KUDUS, Liputan7.Net – Kepala Dusun (Kadus) 3 Desa Jatiwetan, Gin Sugianto, angkat bicara mengenai cekcok yang terjadi di depan Pasar Saerah, Desa Jatiwetan, Kecamatan Jati, Kabupaten Kudus. Ia membantah tudingan bahwa dirinya dalam kondisi mabuk ketika terlibat perdebatan dengan sekelompok orang.
Gin menjelaskan, peristiwa tersebut berlangsung pada Kamis (6/8/2026) sekitar pukul 23.45 WIB. Saat itu, dirinya tengah berkeliling wilayah desa sebagai bagian dari upaya menjaga keamanan dan ketertiban lingkungan.
Ketika berada di sekitar Pasar Saerah, Gin melihat puluhan orang berkumpul. Jumlahnya diperkirakan mencapai 20 hingga 30 orang. Kelompok tersebut disebut membawa sejumlah spanduk yang menurutnya berisi tulisan bernada provokatif terhadap masyarakat Desa Jatiwetan.
Melihat kondisi tersebut, Gin kemudian mendatangi kelompok itu. Ia meminta agar spanduk tidak dipasang di wilayah Desa Jatiwetan serta menanyakan maksud dan tujuan kegiatan tersebut.
“Waktu itu saya sedang keliling wilayah untuk menjaga keamanan. Saya melihat ada kelompok membawa spanduk di sekitar pasar, kemudian saya menanyakan maksud pemasangan spanduk tersebut,” kata Gin.
Dari penjelasan yang diterimanya, kelompok tersebut mengaku berasal dari salah satu oknum organisasi PWILS. Mereka menyampaikan bahwa kedatangannya berkaitan dengan pengawalan dugaan tindak pidana korupsi dalam proses tukar-menukar tanah di Desa Jatiwetan.
Pembicaraan antara kedua pihak kemudian berkembang menjadi perdebatan. Dalam situasi tersebut, Gin mengaku mendapat tudingan bahwa dirinya sedang dalam pengaruh minuman keras.
Gin dengan tegas membantah tudingan tersebut. Ia menyatakan tidak mengonsumsi minuman keras maupun menggunakan narkoba ketika berada di lokasi kejadian.
“Saya sama sekali tidak dalam kondisi mabuk. Saya bahkan pernah menjadi Ketua Gerakan Anti Madat dan ikut menyosialisasikan bahaya minuman keras serta narkoba kepada masyarakat,” tegasnya.
Ia menjelaskan, keberadaannya di lokasi bukan untuk mencari persoalan, melainkan untuk memastikan situasi tetap aman. Gin khawatir keberadaan spanduk yang dinilainya provokatif dapat memancing reaksi warga dan berpotensi menimbulkan konflik.
Menurutnya, kondisi Desa Jatiwetan selama ini relatif kondusif. Karena itu, ia berharap persoalan yang muncul tidak berkembang menjadi gangguan keamanan maupun ketertiban masyarakat. (AS/YM)
Post Views: 15
