0 3 min 16 hrs

KUDUS, Liputan7.Net – RS Mardi Rahayu Kudus resmi mengoperasikan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) Atap berkapasitas 416 kilowatt peak (kWp), Kamis (1/10/2026). Pemanfaatan energi surya ini menjadi langkah rumah sakit dalam meningkatkan efisiensi energi sekaligus memperkuat komitmen terhadap lingkungan.

Direktur Utama RS Mardi Rahayu, Dr. Pujianto, M.Kes, mengatakan kapasitas PLTS tahap pertama tersebut setara sekitar 25 persen dari total daya terpasang rumah sakit yang mencapai 1.665 kVA.

“PLTS ini kami kerjasamakan dengan Solar Radiance selama 25 tahun dengan model zero investment, dengan kapasitas 416 kilowatt peak,” ujar Pujianto.

Menurutnya, PLTS memanfaatkan sinar matahari sekitar empat hingga enam jam setiap hari, tergantung kondisi cuaca. Besaran penghematan secara riil baru dapat diketahui setelah sistem berjalan dan digunakan selama beberapa waktu.

Foto Pemsangan PLTS di RS Mardi Rahayu Kudus. (Foto: YM)

Pujianto menegaskan PLTS bukan pengganti listrik PLN ketika terjadi pemadaman. Sistem tersebut digunakan untuk meminimalkan pemakaian listrik PLN ketika matahari tersedia. Sementara untuk kondisi darurat, RS Mardi Rahayu tetap memiliki genset yang mampu meng-cover seluruh kebutuhan daya rumah sakit maksimal dalam waktu delapan detik.

Head of Business Development Solar Radiance, Billy Jayadi, menjelaskan listrik yang dihasilkan PLTS terkoneksi dengan instalasi kelistrikan rumah sakit dan dapat digunakan untuk kebutuhan operasional. Pemasangan tahap pertama mencakup sekitar tiga area atap gedung.

“Dari yang sebelumnya seluruhnya PLN, sekarang sebagian menjadi PLTS dengan listrik yang dihasilkan secara mandiri di atas RS Mardi Rahayu, dengan harga yang kompetitif dan tentunya berbasis energi hijau,” jelas Billy.

Billy menyebut pemanfaatan PLTS secara rata-rata berpotensi menggantikan sekitar 12 persen penggunaan listrik PLN. Sementara dari sisi biaya, potensi penghematan diperkirakan berada di kisaran 15 hingga 20 persen, meski angka tersebut bergantung pada kapasitas terpasang dan pola operasional rumah sakit.

Kerja sama tersebut menggunakan skema zero investment. RS Mardi Rahayu tidak mengeluarkan investasi awal, sedangkan Solar Radiance menangani pembangunan, pengoperasian, serta pemeliharaan PLTS selama masa kerja sama 25 tahun.

“RS Mardi Rahayu cukup membayar dari listrik yang dihasilkan. Kami bertugas mengoperasikan dan me-maintain aset tersebut selama 25 tahun,” kata Billy.

Terkait nilai investasi, Billy menyebut besaran proyek bergantung pada kondisi masing-masing atap. Sebagai gambaran umum, investasi PLTS berada di kisaran 500 ribu dolar AS per 1 MWp.

Ke depan, kapasitas PLTS direncanakan kembali ditambah sekitar 50 persen melalui tahap kedua di gedung lainnya. Setelah masa kerja sama 25 tahun berakhir, seluruh unit PLTS akan menjadi milik RS Mardi Rahayu.

Pujianto menegaskan penggunaan energi surya bukan semata-mata untuk menghemat biaya operasional. Komitmen terhadap keberlanjutan menjadi bagian penting dalam upaya rumah sakit menuju konsep Green Hospital.

“Di luar dari penghematan harga listrik, komitmen terhadap keberlanjutan itu yang menjadi poin utama,” tegasnya.

Berdasarkan keterangan resmi RS Mardi Rahayu, PLTS Atap 416 kWp diproyeksikan menghasilkan sekitar 584,40 MWh energi listrik per tahun dan menghindari emisi sekitar 521 ton CO₂ per tahun. (YM/YM)


Post Views: 27

Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *