0 4 min 7 mths

Kudus, Liputan7.Net – Menjelang Hari Raya Idulfitri, lonjakan pembelian sarung terjadi di Al Hazmi Batik Kudus. Selama bulan Ramadan, penjualan bahkan meningkat hingga 400 persen dibandingkan hari biasa. Antusiasme masyarakat untuk menyiapkan kebutuhan Lebaran membuat toko sarung khas Kudus ini diserbu pembeli dari berbagai daerah.

Miftah Rozaq, salah satu pelanggan, mengaku sengaja datang untuk mencari sarung sebagai persiapan Lebaran. Ia memilih Sarung Al Hazmi karena motifnya yang khas dan elegan dengan harga yang relatif terjangkau.

“Saya cari sarung buat Lebaran. Di sini motifnya khas, elegan, dan harganya merakyat. Kainnya juga primis, jadi nyaman dipakai,” ujarnya.

Menurut Miftah, motif menjadi pertimbangan utama meski tetap kembali pada selera masing-masing. Ia mengaku menyukai motif klasik yang memiliki kesan berkarakter dan berbeda. Selain dipakai sendiri saat Hari Raya, sarung tersebut juga rencananya akan dibagikan kepada saudara.

Ia mengetahui produk Al Hazmi dari berbagai platform media sosial seperti TikTok, Instagram, hingga Facebook, serta dari katalog yang beredar luas.

Pelanggan lainnya, Muhammad Tahrir asal Jepara, juga datang khusus untuk membeli sarung. Ia mengaku menyukai warna-warna tegas seperti hitam dan cokelat yang menurutnya selalu menjadi pilihan setiap tahun.

“Saya memang sengaja cari yang warna hitam atau cokelat. Dari dulu memang itu yang saya suka. Di sini cocok, harganya pas dan tidak perlu menawar,” katanya.

Menurutnya, selain harga yang sesuai, motif dan kualitas menjadi alasan utama dirinya rutin berbelanja di Al Hazmi setiap menjelang Lebaran.

Sementara itu, Owner Al Hazmi Batik Kudus, Budi Wicaksono, mengungkapkan bahwa penjualan sarung selama Ramadan meningkat drastis dibanding hari biasa.

“Alhamdulillah, peningkatannya bisa mencapai 300 sampai 400 persen dibanding hari-hari biasa. Memang belum kami hitung secara keseluruhan, tapi secara harian sangat signifikan,” jelasnya.

Budi menuturkan, keunggulan Sarung Al Hazmi terletak pada motif yang dirancang sendiri dengan mengangkat filosofi khas Kota Kudus. Saat ini, motif menara masih menjadi yang paling diminati masyarakat.

“Motif menara masih mendominasi. Selain itu, motif-motif klasik seperti kendoro kendiri, Sawut, tribusono, hingga motif pasiran, lawas yang dulu dipakai nenek moyang juga kembali diminati karena membangkitkan memori keluarga,” terangnya.

Al Hazmi sendiri memiliki lebih dari 80 motif dengan total lebih dari 170 seri. Hampir setiap seri memiliki segmen pasar masing-masing dan banyak yang menjadi best seller.

Harga sarung dibanderol mulai Rp115.000 hingga Rp455.000 untuk kombinasi tulis. Perbedaan harga dipengaruhi oleh proses pembuatan, bahan, motif, serta teknik pewarnaan dan pengerjaan.

Untuk pemasaran, Al Hazmi tidak hanya menjangkau pasar lokal, tetapi juga luar kota, luar pulau, hingga mancanegara seperti Arab Saudi, Dubai, Singapura, Malaysia, dan Hongkong. Promosi dilakukan melalui media sosial, influencer, serta jaringan tenaga kerja Indonesia di luar negeri.

Salah satu motif terlaris saat ini adalah motif Gemati. Motif ini menampilkan ornamen Menara Kudus, tanaman cengkeh, atap tajug, hingga unsur tanaman air yang sarat makna filosofi.

“Gemati itu artinya perhatian yang mendalam kepada orang yang dicintai. Harapannya, yang memakai sarung ini memiliki rasa perhatian kepada orang tua, keluarga, dan sesama,” jelas Budi.

Al Hazmi Batik Kudus sendiri menghadirkan beragam motif khas seperti Rekso Manah, Sekar Cengkeh Madu Bronto, Wahyu Tumurun, Parang Buket, Semen Romo Pulung Kraton, Padmo Condro, Sido Mukti Buket, Tawang Kusumo, Lintang Kemukus, Kembang Ploso, Kretekan, Langgeng Mukti dan masih banyak motif lainnya.

Dari segi bahan, Al Hazmi menggunakan kain prima hingga primis (prima istimewa). Kain primis memiliki serat lebih halus dan biasanya digunakan untuk batik tulis dengan kualitas terbaik sehingga memberikan kenyamanan saat dipakai, terutama di momen spesial seperti Hari Raya.

Dengan meningkatnya minat masyarakat terhadap sarung batik khas Kudus, Budi berharap produk lokal semakin dicintai dan mampu mengangkat kembali kejayaan sarung batik sebagai identitas budaya yang tetap relevan di era modern. (AS/YM)


Post Views: 3



Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *