KUDUS, ISKNEWS.com — Di tengah ramainya aktivitas pedagang di Balai Jagong Kudus, ada sosok muda yang tumbuh bersama gerobak dagangan milik keluarganya. Sejak masih duduk di bangku kelas 6 Sekolah Dasar, Fatir telah terbiasa membantu orang tuanya melayani pembeli. Berawal dari keinginan mencari uang jajan, ia justru menemukan pengalaman berharga tentang arti kerja keras dan tanggung jawab.
Kini, usaha kuliner keluarganya telah bertahan selama sekitar enam tahun. Sejak tahun 2020, Fatir rutin membantu orang tuanya berjualan di Balai Jagong Kudus. Baginya, berjualan bukan sekadar rutinitas, tetapi juga cara untuk ikut menjaga keberlangsungan usaha keluarga.
“Saya awalnya ingin mencari uang jajan, tapi lama-lama juga ingin membantu orang tua mengembangkan usaha,” ujarnya.
Dari balik gerobak sederhana itu, Fatir belajar banyak hal yang tidak ia dapatkan di bangku sekolah. Ia belajar melayani pelanggan dengan ramah, memahami kebutuhan pembeli, hingga mengenal bagaimana mengelola usaha secara perlahan. Pengalaman tersebut menjadi bekal berharga yang membentuk kemandiriannya sejak usia dini.
Namun, perjalanan menjalankan usaha tidak selalu berjalan mulus. Jumlah pembeli yang datang setiap hari tidak dapat dipastikan. Ada hari ketika dagangan laris diserbu pengunjung, tetapi tidak sedikit pula hari-hari yang sepi sehingga pendapatan menurun.
Selain itu, cuaca menjadi tantangan yang hampir selalu dihadapi para pedagang di Balai Jagong Kudus. Saat hujan turun secara tiba-tiba, Fatir bersama keluarganya harus bergerak cepat menutup gerobak dengan terpal dan membereskan dagangan agar tidak rusak. Kondisi tersebut kerap memaksa mereka mengakhiri aktivitas berjualan lebih awal.
Meski dihadapkan pada berbagai tantangan, semangat Fatir untuk terus mengembangkan usaha tidak pernah surut. Ia berharap suatu hari nanti gerobak dagangan keluarganya dapat diperbarui agar terlihat lebih menarik dan nyaman bagi pelanggan. Di saat yang sama, ia juga berharap semakin banyak masyarakat yang datang dan membeli dagangannya.
Bagi Fatir, setiap pelanggan yang datang bukan sekadar menambah penghasilan, tetapi juga menjadi penyemangat untuk terus mempertahankan usaha yang telah dirintis keluarganya selama bertahun-tahun.
Kisah Fatir menjadi potret bagaimana UMKM tidak hanya berperan sebagai penggerak ekonomi masyarakat, tetapi juga menjadi ruang belajar bagi generasi muda tentang kerja keras, tanggung jawab, dan semangat membantu keluarga. Di balik gerobak sederhana yang setiap hari berdiri di Balai Jagong Kudus, tersimpan harapan agar usaha kecil itu terus tumbuh dan membawa masa depan yang lebih baik.
Penulis : Ferdi Nur Alfiyan (PPL UIN SUKU)
Post Views: 44
