0 5 min 2 mths

KUDUS, Liputan7.Net – Sebanyak 250 siswa sekolah dasar (SD) di Kabupaten Kudus mendapatkan bantuan kacamata setelah hasil skrining awal menunjukkan adanya indikasi gangguan penglihatan. Bantuan tersebut disalurkan Rotary Club sebagai bagian dari upaya membantu anak mendapatkan penanganan mata sejak usia sekolah.

Pemberian kacamata tersebut dilakukan setelah sebelumnya sebanyak 400 siswa dari sejumlah SD di Kecamatan Kota mengikuti skrining dasar. Pemeriksaan awal yang dilakukan oleh guru menemukan sekitar 250 anak yang membutuhkan pemeriksaan mata lebih lanjut.

Hasil skrining tersebut kemudian ditindaklanjuti melalui pemeriksaan kesehatan mata di Puskesmas Wergu, Selasa (1/9/2026). Pemeriksaan dilakukan untuk memastikan kondisi penglihatan siswa sekaligus menentukan kebutuhan penanganan masing-masing anak.

District Governor (DG) Rotary International District 3420 Indonesia, I Wayan Tur Adnyana, mengatakan kegiatan tersebut merupakan bagian dari komitmen Rotary dalam mendukung deteksi dini gangguan penglihatan pada anak.

Menurut Wayan, keterlibatan guru dalam melakukan skrining awal menjadi langkah penting. Dengan kemampuan mendeteksi indikasi gangguan mata sejak dini, anak yang membutuhkan pemeriksaan lanjutan dapat segera diarahkan kepada tenaga kesehatan.

Selain melakukan pemeriksaan, Rotary Club juga menyerahkan 250 kacamata kepada siswa yang dinilai membutuhkan. Penyerahan bantuan tersebut dilakukan secara simbolis dalam kegiatan pemeriksaan mata di Puskesmas Wergu.

“Ini menjadi momentum bahwa Rotary bisa melakukan kegiatan yang berdampak bagi anak-anak kita. Ke depan lebih banyak yang bisa kita bantu, tidak hanya di kesehatan, tetapi di pendidikan dan lain sebagainya juga,” ujar Wayan.

Ia menilai kondisi penglihatan anak tidak bisa dipisahkan dari aktivitas belajar. Anak yang mengalami gangguan mata dan tidak segera mendapatkan penanganan berpotensi mengalami kesulitan ketika mengikuti pembelajaran di sekolah.

Karena itu, Rotary berharap sinergi dengan Pemerintah Kabupaten Kudus dapat terus diperkuat. Kolaborasi tersebut diharapkan mampu memperluas akses pemeriksaan serta penanganan kesehatan mata bagi anak-anak di wilayah lainnya.

“Anak-anak diberikan fasilitas ini untuk mengurangi mereka bermain gadget, sehingga ketika matanya sudah ditangani mereka akan optimal lagi dalam belajar,” imbuhnya.

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten (DKK) Kudus, dr. Abdul Hakam, memberikan apresiasi terhadap program tersebut. Ia menyebut hasil pemeriksaan menunjukkan masih terdapat anak yang memiliki tingkat gangguan penglihatan cukup tinggi.

Salah satu temuan dalam pemeriksaan bahkan menunjukkan seorang anak mengalami mata minus hingga tiga. Hakam menilai kondisi tersebut perlu menjadi perhatian serius, terlebih pemeriksaan baru dilakukan pada satu wilayah layanan puskesmas.

“Tadi kaget ada anak pas diperiksa langsung ternyata minus tiga, ini sangat prihatin kita di sini dan ini baru satu puskesmas. Maka dari itu, kami sangat apresiasi pelatihan yang diinisiasi Rotary dan pemberian kaca mata,” tuturnya.

Hakam menyampaikan bahwa kebutuhan layanan kesehatan mata masih menghadapi kendala dari sisi pembiayaan. Kondisi tersebut membuat dukungan dari organisasi maupun pihak lain melalui program sosial menjadi penting untuk membantu masyarakat.

Ia menjelaskan, pelayanan pengobatan mata hingga saat ini belum seluruhnya dapat ditanggung oleh BPJS Kesehatan. Karena itu, bantuan dari Rotary dinilai dapat menjadi dukungan tambahan bagi pemerintah daerah dalam menangani persoalan gangguan penglihatan.

Sementara itu, Kasi Kurikulum Disdikpora Kudus, Maulana Majid, mengatakan pemerintah daerah juga berupaya mengurangi penggunaan gawai secara berlebihan pada anak.

Upaya tersebut salah satunya dilakukan melalui Surat Edaran (SE) Bupati Kudus Nomor 400.3/2829/2026 mengenai pembatasan penggunaan gawai. Pihak sekolah didorong untuk menyampaikan ketentuan tersebut kepada orang tua siswa.

“Dari dinas pendidikan sudah ada SE Bupati 400.3/2829/2026 terkait pembatasan penggunaan gawai, jadi kami mendorong lewat bapak ibu guru untuk sosialisasi ke wali murid, penggunaan gawai, terutama di usia satu sampai dua tahun zero HP,” jelas Majid.

Majid menambahkan, pengetahuan mengenai skrining gangguan mata yang diberikan kepada 50 guru diharapkan dapat diterapkan dan dibagikan kepada guru lainnya. Dengan demikian, cakupan deteksi dini dapat diperluas ke lebih banyak sekolah di Kudus.

Melalui keterampilan tersebut, guru diharapkan mampu mengenali tanda awal gangguan penglihatan pada siswa. Anak yang menunjukkan indikasi dapat segera diarahkan untuk menjalani pemeriksaan lebih lanjut sehingga gangguan mata tidak sampai menghambat proses belajar. (AS/YM)


Post Views: 23

Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *