Kudus, Liputan7.Net – Pelaku usaha perjalanan wisata di Kabupaten Kudus meminta kegiatan study tour sekolah tidak hanya dikuasai segelintir biro perjalanan tertentu. Mereka berharap seluruh biro wisata lokal yang memiliki legalitas dan memenuhi standar pelayanan diberi kesempatan yang sama untuk bersaing secara sehat.
Keluhan tersebut disampaikan sejumlah pengusaha travel wisata yang menilai saat ini ada kecenderungan beberapa sekolah hanya menggunakan biro tertentu dalam pelaksanaan study tour. Kondisi itu dinilai dapat menghambat perkembangan biro perjalanan lainnya di Kudus.
Owner HMC Tour, Wahyu, mengatakan penunjukan biro perjalanan sebaiknya dilakukan secara terbuka tanpa adanya keberpihakan kepada pihak tertentu. Menurutnya, banyak biro wisata di Kudus yang juga memiliki kualitas pelayanan dan kesiapan operasional yang baik.
“Kami berharap semuanya berjalan fair. Kudus ini bukan hanya milik satu atau dua biro saja. Yang penting memiliki izin, memenuhi SOP, dan siap memberikan pelayanan terbaik,” ujarnya.
Ia menuturkan, sekolah seharusnya diberi kebebasan menentukan biro perjalanan berdasarkan kualitas layanan, fasilitas, kesiapan armada, serta harga yang ditawarkan masing-masing penyedia jasa.
“Biarkan sekolah memilih sesuai kebutuhannya masing-masing. Kalau hanya biro tertentu yang dipakai terus, biro lain bagaimana bisa berkembang,” katanya.
Menurut Wahyu, hingga saat ini memang belum ditemukan aturan tertulis terkait penggunaan biro tertentu dalam kegiatan study tour. Namun di lapangan, ia melihat adanya kecenderungan penggunaan biro yang sama oleh sejumlah sekolah.
“Yang terjadi sekarang biasanya hanya satu, dua, atau paling banyak tiga biro yang sering dipakai,” ungkapnya.
Ia menilai kondisi tersebut berpotensi memunculkan persaingan usaha yang tidak sehat apabila dibiarkan berlangsung terus-menerus. Sebab, banyak biro perjalanan lokal lain yang sebenarnya juga memiliki kemampuan menangani kegiatan study tour sekolah.
“Kalau hanya menghidupkan pihak tertentu sementara yang lain tidak diberi kesempatan, tentu persaingan usahanya jadi tidak sehat,” tegasnya.
Wahyu menjelaskan, dalam proses penawaran jasa biasanya biro perjalanan menyampaikan proposal kegiatan, konsep pelayanan, kesiapan armada, hingga rincian biaya kepada pihak sekolah. Dari situ, sekolah dapat menentukan pilihan secara objektif sesuai kebutuhan.
“Biasanya sekolah memilih biro yang pelayanannya bagus dengan harga yang sesuai. Itu yang seharusnya menjadi pertimbangan utama,” jelasnya.
Selain itu, pihaknya juga berharap tidak ada arahan lisan dari pihak tertentu yang secara tidak langsung menggiring sekolah menggunakan biro perjalanan tertentu. Menurutnya, kondisi tersebut dapat memengaruhi independensi sekolah dalam menentukan pilihan.
“Kalau ada imbauan memakai biro tertentu, sekolah pasti juga merasa sungkan. Walaupun tidak tertulis, tetap ada pengaruhnya,” ujarnya.
Para pelaku usaha travel wisata berharap pemerintah daerah maupun pemangku kebijakan pendidikan di Kabupaten Kudus dapat menjaga iklim usaha tetap sehat dan kompetitif agar seluruh biro perjalanan lokal yang memenuhi syarat memiliki kesempatan yang sama dalam melayani kegiatan study tour sekolah. (AS/YM)
Post Views: 27
