Kudus, Liputan7.Net – Pemerintah Kabupaten Kudus melalui Dinas Perdagangan (Disdag) kembali menambah fasilitas penunjang kebersihan di pasar tradisional. Pada tahun 2026 ini, tiga pasar yakni Pasar Piji, Pasar Ngablak, dan Pasar Jekulo akan mendapatkan tambahan bak kontainer sampah baru untuk mendukung pengelolaan limbah pasar agar lebih optimal.
Pengadaan tiga unit bak kontainer tersebut menelan anggaran sekitar Rp150 juta yang bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Kabupaten Kudus.
Kepala Bidang Pasar Disdag Kudus Agus Sumarsono menjelaskan, penambahan fasilitas dilakukan karena beberapa bak kontainer lama sudah mengalami kerusakan akibat usia pemakaian dan korosi dari tumpukan sampah.
Menurutnya, kontainer di Pasar Jekulo sebelumnya sudah tersedia dua unit, namun kondisinya mulai tidak layak sehingga diperlukan tambahan baru. Sementara di Pasar Piji dilakukan penambahan fasilitas, sedangkan Pasar Ngablak baru pertama kali mendapatkan bak kontainer sampah.
“Kalau di Pasar Jekulo nanti total menjadi tiga bak, karena yang lama kondisinya sudah kurang baik. Untuk Pasar Piji kita tambah, sedangkan Pasar Ngablak sebelumnya belum punya,” ujarnya, Selasa (19/5/2026).
Agus mengatakan, bak kontainer sampah di pasar tradisional memang membutuhkan perawatan rutin karena rentan rusak setelah digunakan dalam jangka waktu tertentu. Kondisi sampah yang lembap dan menumpuk membuat badan kontainer mudah berkarat.
“Rata-rata usia pakai kontainer sekitar tiga tahun, setelah itu biasanya mulai rusak karena korosi,” katanya.
Selain persoalan kerusakan fasilitas, Disdag Kudus juga masih menghadapi kendala dalam pengelolaan sampah pasar. Salah satunya terkait kebiasaan sebagian warga yang membuang sampah rumah tangga ke area pasar.
Padahal, bak kontainer yang tersedia disiapkan khusus untuk menampung sampah hasil aktivitas pedagang dan operasional pasar tradisional.
Untuk mengurangi penumpukan sampah organik, Disdag Kudus bekerja sama dengan PT Djarum dalam program pengolahan sampah di sejumlah pasar. Program tersebut saat ini diterapkan di Pasar Bitingan dan Pasar Kaliputu yang memiliki volume sampah organik cukup tinggi.
Sementara untuk sampah anorganik, pengangkutan dilakukan menuju TPA Tanjungrejo sesuai jadwal operasional petugas.
“Ada jadwal pengangkutan tertentu, yakni hari Senin, Selasa, Kamis, dan Sabtu. Sedangkan hari libur nasional dan tanggal merah petugas di TPA juga libur,” jelas Agus.
Di sisi lain, Disdag Kudus juga mulai mengembangkan budidaya magot sebagai alternatif pengolahan sampah organik. Program tersebut dijalankan di Pasar Hewan Desa Gulang sebagai upaya mengurangi volume sampah yang dibuang ke TPA.
Melalui penambahan fasilitas kontainer sampah ini, Disdag berharap kebersihan pasar tradisional di Kudus semakin terjaga dan masyarakat turut berperan aktif dengan tidak membuang sampah rumah tangga di lingkungan pasar. (AS/YM)
Post Views: 74
