KUDUS, Liputan7.Net – Tidak semua generasi mengenal Roy, tokoh petualang dalam novel Balada Si Roy yang pernah menjadi fenomena sastra remaja Indonesia pada akhir 1980-an hingga awal 1990-an.
Bersama Lupus karya Hilman Hariwijaya, kedua serial yang dimuat bersambung di Majalah HAI itu menjadi bacaan wajib remaja pada masanya dan melahirkan banyak penulis muda.
Popularitas kedua karya tersebut bahkan melampaui halaman majalah dan novel. Lupus maupun Balada Si Roy sama-sama diadaptasi ke layar lebar, menegaskan posisinya sebagai bagian dari budaya populer Indonesia yang dikenang lintas generasi.
Kini, bagi generasi milenial hingga Generasi Z, nama Gol A Gong lebih dikenal sebagai Duta Baca Indonesia yang tak pernah lelah mengampanyekan budaya membaca dan menulis. Semangat itulah yang akan dibawanya ke Kabupaten Kudus melalui Safari Literasi pada 18–19 Agustus 2026.
Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Daerah (Arpusda) Kabupaten Kudus akan menggelar Safari Literasi bersama sastrawan nasional Heri Hendrayana Harris atau yang akrab disapa Gol A Gong sebagai bagian dari rangkaian peringatan Hari Ulang Tahun ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia.
Kegiatan tersebut diharapkan menjadi momentum memperkuat budaya membaca sekaligus membangun ekosistem literasi di Kabupaten Kudus.
Gol A Gong bukan hanya dikenal sebagai pencipta tokoh Roy yang melegenda. Penulis kelahiran Serang, Banten, itu juga memiliki kisah hidup yang menginspirasi. Tangan kirinya diamputasi setelah mengalami kecelakaan akibat terjatuh dari pohon saat masih berusia belasan tahun.
Namun, keterbatasan fisik itu tidak mematahkan semangatnya untuk berkarya. Dengan tangan kanannya, ia terus menulis hingga melahirkan puluhan buku, mendirikan Rumah Dunia sebagai pusat kegiatan literasi, dan dipercaya menjadi Duta Baca Indonesia.
Kepala Dinas Arpusda Kabupaten Kudus, Mutrikah, mengatakan Safari Literasi merupakan hasil kolaborasi dengan pegiat literasi, seniman, budayawan, serta berbagai komunitas di Kabupaten Kudus.
Menurutnya, budaya membaca tidak dapat tumbuh hanya mengandalkan pemerintah, tetapi memerlukan keterlibatan seluruh elemen masyarakat.
“Melalui kolaborasi ini kami ingin menghadirkan kegiatan literasi yang lebih dekat dengan masyarakat sekaligus menghidupkan kembali semangat membaca di Kabupaten Kudus,” katanya.
Tak hanya menghadirkan bedah buku karya Gol A Gong, Arpusda juga menyiapkan beragam kegiatan pendukung yang dikemas secara kreatif. Mulai dari musikalisasi puisi, performance art, talk show, mini bazar buku, hingga pertunjukan seni yang melibatkan komunitas sastra, seni, dan budaya di Kabupaten Kudus.
Mutrikah berharap kehadiran penulis Balada Si Roy tersebut mampu menarik minat masyarakat untuk kembali mengunjungi perpustakaan sekaligus menumbuhkan budaya membaca, terutama di kalangan generasi muda.
“Kami ingin budaya membaca buku masih digalakkan, terutama bagi anak-anak muda di Kudus, tentu dengan menggandeng banyak komunitas dan pegiat sastra termasuk kedatangan Gol A Gong,” ujarnya.
Selama berada di Kudus, Gol A Gong dijadwalkan mengikuti sejumlah agenda literasi. Salah satu kegiatan utama adalah pelatihan kepenulisan bagi pelajar SMA sederajat sebagai ruang untuk mengembangkan kemampuan menulis, berpikir kritis, serta menuangkan gagasan menjadi karya.
Selain menyasar pelajar, Arpusda juga mengajak guru, pekerja seni, budayawan, hingga komunitas literasi untuk terlibat aktif dalam seluruh rangkaian acara. Keterlibatan lintas elemen masyarakat diharapkan mampu memperluas dampak gerakan literasi di Kabupaten Kudus.
Mutrikah menilai pembiasaan membaca harus ditanamkan sejak usia dini melalui lingkungan pendidikan. Oleh sebab itu, sekolah menjadi salah satu mitra penting dalam membangun budaya literasi yang berkelanjutan.
“Menumbuhkan literasi sejak dini, bisa dimulai dari pendidikan, melibatkan pelajar dan guru terlibat langsung dalam kegiatan literasi,” katanya.
Safari Literasi tahun ini mengusung tema “Book and Beyond“, yang menempatkan buku bukan hanya sebagai sumber pengetahuan, tetapi juga sebagai sarana mengembangkan potensi, kreativitas, serta kemampuan diri untuk melampaui batas.
Arpusda berharap Safari Literasi bersama Gol A Gong tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial semata. Melalui rangkaian aktivitas yang melibatkan berbagai kalangan, perpustakaan diharapkan semakin berperan sebagai pusat kegiatan literasi sekaligus ruang kolaborasi kreatif yang mampu melahirkan penulis-penulis baru dari Kabupaten Kudus.
Kehadiran Gol A Gong di Kudus bukan sekadar menghadirkan seorang novelis ternama, melainkan menghadirkan sebuah inspirasi. Dari seorang remaja yang kehilangan tangan kirinya akibat kecelakaan hingga menjadi salah satu penulis paling berpengaruh di Indonesia, Gol A Gong membuktikan bahwa keterbatasan tidak pernah menjadi penghalang untuk berkarya.
Seperti tokoh Roy yang mengajarkan keberanian menjelajah kehidupan, Gol A Gong kini mengajak generasi milenial, Generasi Z, hingga Generasi Alpha menjadikan buku sebagai sahabat, membaca sebagai kebiasaan, dan menulis sebagai jalan untuk meninggalkan jejak. (YM/YM)
Post Views: 3
