0 3 min 5 mths

Kudus, Liputan7.Net – Pemerintah Kabupaten Kudus terus berupaya mengenalkan sejarah dan budaya daerah kepada generasi muda melalui pendekatan kreatif. Salah satunya lewat pementasan teater “Gadis Pingitan” yang digelar di Gedung Auditorium Universitas Muria Kudus, Sabtu (9/5/2026), bertepatan dengan peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) 2026.

Pementasan tersebut disaksikan langsung oleh Bupati Kudus, Sam’ani Intakoris. Pertunjukan ini mengangkat kisah tradisi perjodohan dan budaya pingitan yang pernah berkembang di kawasan Kudus Kulon pada masa silam.

Menariknya, ide awal penggarapan teater sekaligus film dokumenter “Gadis Pingitan” berasal dari gagasan Bupati Sam’ani. Konsep itu kemudian dikembangkan bersama Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) Bahasa Indonesia SMP Kabupaten Kudus sebagai bentuk pelestarian sejarah lokal melalui seni pertunjukan.

Sam’ani menyampaikan apresiasinya kepada para pelajar, guru, dan seluruh pihak yang terlibat dalam pementasan tersebut. Menurutnya, karya seni seperti ini menjadi bukti bahwa generasi muda Kudus masih memiliki kepedulian terhadap budaya daerahnya sendiri.

“Atas nama Pemkab Kudus, kami sangat mengapresiasi kegiatan ini. Anak-anak muda di Kudus ternyata masih punya semangat berkarya dan menjaga budaya lokal,” ujarnya.

Ia berharap, teater dan film dokumenter tersebut mampu menjadi sarana edukasi sejarah sekaligus memperkenalkan nilai-nilai kearifan lokal kepada masyarakat, khususnya kalangan pelajar.

“Melalui karya ini, generasi muda bisa belajar banyak hal, termasuk tentang penghormatan terhadap perempuan dan nilai budaya yang tetap relevan sampai sekarang,” tambahnya.

Koordinator MGMP Bahasa Indonesia SMP Kabupaten Kudus, Ahmad Sofya Edi, menjelaskan bahwa proyek “Gadis Pingitan” dibuat sebagai ruang refleksi terhadap tradisi pingitan yang selama ini kerap dipahami secara sempit.

Menurutnya, cerita dalam pementasan tersebut menghadirkan sudut pandang berbeda melalui tokoh Rania, seorang remaja asal Kudus Kulon, yang mencoba memahami makna tradisi dari sisi pendidikan dan budaya.

“Tradisi pingitan tidak hanya soal membatasi perempuan, tetapi juga memiliki nilai pendidikan dan pembentukan karakter yang perlu dipahami lebih dalam,” jelasnya.

Ia menambahkan, guru tidak hanya bertugas menyampaikan materi pelajaran di sekolah, namun juga memiliki tanggung jawab menjadi penggerak budaya di tengah masyarakat.

“Ini merupakan karya kedua kami. Harapannya, seni dan literasi bisa menjadi media untuk menjaga budaya sekaligus membangun karakter generasi muda,” katanya.

Sementara itu, perwakilan Djarum Foundation, Asa Jatmiko, turut memberikan apresiasi terhadap lahirnya karya budaya tersebut. Ia menilai, pementasan “Gadis Pingitan” mampu menghadirkan nilai-nilai lokal yang tetap relevan di tengah perkembangan zaman.

“Aspek yang menarik dari kegiatan ini adalah ide awalnya berasal dari Bupati Kudus sendiri. Karya seperti ini penting untuk mengabadikan kearifan lokal agar terus dikenal generasi berikutnya,” ungkapnya. (AS/YM)


Post Views: 6

Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *