0 3 min 2 hrs

KUDUS, Liputan7.Net – PT Nojorono Tobacco International menandai perjalanan 94 tahun dengan memperkuat inovasi bisnis, kepedulian sosial, serta pelestarian budaya lokal. Perusahaan yang berdiri di Kudus sejak 1932 tersebut terus berupaya menjaga nilai-nilai yang diwariskan pendiri sekaligus menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman.

Mengusung semangat #MawaDaya, Nojorono menjadikan peringatan hari jadi pada 14 Oktober 2026 sebagai momentum untuk merajut inovasi dan kontribusi nyata bagi masyarakat. Komitmen itu diwujudkan melalui sejumlah program di bidang bisnis, lingkungan, sosial, hingga kebudayaan.

Dalam pengembangan bisnis, Nojorono memperluas portofolio produk melalui peluncuran varian Djinggo Apple pada kuartal III 2026. Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya perusahaan merespons preferensi pasar yang terus berkembang.

Presiden Direktur PT Nojorono Tobacco International, Surjadi Lukman, mengatakan inovasi perlu berjalan seiring dengan pemahaman terhadap nilai-nilai yang telah membentuk perusahaan sejak awal.

“Pengembangan varian produk melalui Baron dan Djinggo, serta inisiatif seperti #PuntungBeruntung, mencerminkan bagaimana Nojorono terus merespons perkembangan zaman,” ujar Surjadi.

Di bidang lingkungan, Nojorono melanjutkan gerakan #PuntungBeruntung yang pada 2026 memasuki tahun ketiga. Program ini mendorong kebiasaan bertanggung jawab terhadap material pascakonsumsi dengan melibatkan industri, komunitas, dan pelaku kreatif dalam mengeksplorasi potensi pemanfaatannya.

Program tersebut juga mendapat pengakuan melalui Indonesia PR Program of the Year 2026 dan Indonesia Public Relations Award (IPRA) 2026. Inisiatif ini sejalan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs) 12 tentang konsumsi dan produksi yang bertanggung jawab.

Kontribusi terhadap masyarakat diwujudkan melalui program Rumah Sederhana Layak Huni (RSLH). Berkolaborasi dengan NU Care-LAZISNU Jawa Tengah dan pemerintah daerah, Nojorono mendukung perbaikan hunian warga, salah satunya di Desa Karangbener, Kabupaten Kudus.

Perbaikan rumah mencakup aspek sanitasi, pencahayaan alami, dan sirkulasi udara. Upaya tersebut ditujukan untuk meningkatkan kelayakan hunian sekaligus mendukung kualitas hidup masyarakat penerima manfaat.

Sementara itu, di bidang kebudayaan, Nojorono turut mendorong pengenalan identitas lokal Kudus melalui Caping Kalo. Pada 2026, perusahaan mendukung pagelaran kolosal Tari Lajur Caping Kalo yang melibatkan 675 penari dan berhasil mencatatkan Rekor MURI.

Pagelaran tersebut menjadi salah satu upaya memperkenalkan kekayaan budaya Kudus kepada masyarakat yang lebih luas. Melalui perpaduan seni tari dan warisan budaya lokal, Caping Kalo diharapkan semakin dikenal di tingkat nasional.

Surjadi mengatakan perjalanan panjang perusahaan tidak terlepas dari hubungan dengan masyarakat serta nilai-nilai yang menjadi pijakan sejak awal berdiri.

“Perjalanan selama 94 tahun mengajarkan kami bahwa setiap generasi memiliki tantangannya sendiri. Apa yang telah dibangun sejak 1932 menjadi pijakan bagi Nojorono dalam menghadapi tantangan berikutnya. Kami bersyukur dapat menjadi bagian dari perjalanan industri dan masyarakat Kudus selama ini,” tutupnya.

Memasuki usia 94 tahun dan menuju satu abad perjalanan, Nojorono menempatkan inovasi, keberlanjutan, kepedulian sosial, serta pelestarian budaya sebagai bagian dari arah pengembangan perusahaan. Semangat tersebut menjadi upaya untuk menjaga keterkaitan antara perjalanan perusahaan dan masyarakat Kudus yang telah tumbuh bersama selama puluhan tahun. (YM/YM)


Post Views: 9

Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *