawa para atlet mengikuti berbagai event, termasuk Sukun Series dan kejuaraan di Purworejo.
“Event-event itu menjadi evaluasi untuk mengukur kemampuan anak-anak,” ujar Suwantoro.
Dari hasil evaluasi sejumlah kejuaraan, kemampuan atlet Kudus dinilai sudah mampu bersaing untuk masuk 10 besar. Namun, ISSI tetap melihat peluang untuk menembus perebutan medali pada nomor tertentu.
“Kalau untuk level Porprov, kita bisa bersaing di 10 besar. Tapi kita tetap optimistis bisa menembus perak atau perunggu,” katanya.
Persoalan mental juga menjadi perhatian. Sebagian atlet yang masih berusia belia terkadang mengalami rasa gugup menjelang pertandingan. Kondisi itu bahkan dapat berpengaruh terhadap nafsu makan sebelum perlombaan.
“Anak-anak masih ada yang nervous menjelang event. Kita atasi dengan sering mengikuti pertandingan,” jelasnya.
Saat ini tingkat kesiapan enam atlet tersebut berada di kisaran 75 persen. Menjelang Porprov, intensitas latihan akan ditingkatkan, terutama untuk membangun endurance dan kemampuan menempuh jarak jauh, sebelum memasuki fase recovery.
“Menjelang Porprov latihan akan lebih keras, terutama jarak jauh dan endurance. Setelah itu ada recovery,” ungkapnya.
Latihan jalan raya juga menghadirkan tantangan tersendiri, terutama terkait pengawalan. Perbedaan kemampuan antaratlet membuat mereka terkadang tidak dapat bergerak dalam satu kelompok secara bersamaan.
“Kendalanya pengawalan karena kemampuan anak-anak belum serentak. Ada yang mendahului,” kata Suwantoro.
Menurutnya, faktor keselamatan harus menjadi perhatian utama. Terlebih, atlet yang telah lolos Babak Kualifikasi Porprov tidak dapat digantikan apabila mengalami sakit saat persiapan maupun menjelang pertandingan.
“Kalau atlet yang lolos sakit, tidak bisa digantikan. Karena itu kita harus menjaga mereka,” ujarnya.
ISSI Kudus juga menyiapkan langkah pembinaan jangka panjang. Setelah Porprov 2026, organisasi tersebut berencana memperbanyak event lokal sebagai wadah menemukan sekaligus membentuk pebalap-pebalap muda baru di Kabupaten Kudus.
“Kita akan mengadakan event lokal supaya atlet muda semakin terbentuk,” pungkasnya. (YM/YM)
Post Views: 18
