0 6 min 6 mths

Kudus, Liputan7.Net – Menyikapi imbauan pemerintah terkait penerapan Work From Home (WFH) sebagai upaya efisiensi energi, Pura Group menyatakan dukungannya dengan melakukan penyesuaian operasional secara proporsional. Perusahaan memastikan kebijakan ini diterapkan secara selektif tanpa mengganggu jalannya lini produksi.

Direktur HR-GA Pura Group, Agung Subani, menjelaskan bahwa skema WFH dikhususkan untuk fungsi-fungsi back-office atau pekerjaan yang sifatnya work anywhere. Sementara itu, untuk lini operasional pabrik, kegiatan tetap berjalan seperti biasa dengan mematuhi perundang-undangan yang berlaku.

“Pada prinsipnya, Pura Group menghormati dan mendukung kebijakan yang bertujuan untuk kepentingan nasional, termasuk efisiensi energi. Kami berkomitmen menjaga keseimbangan antara kepatuhan kebijakan pemerintah, keberlangsungan operasional, serta kesejahteraan seluruh karyawan,” ujar Agung.

Sebagai tindak lanjut, Pura Group saat ini telah menerapkan sistem lima hari kerja untuk kantor-kantor perwakilan. Kebijakan ini rencananya juga akan diperluas untuk semua staf unit produksi mulai 16 April 2026 mendatang, dengan menyesuaikan sistem penggajian (payroll).

Terkait potensi munculnya kecemburuan sosial antara staf kantor dan pekerja lini produksi yang tetap harus hadir fisik, Agung menepis hal tersebut. Menurutnya, pemberlakuan lima maupun enam hari kerja di lingkungan Pura Group telah memiliki landasan yang jelas dan transparan, yakni mengacu pada undang-undang ketenagakerjaan dan Perjanjian Kerja Bersama (PKB) Pura Group.

Sediakan Bus Karyawan hingga Hadapi Tantangan Harga Minyak Dunia
Dalam upaya menekan penggunaan kendaraan pribadi untuk penghematan BBM, Pura Group sebenarnya telah memiliki inisiatif penyediaan armada bus karyawan. Fasilitas ini berawal dari upaya screening penularan Covid-19 pada masa pandemi. Rute yang dilayani meliputi Semarang–Kudus, serta beberapa rute lokal di Kabupaten Kudus seperti Jati–Undaan dan Jati–Terban.

“Seiring berjalannya waktu, fasilitas bus ini terbukti sangat membantu dari sisi karyawan, sehingga akhirnya terus berjalan operasionalnya sampai sekarang,” tambah Agung.

Di tengah upaya efisiensi energi tersebut, Pura Group juga tengah menghadapi tantangan berat akibat kenaikan harga minyak dunia. Sektor yang paling terdampak adalah unit usaha percetakan solvent-base dengan sistem rotogravure, yang banyak memproduksi aplikasi plastik dan produk sejenis aluminium. Kenaikan bahan baku turunan minyak ini menuntut perusahaan untuk bergerak cepat.

Menyikapi hal ini, manajemen Pura Group telah mengambil sejumlah langkah strategis guna memastikan keberlangsungan industri. Berbagai kajian efisiensi dilakukan di berbagai lini, mulai dari pencarian bahan substitusi, optimalisasi proses produksi, hingga kalkulasi ulang harga jual produk.

“Kita semua berharap agar krisis global ini cepat berlalu sehingga iklim berusaha kembali normal, dan ancaman efisiensi tenaga kerja bisa teratasi,” pungkas Agung.

Pura Group Terapkan Kebijakan WFH Selektif dan Lima Hari Kerja untuk Dukung Efisiensi Energi //
Sikapi WFH, Pura Group : Dukung Kebijakan Nasional, Efisiensi Energi Demi Keberlanjutan Operasional Dunia Usaha

Kudus, Liputan7.Net – Menyikapi imbauan pemerintah terkait penerapan Work From Home (WFH) sebagai upaya efisiensi energi, Pura Group menyatakan dukungannya dengan melakukan penyesuaian operasional secara proporsional. Perusahaan memastikan kebijakan ini diterapkan secara selektif tanpa mengganggu jalannya lini produksi.

Direktur HR-GA Pura Group, Agung Subani, menjelaskan bahwa skema WFH dikhususkan untuk fungsi-fungsi back-office atau pekerjaan yang sifatnya work anywhere. Sementara itu, untuk lini operasional pabrik, kegiatan tetap berjalan seperti biasa dengan mematuhi perundang-undangan yang berlaku.

“Pada prinsipnya, Pura Group menghormati dan mendukung kebijakan yang bertujuan untuk kepentingan nasional, termasuk efisiensi energi. Kami berkomitmen menjaga keseimbangan antara kepatuhan kebijakan pemerintah, keberlangsungan operasional, serta kesejahteraan seluruh karyawan,” ujar Agung.

Sebagai tindak lanjut, Pura Group saat ini telah menerapkan sistem lima hari kerja untuk kantor-kantor perwakilan. Kebijakan ini rencananya juga akan diperluas untuk semua staf unit produksi mulai 16 April 2026 mendatang, dengan menyesuaikan sistem penggajian (payroll).

Terkait potensi munculnya kecemburuan sosial antara staf kantor dan pekerja lini produksi yang tetap harus hadir fisik, Agung menepis hal tersebut. Menurutnya, pemberlakuan lima maupun enam hari kerja di lingkungan Pura Group telah memiliki landasan yang jelas dan transparan, yakni mengacu pada undang-undang ketenagakerjaan dan Perjanjian Kerja Bersama (PKB) Pura Group.

Sediakan Bus Karyawan hingga Hadapi Tantangan Harga Minyak Dunia
Dalam upaya menekan penggunaan kendaraan pribadi untuk penghematan BBM, Pura Group sebenarnya telah memiliki inisiatif penyediaan armada bus karyawan. Fasilitas ini berawal dari upaya screening penularan Covid-19 pada masa pandemi. Rute yang dilayani meliputi Semarang–Kudus, serta beberapa rute lokal di Kabupaten Kudus seperti Jati–Undaan dan Jati–Terban.

“Seiring berjalannya waktu, fasilitas bus ini terbukti sangat membantu dari sisi karyawan, sehingga akhirnya terus berjalan operasionalnya sampai sekarang,” tambah Agung.

Di tengah upaya efisiensi energi tersebut, Pura Group juga tengah menghadapi tantangan berat akibat kenaikan harga minyak dunia. Sektor yang paling terdampak adalah unit usaha percetakan solvent-base dengan sistem rotogravure, yang banyak memproduksi aplikasi plastik dan produk sejenis aluminium. Kenaikan bahan baku turunan minyak ini menuntut perusahaan untuk bergerak cepat.

Menyikapi hal ini, manajemen Pura Group telah mengambil sejumlah langkah strategis guna memastikan keberlangsungan industri. Berbagai kajian efisiensi dilakukan di berbagai lini, mulai dari pencarian bahan substitusi, optimalisasi proses produksi, hingga kalkulasi ulang harga jual produk.

“Kita semua berharap agar krisis global ini cepat berlalu sehingga iklim berusaha kembali normal, dan ancaman efisiensi tenaga kerja bisa teratasi,” pungkas Agung.


Post Views: 18



Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *