0 4 min 2 hrs

KUDUS, Liputan7.Net — Penanganan club foot tidak hanya berbicara mengenai tindakan medis, tetapi juga tentang bagaimana pasien dan keluarga mendapatkan pendampingan selama menjalani proses yang membutuhkan waktu dan konsistensi. Hal tersebut terlihat saat dua pasien Mentari Club Foot (MCF) asal Kabupaten Pati menjalani penanganan casting dengan metode Ponseti di RS Aisyiyah Kudus.

Keduanya mendapatkan penanganan medis oleh dr. Hanif, Sp.Ort bersama Tim Mentari Club Foot RS Aisyiyah Kudus. Penanganan dilakukan secara bertahap dengan menyesuaikan kondisi masing-masing pasien.

Humas RS Aisyiyah Kudus, drg. Ika Oktaviani Risanti, MARS, mengatakan proses penanganan club foot membutuhkan kesabaran dan keterlibatan banyak pihak. Menurutnya, tindakan medis merupakan salah satu bagian dari rangkaian penanganan, sementara pendampingan kepada pasien dan keluarga juga memiliki peran yang tidak kalah penting.

“Yang kami upayakan bukan hanya tindakan medisnya, tetapi bagaimana pasien dan keluarga merasa didampingi selama menjalani proses penanganan. Karena penanganan club foot membutuhkan tahapan dan konsistensi,” ujar Ika.

Dalam proses tersebut, kedua pasien juga mendapatkan pendampingan dari Dokkes Polresta Pati. Hadir Kasi Dokkes AKP Benny Rusmanta, S.Kep. dan Ka Subsi Kespol Retno Pudji Lestari.

Kehadiran Dokkes Polresta Pati menjadi bentuk perhatian terhadap kondisi kesehatan warga Pati yang sedang menjalani proses penanganan. Pendampingan tersebut sekaligus menunjukkan bahwa perhatian terhadap kesehatan pasien dapat melibatkan berbagai pihak, terutama ketika pasien membutuhkan dukungan selama menjalani rangkaian pengobatan.

Ika menjelaskan, metode Ponseti dilakukan secara bertahap melalui manipulasi kaki dan pemasangan gips atau casting sesuai kondisi pasien. Tahapan tersebut dilakukan secara berkala dan membutuhkan pemantauan tenaga medis untuk melihat perkembangan kondisi kaki pasien.

“Setiap pasien memiliki kondisi dan proses yang tidak selalu sama. Karena itu, penanganannya juga dilakukan dengan melihat perkembangan masing-masing pasien dan mengikuti tahapan yang sudah ditentukan oleh tenaga medis,” jelasnya.

Selain tindakan medis, keluarga juga menjadi bagian penting dalam keberlanjutan penanganan. Edukasi diberikan agar keluarga memahami tahapan yang harus dijalani serta pentingnya mengikuti anjuran tenaga kesehatan secara konsisten.

Menurut Ika, dukungan keluarga sering kali menjadi sumber semangat bagi pasien, terutama karena proses penanganan club foot tidak selesai dalam satu kali tindakan. Kesabaran dan keteraturan dalam mengikuti setiap tahapan menjadi bagian dari perjalanan pasien menuju kondisi yang lebih baik.

“Harapannya, keluarga tidak merasa menjalani proses ini sendirian. Ada tenaga kesehatan yang mendampingi dan ada pihak-pihak lain yang juga memberikan perhatian. Yang terpenting adalah prosesnya dijalani bersama dan sesuai dengan kondisi pasien,” katanya.

Pendampingan terhadap dua pasien asal Pati tersebut menjadi gambaran bahwa penanganan kesehatan tidak berhenti pada ruang tindakan. Di balik proses casting dan pemeriksaan medis, terdapat keluarga yang menunggu perkembangan, tenaga kesehatan yang memantau, serta pihak lain yang ikut memberikan dukungan.

Ika menambahkan, kolaborasi seperti ini menjadi bagian dari upaya membangun pelayanan kesehatan yang lebih humanis. Pasien tidak hanya dipandang dari sisi kondisi medisnya, tetapi juga sebagai individu yang membutuhkan rasa aman, perhatian, dan dukungan selama menjalani proses penanganan.

“Semoga proses yang dijalani kedua pasien berjalan dengan baik. Dukungan dari keluarga, tenaga kesehatan maupun pihak-pihak yang ikut mendampingi tentu sangat berarti bagi mereka,” pungkasnya. (YM/YM)


Post Views: 19

Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *