KUDUS, Liputan7.Net – Pemerintah Kabupaten Kudus bersama Polres Kudus menunjukkan komitmen kuat dalam mendukung para petani demi mewujudkan swasembada pangan. Tak hanya melalui bantuan alat dan mesin pertanian, kebutuhan bahan bakar minyak (BBM) untuk operasional pertanian juga siap dikawal, bahkan polisi bersedia turun langsung membantu petani mendapatkan solar.
Komitmen tersebut mengemuka dalam kegiatan penyerahan bantuan alat dan mesin pertanian (alsintan) di Kabupaten Kudus. Bupati Kudus Sam’ani Intakoris menegaskan, keberhasilan ketahanan pangan membutuhkan dukungan bersama, mulai dari pemerintah, aparat keamanan hingga para petani.
Menurut Sam’ani, bantuan alsintan yang diberikan pemerintah harus benar-benar dapat dimanfaatkan secara optimal. Namun, keberadaan alat pertanian juga harus didukung dengan ketersediaan pupuk, air dan BBM agar kegiatan produksi pangan dapat berjalan lancar.
“Kita kawal semuanya. Semoga kebutuhan pupuk dan kebutuhan BBM untuk alat itu bisa berjalan semuanya,” kata Sam’ani.
Ia meminta kebutuhan BBM bagi alat pertanian dapat digunakan sesuai peruntukannya dan tidak disalahgunakan untuk kepentingan lain. Pemerintah daerah bersama kepolisian akan melakukan pengawalan agar kebutuhan petani benar-benar terpenuhi.
Kapolres Kudus AKBP Wahyu Sulistyo menegaskan, Polres Kudus siap memberikan dukungan penuh terhadap program ketahanan pangan dan swasembada pangan yang dijalankan Pemerintah Kabupaten Kudus.
Bahkan, kata Wahyu, jajarannya siap turun langsung apabila petani mengalami kesulitan mendapatkan solar di SPBU yang direkomendasikan untuk memenuhi kebutuhan alsintan.
“Kalau perlu kita pakai mobil polisi ke sana, ke SPBU yang ada solarnya kita beli. Peruntukannya memang untuk petani. Kita support Pak Bupati untuk ketahanan pangan,” tegas Wahyu.
Ia meminta kebutuhan BBM dapat diajukan secara kolektif melalui kelompok tani atau gabungan kelompok tani. Dengan cara tersebut, kebutuhan dapat dihitung dengan jelas dan proses pengawalan lebih mudah dilakukan.
“Jadi satu saja, jangan satu-satu. Kalau ada stoknya, kita pasti belikan dan kita kawal. Khusus untuk petani,” ujarnya.
Menurut Wahyu, langkah tersebut dilakukan agar petani tidak kehilangan waktu dan tenaga hanya untuk mencari solar atau menghadapi persoalan administrasi saat membeli BBM. Selama digunakan sesuai ketentuan untuk kegiatan pertanian, pihak kepolisian siap membantu mengawal.
Dukungan tersebut disambut positif oleh kalangan petani. Heri Setiawan dari Gapoktan Suryorejo, Kecamatan Mejobo, mengaku selama ini petani menghadapi kendala ketika stok solar di SPBU yang direkomendasikan habis.
“Dari Dinas Pertanian kita melakukan pembelian di SPBU yang direkomendasikan. Ketika di situ habis dan tidak ada solar, kita tidak bisa membeli ke SPBU sebelah karena rekomendasinya di SPBU tersebut. Jadi kendalanya di situ,” ungkap Heri.
Menurut Heri, bantuan pengawalan dari kepolisian akan sangat membantu petani, khususnya kelompok tani yang mengandalkan pompanisasi untuk mengairi sawah.
“Kalau memang Pak Kapolres membantu para petani, ya kita sangat bersyukur sekali,” katanya.
Gapoktan Suryorejo sendiri saat ini mengelola sekitar 60 hektare lahan pertanian di Kecamatan Mejobo. Lahan yang mulai dikelola secara produktif sejak 2023 itu membutuhkan sistem pompanisasi untuk memenuhi kebutuhan air.
Heri mengatakan, terdapat delapan pompa yang digunakan untuk menunjang pengairan. Namun, lahan tersebut belum dapat ditanami hingga musim tanam ketiga karena saat musim kemarau sumber air sungai mengalami kekeringan.
Selain itu, pendangkalan sungai juga menjadi persoalan yang dihadapi petani. Ia berharap perbaikan saluran air dapat dilakukan sehingga produktivitas lahan meningkat dan petani berpeluang menambah masa tanam.
Sinergi Pemkab Kudus dan Polres Kudus tersebut diharapkan mampu menjawab berbagai persoalan yang dihadapi petani, mulai dari ketersediaan sarana produksi hingga kebutuhan BBM. Dengan dukungan bersama, target menjaga ketahanan dan mewujudkan swasembada pangan di Kabupaten Kudus diharapkan dapat terus berjalan. (YM/YM)
Post Views: 24
