KUDUS, Liputan7.Net – Harapan mengungkap lebih banyak jejak kehidupan purba di kawasan Patiayam kembali menguat. Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) melanjutkan ekskavasi tahun ketiga di Situs Ngasingan, Kabupaten Kudus, dengan fokus mencari fosil gajah purba (Elephas) yang diperkirakan berusia hingga 500 ribu tahun.
Ekskavasi tersebut menjadi kelanjutan penelitian yang telah berlangsung sejak dua tahun terakhir. Selain mengungkap fosil baru, penelitian ini juga diharapkan semakin memperkuat posisi Patiayam sebagai salah satu situs prasejarah terpenting di Indonesia.
Peneliti BRIN sekaligus Center for Prehistoric and Austronesian Studies (CPAS), Retno Ayunindya, mengatakan lokasi Ngasingan masih menyimpan potensi temuan fosil yang sangat besar.
“Ekskavasi tahun ini merupakan kelanjutan penelitian yang sudah kami lakukan sebelumnya. Kami masih berfokus pada pencarian fosil gajah purba jenis Elephas yang pernah ditemukan di kawasan ini,” ujar Retno.
Menurutnya, temuan-temuan pada penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa fosil di kawasan tersebut memiliki kondisi yang relatif utuh dan diperkirakan berasal dari sekitar 500 ribu tahun lalu.
“Berdasarkan hasil penelitian sebelumnya, usia fosil yang ditemukan berkisar 500 ribu tahun. Namun kami tidak menutup kemungkinan akan menemukan fosil yang usianya lebih tua,” katanya.
Retno menjelaskan, setiap lapisan tanah yang dibuka menyimpan informasi penting mengenai sejarah lingkungan dan kehidupan purba di kawasan Patiayam. Karena itu, proses penggalian dilakukan secara bertahap dan penuh kehati-hatian agar seluruh data ilmiah tetap terjaga.
“Yang kami cari bukan hanya fosilnya, tetapi juga konteks lapisan tanahnya. Dari situ kami bisa mengetahui bagaimana lingkungan purba pada masa itu dan bagaimana kehidupan satwa yang pernah hidup di kawasan ini,” jelasnya.
Ia menambahkan, hasil penelitian nantinya tidak hanya menjadi koleksi ilmiah, tetapi juga dimanfaatkan untuk mendukung pengembangan kawasan Patiayam sebagai pusat edukasi dan penelitian.
“Harapannya, hasil ekskavasi ini bisa menjadi dasar pengembangan Situs Ngasingan, baik sebagai pusat penelitian, pendidikan, maupun wisata sejarah,” ungkapnya.
Dalam jangka panjang, pemerintah bersama BRIN berencana membangun Museum Situs Ngasingan di kawasan Patiayam. Museum tersebut diharapkan menjadi tempat pelestarian hasil-hasil penelitian sekaligus sarana edukasi bagi masyarakat.
“Museum akan menjadi media untuk mengenalkan kekayaan warisan prasejarah Patiayam kepada masyarakat luas. Jadi, hasil penelitian tidak hanya berhenti di laboratorium, tetapi juga bisa dinikmati publik,” tutur Retno.
Dengan potensi temuan fosil yang masih besar, ekskavasi tahun ketiga ini diharapkan mampu membuka lebih banyak tabir kehidupan purba di Patiayam.
Penelitian berkelanjutan tersebut juga diyakini semakin mengukuhkan kawasan Patiayam sebagai salah satu situs prasejarah penting di Indonesia yang menyimpan rekam jejak kehidupan ratusan ribu tahun silam. (YM/YM)
Post Views: 11
