0 8 min 2 mths

KUDUS, Liputan7.Net — Setelah panggung kemerdekaan berakhir, bagaimana seni kampung tetap hidup? Pertanyaan ini penting karena setiap Agustus, kampung-kampung di Indonesia menjadi ruang pertunjukan seni dan budaya.

Anak-anak menari, Remaja bermain musik, Kelompok seni kampung tampil, Warga yang sehari-hari bekerja sebagai petani, pedagang, buruh, pegawai, atau pelaku usaha kecil tiba-tiba menjadi pemain, panitia, penonton, bahkan produser sebuah pertunjukan.

Namun, ketika Agustus berakhir, panggung biasanya ikut dibongkar. Pengeras suara disimpan. Lampu dipadamkan. Lapangan kembali menjadi ruang olahraga atau tempat parkir. Aktivitas seni pun perlahan kembali menunggu momentum berikutnya.

Lalu, apa yang terjadi setelah perayaan selesai? Pertanyaan tersebut menjadi salah satu titik berangkat SERAH #8, yang akan diselenggarakan pada Sabtu, 29 Agustus 2026, pukul 19.00 WIB di Sanggar Seni Karang Gayam, Desa Sidorekso, Kudus. Memasuki semester kedua, SERAH kembali mempertemukan praktik seni, gagasan, dan publik dengan membawa perhatian pada persoalan keberlanjutan ekosistem seni di tingkat kampung.

Dalam persiapan SERAH #8, Ketua Dewan Kesenian Kudus Dian Puspita Sari, Pimpro SERAH Melly Ferdiani Tasmara, serta penulis dan sutradara Bazar Al Walid melihat momentum pasca-perayaan kemerdekaan sebagai kesempatan untuk mengajukan pertanyaan yang lebih jauh: apakah energi kebudayaan yang muncul setiap Agustus bisa diubah menjadi kehidupan seni yang berlangsung sepanjang tahun?

Dari Panggung Agustus ke Ekosistem Sepanjang Tahun

“Setiap Agustus kita bisa melihat bagaimana masyarakat sebenarnya punya energi yang besar untuk berkesenian,” ujar Dian Puspita Sari.

Menurutnya, persoalan bukan terletak pada minimnya minat masyarakat terhadap seni. Justru berbagai perayaan kampung menunjukkan bahwa masyarakat memiliki kemampuan untuk mengorganisasi pertunjukan secara mandiri.

“Persoalannya kemudian adalah bagaimana setelah acara selesai, kegiatan itu tidak berhenti. Jangan sampai masyarakat hanya menjadi pelaksana pertunjukan ketika ada momentum tertentu,” katanya.

Pandangan tersebut menggeser cara melihat kegiatan seni di kampung. Selama ini, keberhasilan sebuah acara sering diukur melalui kemeriahan: jumlah penonton, besarnya panggung, kualitas tata suara, atau ramainya dokumentasi di media sosial.

Padahal, ukuran keberlanjutan bisa jauh lebih sederhana. Apakah setelah pertunjukan selesai masih ada latihan? Apakah anak-anak yang tampil memiliki ruang untuk terus belajar? Apakah kelompok seni kampung memiliki kesempatan untuk menciptakan karya baru? Apakah pengetahuan kesenian lokal terus diwariskan?

“Kalau kita ingin bicara ekosistem, berarti bukan hanya bicara acara. Kita bicara proses sebelum dan sesudah acara,” ujar Dian.

Melly Ferdiani Tasmara melihat persoalan tersebut dari sisi pengelolaan program.
Menurutnya, salah satu jebakan dalam pengembangan seni di kampung adalah kecenderungan menjadikan festival sebagai tujuan akhir.

“Kita sering berpikir kalau ingin menghidupkan seni berarti harus membuat acara besar. Padahal belum tentu,” kata Melly.

Menurutnya, keberlanjutan justru dapat dimulai dari kegiatan kecil yang dilakukan secara konsisten. Latihan mingguan, kelas seni untuk anak-anak, forum apresiasi bulanan, pertunjukan kecil, dokumentasi kesenian lokal, hingga pertemuan antarkelompok seni dapat menjadi bagian dari ekosistem tersebut.

“Yang penting bukan seberapa besar acaranya, tetapi apakah setelah acara itu ada sesuatu yang tetap hidup,” ujarnya.

Cara pandang tersebut sekaligus menempatkan masyarakat bukan sekadar sebagai penonton atau penerima program kebudayaan. Warga perlu menjadi bagian dari proses produksi kebudayaan itu sendiri.
Sanggar, sekolah, pemerintah desa, komunitas, pelaku seni, hingga pelaku usaha lokal dapat memiliki peran yang berbeda-beda.

“Kalau semua dibebankan kepada pemerintah atau komunitas seni, ekosistemnya akan rapuh. Harus ada kepemilikan bersama,” kata Melly.

Kampung sebagai Ruang Produksi Kebudayaan

Bagi Bazar Al Walid, keberlanjutan seni di kampung juga berkaitan dengan bagaimana sebuah masyarakat memandang ruang hidupnya sendiri.

“Jangan sampai kampung hanya menjadi tempat kita mengadakan acara. Kampung harus menjadi ruang di mana proses kebudayaan itu berlangsung,” ujarnya.

Menurut Walid, sebuah kampung sebenarnya memiliki banyak ruang yang dapat digunakan untuk aktivitas seni. Balai desa, halaman rumah, sanggar, lapangan, sekolah, bahkan ruang-ruang informal seperti warung atau tempat berkumpul warga dapat menjadi ruang pertukaran gagasan dan praktik seni.

“Panggung itu tidak harus selalu panggung besar. Kadang yang kita butuhkan justru ruang untuk bertemu dan berproses,” katanya.

Dalam pandangan tersebut, seni tidak lagi ditempatkan sebagai pelengkap kegiatan desa. Seni dapat menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat.

Anak-anak dapat belajar seni. Remaja dapat memiliki ruang berekspresi. Kelompok seni dapat berlatih dan menciptakan karya. Warga dapat menonton sekaligus memberikan kritik. Pengetahuan lokal dapat didokumentasikan dan diwariskan.

Dengan demikian, keberlanjutan tidak hanya berarti mempertahankan kelompok kesenian agar tetap ada, tetapi juga memastikan adanya rantai produksi kebudayaan: ada yang belajar, ada yang mencipta, ada yang tampil, ada yang menonton, ada yang mengkritik, dan ada yang mendokumentasikan.

Dari “Acara” Menjadi Kebiasaan

Persoalan terbesar mungkin justru terletak pada kebiasaan melihat seni sebagai peristiwa sesaat. Seni muncul ketika ada peringatan Hari Kemerdekaan. Seni kembali muncul ketika desa mengadakan sedekah bumi. Seni tampil ketika ada festival. Setelah itu, aktivitas kembali berhenti. SERAH #8 mencoba mengajukan kemungkinan lain:

bagaimana jika seni tidak selalu diperlakukan sebagai acara, tetapi sebagai kebiasaan sosial? Pertanyaan tersebut penting karena ekosistem tidak dapat dibangun dalam satu malam. Ia membutuhkan pertemuan yang berulang, jaringan yang tumbuh perlahan, regenerasi, dan ruang yang terus digunakan.

Satu latihan dapat melahirkan pemain baru. Satu pertunjukan dapat melahirkan penonton baru. Satu diskusi dapat memunculkan gagasan baru. Satu dokumentasi dapat menyelamatkan ingatan. Satu kolaborasi dapat membuka jaringan baru. Dari pertemuan-pertemuan kecil semacam itulah ekosistem seni tumbuh. Karena itu, keberhasilan sebuah program seni di kampung tidak semestinya hanya diukur dari seberapa meriah malam pertunjukannya. Pertanyaan yang lebih penting adalah: apa yang terjadi sehari setelahnya?

Memaknai Kembali Kemerdekaan Manusia

Bagi SERAH #8, momentum setelah perayaan kemerdekaan memiliki makna tersendiri. Kemerdekaan tidak hanya dirayakan melalui upacara, lomba, karnaval, dan pertunjukan. Ia juga dapat dimaknai sebagai kemampuan masyarakat untuk menciptakan ruangnya sendiri, ruang untuk berkumpul, berekspresi, berpikir, mengkritik, dan membayangkan masa depan.

“Saya kira seni bisa menjadi salah satu cara masyarakat merawat kemerdekaannya. Bukan hanya merayakan, tetapi punya ruang untuk menyampaikan apa yang mereka pikirkan,” ujar Dian. Melly menambahkan bahwa keberlanjutan membutuhkan kesediaan untuk bekerja dalam jangka panjang.

“Kalau setiap tahun kita mulai dari nol lagi, kita tidak pernah benar-benar membangun ekosistem,” katanya.

Sementara Walid melihat keberlanjutan sebagai persoalan keberanian untuk memulai dari skala yang realistis.

“Kita tidak harus menunggu fasilitas lengkap. Kalau ada orang yang mau berkumpul, mau belajar, dan ada ruang untuk bertemu, ekosistem itu sudah mulai tumbuh,” ujarnya.

SERAH #8 akhirnya tidak menawarkan resep tunggal tentang bagaimana sebuah kampung harus mengembangkan keseniannya. Yang ditawarkan adalah ruang untuk bertanya dan membaca kembali apa yang sebenarnya telah dimiliki masyarakat.

Sebab setiap Agustus, kampung sebenarnya telah menunjukkan satu hal penting: energi untuk berkesenian itu ada. Yang belum selalu tersedia adalah mekanisme untuk membuat energi tersebut bertahan.

Karena itu, setelah panggung kemerdekaan dibongkar, mungkin pekerjaan kebudayaan justru baru dimulai. Bukan membangun panggung yang lebih besar, tetapi membangun alasan agar panggung itu terus dibutuhkan. Bukan membuat festival semakin sering, tetapi menciptakan kebiasaan berkesenian.

Bukan menjadikan kampung sebagai lokasi acara, tetapi menjadikannya ruang produksi kebudayaan yang hidup. Dan mungkin, pertanyaan paling penting setelah Agustus bukan lagi kapan acara seni berikutnya digelar. Melainkan lebih kepada Apa yang akan kita lakukan agar seni di kampung tetap hidup ketika tidak ada lagi alasan untuk berpesta? SERAH #8 mengajak publik untuk membicarakan sekaligus mengalami kemungkinan tersebut.

SERAH #8

Sabtu, 29 Agustus 2026
Sanggar Seni Karang Gayam
Desa Sidorekso, Kudus
Pukul 19.00 WIB
Saksikan dan jadilah bagian dari SERAH #8.


Post Views: 44

Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *