KUDUS, ISKEWS.COM – Bakti Lingkungan Djarum Foundation (BLDF) tak hanya membawa misi penghijauan dalam gelaran Ultra Trail Mount Moeria (UTMM) 2026. Melalui program Kudus ASIK (Apik Resik), BLDF turut mengelola sampah yang dihasilkan peserta dan pengunjung selama kegiatan berlangsung di kawasan Taman Ria, Desa Colo, Kecamatan Dawe, Kabupaten Kudus, Minggu (4/10/2026).
Pengelolaan sampah tersebut dilakukan dengan menyediakan fasilitas pemilahan di sejumlah titik kegiatan. Peserta maupun pengunjung dapat membuang sampah berdasarkan jenisnya sehingga material yang masih bernilai dapat dipisahkan untuk dimanfaatkan kembali.
Upaya tersebut menjadi bagian dari komitmen BLDF dalam mendorong kegiatan olahraga yang tetap memperhatikan kondisi lingkungan. Terlebih, UTMM 2026 mengambil rute di kawasan lereng Gunung Muria yang memiliki kekayaan ekosistem dan menjadi habitat berbagai jenis flora serta fauna.
Deputy Program Manager Bakti Lingkungan Djarum Foundation, Dandy Mahendra, mengatakan menjaga kelestarian lingkungan tidak cukup hanya dilakukan melalui kegiatan penanaman pohon. Menurutnya, persoalan sampah juga perlu ditangani secara bersamaan agar upaya pelestarian dapat berjalan secara menyeluruh.
“Bagi BLDF, pelestarian lingkungan perlu dilakukan secara holistik dan menyeluruh, mulai dari penghijauan hingga pengelolaan sampah. Kawasan Muria merupakan habitat berbagai flora dan fauna, termasuk macan tutul Jawa dan elang Jawa,” ujar Dandy.
Ia menjelaskan, keterlibatan BLDF dalam UTMM 2026 diwujudkan melalui dua pendekatan. Selain menghadirkan Kudus ASIK untuk mengelola sampah selama kegiatan, BLDF juga menjalankan program Stride for Nature yang mengonversi jarak tempuh peserta menjadi dukungan penghijauan.
Melalui program Stride for Nature, sebanyak 11.603 bibit pohon disalurkan sebagai bagian dari kontribusi terhadap pelestarian lingkungan. Dengan demikian, aktivitas olahraga yang berlangsung di lereng Muria tidak hanya memberikan pengalaman bagi peserta, tetapi juga menghasilkan aksi nyata bagi alam.
Dalam mekanismenya, sampah yang dikumpulkan selama UTMM akan dipilah berdasarkan kategorinya. Material yang masih mempunyai nilai guna selanjutnya diarahkan untuk proses pemanfaatan kembali, sehingga sampah yang berakhir di tempat pembuangan akhir dapat ditekan.
BLDF juga menghadirkan booth interaktif Kudus ASIK di area kegiatan. Peserta dan masyarakat yang mengumpulkan sampah dapat menukarkannya dengan merchandise sebagai bentuk apresiasi sekaligus sarana edukasi mengenai kebiasaan memilah sampah.
Salah seorang peserta UTMM 2026 asal Tegal, Abdul Basyir (33), mengapresiasi fasilitas pengelolaan sampah yang tersedia selama perlombaan. Ia menilai keberadaan tempat pemilahan membuat peserta lebih mudah berkontribusi menjaga kebersihan lingkungan.
“Penyelenggaraan kegiatan dikemas sangat kreatif dan sebagai pelari, di beberapa titik saya juga merasa dimudahkan oleh ketersediaan tempat pilah sampah yang difasilitasi BLDF,” ungkap Abdul.
Menurutnya, konsep penukaran sampah dengan merchandise juga menjadi pengalaman menarik bagi peserta. Tidak hanya pelari, pengunjung yang datang ke lokasi UTMM pun dapat berpartisipasi dalam gerakan tersebut melalui booth Kudus ASIK.
Program Kudus ASIK merupakan salah satu upaya BLDF untuk mendukung target Zero Waste Zero Emission (ZWZE) 2040. Inisiatif ini diarahkan untuk membangun kesadaran masyarakat terhadap pengurangan dan pengelolaan sampah secara berkelanjutan.
Sejak 2022, BLDF telah mengembangkan sistem pengelolaan sampah organik dengan menggandeng berbagai pihak. Jaringan tersebut melibatkan rumah makan, fasilitas pelayanan umum, perusahaan, hotel, pasar, hingga masyarakat di Kabupaten Kudus.
Sampah organik yang berhasil dikumpulkan kemudian diproses di fasilitas Pusat Pengolahan Organik (PPO) dan Pusat Pembibitan Tanaman (PPT) Djarum Foundation di Kabupaten Kudus. Fasilitas tersebut memiliki pusat pengomposan dengan kapasitas pengolahan mencapai 100 ton.
Hingga kini, jaringan pengumpulan sampah organik yang dikembangkan BLDF telah mencakup 712 titik di Kabupaten Kudus. Dari seluruh jaringan tersebut, total sampah organik yang telah berhasil dikumpulkan tercatat mencapai 60.499 ton. (AS/YM)
Post Views: 27
