0 4 min 3 mths

KUDUS, ISKNEWS.com – Tumpukan sampah plastik yang selama ini identik dengan limbah kini justru menjadi sumber energi di Desa Sidorekso, Kecamatan Kaliwungu, Kabupaten Kudus. Melalui penerapan teknologi pirolisis yang dipadukan dengan kebiasaan warga memilah sampah sejak dari rumah, desa tersebut berhasil mengolah plastik menjadi bahan bakar minyak (BBM) sekaligus mewujudkan sistem ekonomi sirkular yang berkelanjutan.

Keberhasilan itu merupakan buah dari perjalanan panjang yang dimulai sejak 2014. Saat itu, Pemerintah Desa Sidorekso menghadapi persoalan serius terkait tingginya biaya pengangkutan sampah ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Tanjungrejo. Kondisi tersebut mendorong kepala desa, Mochamad Arifin, mencari berbagai alternatif agar sampah dapat diselesaikan di tingkat desa.

Beragam upaya dilakukan hingga akhirnya pada 2024 desa mendatangkan mesin pirolisis yang mampu mengubah sampah plastik menjadi BBM berupa solar dan bensin. Namun menurut Arifin, keberhasilan pengelolaan sampah tidak hanya bergantung pada kecanggihan teknologi, melainkan juga kesadaran masyarakat dalam memilah sampah.

“Mesin hanya sebagai alat bantu. Persoalan sampah baru benar-benar selesai jika masyarakat sudah memilah sampah sejak dari rumah,” ujarnya, Rabu (1/7).

Kesadaran warga yang semakin meningkat membuat sistem pengelolaan sampah di Tempat Pengolahan Sampah Reduce, Reuse, Recycle (TPS3R) Sidorekso berjalan lebih efektif. Dampaknya, sejak 2024 desa tersebut tidak lagi mengirimkan sampah ke TPA milik Pemerintah Kabupaten Kudus karena seluruh sampah telah ditangani secara mandiri.

Di TPS3R, setiap jenis sampah diproses sesuai karakteristiknya. Sampah organik diolah melalui kerja sama dengan Djarum Foundation, sedangkan sampah anorganik dipilah kembali berdasarkan nilai ekonominya agar dapat dimanfaatkan secara maksimal.

Botol plastik yang memiliki nilai jual dicacah menggunakan mesin pencacah sebelum dipasarkan dalam jumlah besar. Sementara itu, sampah plastik jenis kantong atau kresek dimanfaatkan sebagai bahan baku mesin pirolisis untuk menghasilkan BBM.

Bahan bakar hasil pirolisis tersebut tidak diperjualbelikan, melainkan dimanfaatkan langsung untuk memenuhi kebutuhan operasional TPS3R. Solar dan bensin yang dihasilkan digunakan untuk menghidupkan berbagai mesin pengolahan sampah sehingga pengelola tidak lagi bergantung pada pembelian BBM dari luar.

“Kami sudah tidak membeli BBM dari Pertamina untuk operasional mesin. Semua kebutuhan bahan bakar dipenuhi dari hasil pirolisis sampah plastik yang kami kelola sendiri,” kata Arifin.

Sementara itu, sampah residu seperti popok sekali pakai terus ditekan jumlahnya melalui proses pemilahan. Kini volume residu yang tersisa hanya beberapa kilogram setiap hari dan dimusnahkan secara mandiri.

Program pengelolaan sampah berbasis masyarakat tersebut saat ini telah menjangkau sekitar separuh wilayah Desa Sidorekso. Sebanyak 1.100 rumah tangga dari total sekitar 2.200 kepala keluarga telah aktif mengikuti sistem pemilahan dan pengelolaan sampah yang diterapkan desa. Adapun warga yang belum bergabung umumnya masih mengolah sampah organik secara mandiri di pekarangan mereka.

Meski tingkat partisipasi masyarakat belum sepenuhnya mencapai 100 persen, Pemerintah Desa Sidorekso terus memperluas edukasi agar budaya mengelola sampah semakin mengakar. Salah satu langkah yang ditempuh ialah menyasar kalangan pelajar melalui kegiatan sosialisasi di sekolah dasar hingga sekolah menengah pertama.

Dalam program tersebut, para guru turut dilibatkan untuk menanamkan kebiasaan memilah sampah sejak usia dini. Harapannya, generasi muda Sidorekso tumbuh dengan kesadaran menjaga lingkungan sehingga sistem pengelolaan sampah berkelanjutan dapat terus berlangsung pada masa mendatang.

“Dengan membiasakan anak-anak memilah sampah sejak sekarang, kami berharap budaya bersih akan menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Sidorekso di masa depan,” pungkas Arifin. (AS/YM)


Post Views: 57

Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *