Kudus, Liputan7.Net – Kepala Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Kabupaten Kudus menegaskan bahwa para pelajar harus mampu menjadi garda terdepan dalam menjaga toleransi di tengah keberagaman masyarakat. Hal tersebut disampaikan dalam kegiatan buka bersama dan talkshow lintas iman yang digelar Forum OSIS SMA Sederajat Kabupaten Kudus di Rumah Dinas Wakil Bupati Kudus, Sabtu (7/3/2026).
Kepala Kesbangpol Kudus, Andrias Wahyu Adi Setiawan, mengatakan generasi muda memiliki peran penting dalam merawat persatuan dan keharmonisan di tengah masyarakat yang memiliki latar belakang agama dan budaya yang beragam.
Menurutnya, kegiatan dialog lintas agama seperti ini menjadi sarana edukasi yang efektif untuk menanamkan nilai-nilai toleransi dan kebersamaan kepada para pelajar sejak dini.
“Pelajar diharapkan mampu menjadi garda terdepan dalam menumbuhkan sikap saling menghargai dan menjaga kerukunan di tengah perbedaan,” ujarnya.
Kegiatan yang mengusung tema “Sinergi Lintas Iman, Energi Pelajar Masa Depan” tersebut diikuti pelajar dari berbagai sekolah di Kabupaten Kudus. Selain buka puasa bersama, acara juga diisi dengan talkshow lintas iman yang menghadirkan sejumlah tokoh agama.
Para narasumber yang hadir antara lain Pandita Arbyanto dari Hindu, Upacarika Agus Yuwono dari Buddha, Pendeta Moses David dari Protestan, Monika Via dari Organisasi Muda Katolik (OMK), Goei Shi Tjwan Gie dari Konghucu, serta Habib Muhammad Muthohar sebagai tokoh Islam.
Dalam sesi diskusi, para tokoh agama menyampaikan berbagai pandangan tentang pentingnya menjaga sikap saling menghormati dan memperkuat persaudaraan di tengah keberagaman.
Pandita Arbyanto menuturkan bahwa perbedaan keyakinan seharusnya tidak menjadi penghalang untuk membangun hubungan yang harmonis di masyarakat. Ia mengajak para pelajar untuk menjadikan keberagaman sebagai kekuatan dalam mempererat persatuan.
Sementara itu, Upacarika Agus Yuwono menekankan pentingnya menanamkan nilai welas asih dan kebijaksanaan dalam kehidupan sehari-hari agar tercipta hubungan yang damai antarumat beragama.
Pendeta Moses David juga menilai dialog terbuka antaragama sangat penting untuk membangun saling pengertian. Dengan komunikasi yang baik, potensi konflik atau kesalahpahaman dapat diminimalisasi.
Perwakilan pemuda Katolik, Monika Via, menyampaikan bahwa generasi muda memiliki peran besar dalam membangun jembatan persaudaraan antarumat beragama. Ia berharap kegiatan serupa dapat terus dilaksanakan agar semangat toleransi semakin tumbuh di kalangan pelajar.
Hal serupa disampaikan tokoh Konghucu, Goei Shi Tjwan Gie, yang menilai nilai kebajikan dan keharmonisan perlu terus ditanamkan dalam kehidupan bermasyarakat.
Sementara itu, Habib Muhammad Muthohar menegaskan bahwa ajaran Islam mengajarkan pentingnya menjaga persaudaraan dan menghormati perbedaan yang ada di tengah masyarakat.
“Perbedaan adalah bagian dari kehidupan. Yang terpenting adalah bagaimana kita saling mengenal dan menjaga persaudaraan,” katanya.
Ketua Umum Forum OSIS Kudus, Naufal Mahib, menjelaskan bahwa rangkaian kegiatan dimulai dengan registrasi peserta yang dilanjutkan dengan pembukaan dan sambutan.
Dalam kesempatan tersebut juga dilakukan penyerahan penghargaan kepada ketua OSIS terbaik. Juara ketiga diraih Viona Amara Puti dari SMAN 1 Jekulo, juara kedua Carissa Carolina Koirunnisa dari SMAN 1 Kudus, dan juara pertama Muhammad Tersa dari SMAN 1 Bae.
Setelah sesi talkshow dan diskusi bersama peserta, acara dilanjutkan dengan pembagian takjil serta buka puasa bersama. Para peserta kemudian melaksanakan salat Maghrib berjamaah dan makan bersama.
Suasana kebersamaan semakin terasa saat para peserta mengikuti sesi foto bersama sebelum melaksanakan salat Isya dan Tarawih berjamaah. Kegiatan tersebut kemudian ditutup sekitar pukul 20.00 WIB. (AS/YM)
Post Views: 4
