0 4 min 54 minutes

KUDUS, Liputan7.Net – Festival Berpikir Komputasional 2026 di Kabupaten Kudus menjadi wadah bagi murid untuk mengembangkan kemampuan berpikir logis dan memecahkan persoalan secara sistematis. Kegiatan tersebut juga menjadi bagian dari upaya memperkuat keterampilan murid sejak jenjang pendidikan dasar.

Program penguatan berpikir komputasional di Kudus telah berjalan sejak 2023. Djarum Foundation menginisiasi pelatihan dan pendampingan bagi guru serta mendorong penerapannya dalam proses pembelajaran dengan melibatkan murid dan orang tua.

Festival Berpikir Komputasional 2026 tingkat SD/MI kemudian digelar sebagai ruang bagi murid untuk mengasah kemampuan tersebut melalui berbagai tantangan. Kegiatan itu dipadukan dengan literasi fisik untuk mendorong keseimbangan antara kemampuan berpikir dan aktivitas fisik.

Direktur Jenderal PAUD, Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Nonformal dan Informal Kemendikdasmen Gogot Suharwoto mengatakan kegiatan tersebut sejalan dengan arah kebijakan pendidikan nasional, khususnya pembelajaran Koding dan Kecerdasan Artifisial (KKA), serta penguatan literasi, numerasi, dan STEM.

“Festival Berpikir Komputasional 2026 ini sejalan dengan arah kebijakan nasional yang diusung Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen), yaitu Pembelajaran Koding dan Kecerdasan Artifisial (KKA), serta penguatan kapasitas literasi, numerasi, dan STEM,” kata Gogot.

Ia menilai praktik yang telah dikembangkan di Kabupaten Kudus dapat menjadi pembelajaran bagi daerah lain. Menurutnya, program berupa pelatihan, pendampingan, dan festival tersebut perlu terus dikembangkan agar manfaatnya dapat dirasakan lebih luas.

“Praktik baik yang sudah dilakukan di Kabupaten Kudus ini perlu kita kembangkan dan tingkatkan skalanya ke tempat lain,” ujarnya.

Hingga saat ini, program tersebut telah menjangkau 46 PAUD/RA dan 22 SD/MI. Sebanyak 1.111 guru serta 23.356 murid telah terlibat dalam praktik berpikir komputasional dengan menggunakan berbagai media, mulai dari kartu pembelajaran, permainan papan, teka-teki, hingga aktivitas gerak.

Perkembangan kemampuan murid juga diukur melalui tantangan BEBRAS yang memuat soal-soal dengan pendekatan Higher Order Thinking Skills (HOTS). Berdasarkan data program, rata-rata skor murid meningkat dari 34,52 menjadi 88,34.

Plt Kepala Dinas Pendidikan, Kepemudaan, dan Olahraga (Disdikpora) Kabupaten Kudus Anggun Nugroho, yang mewakili Bupati Kudus Sam’ani Intakoris, mengatakan berpikir komputasional perlu dikenalkan kepada anak sejak usia dini.

Menurutnya, kemampuan tersebut bukan hanya berkaitan dengan penggunaan komputer atau aktivitas coding. Berpikir komputasional juga melatih anak untuk mengurai persoalan, menemukan pola, memilih informasi yang relevan, serta menyusun langkah penyelesaian secara runtut.

“Berpikir komputasional bukan sekadar tentang coding atau mengenal komputer, tetapi cara berpikir yang mengajarkan anak untuk memecah masalah besar menjadi bagian-bagian kecil, mengenali pola, melakukan abstraksi, dan menyusun langkah-langkah yang logis untuk menyelesaikan persoalan,” ungkap Anggun.

Penerapan konsep tersebut juga dilakukan secara kreatif oleh guru di sejumlah sekolah di Kudus. Di SD 3 Kalirejo, misalnya, murid diajak mencari rute paling efisien untuk menuju sekolah.

Sementara di SD Muhammadiyah Birrul Walidain, konsep berpikir komputasional diterapkan dalam pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam dan Sosial (IPAS). Murid dilatih mengurai masalah, menemukan pola, dan mengelompokkan informasi melalui materi sistem pernapasan.

Praktik berbeda dilakukan di SD 1 Barongan. Guru menganalisis pola keterlambatan siswa untuk mengetahui kemungkinan penyebab dan kemudian mencari solusi bersama.

Berbagai kegiatan tersebut juga dipadukan dengan literasi fisik. Langkah itu dilakukan dengan mempertimbangkan hasil survei keterampilan sosial emosional OECD di Kabupaten Kudus pada 2023 yang menemukan 55 persen murid berusia 15 tahun memiliki pola perilaku tidak sehat, termasuk jarang berolahraga serta tidak rutin mengonsumsi buah dan sayur.

Program Manager Djarum Foundation Marcella Marissa mengatakan berpikir komputasional dipandang sebagai keterampilan dasar yang penting untuk membantu murid menghadapi berbagai persoalan.

“Kami melihat berpikir komputasional sebagai keterampilan fundamental yang perlu dikembangkan sejak dini untuk membantu murid berpikir logis, memecahkan masalah, dan menghadapi tantangan dengan tangguh serta percaya diri,” katanya.

Ke depan, Djarum Foundation berkomitmen melanjutkan program tersebut dan secara bertahap memperluas penguatan berpikir komputasional ke jenjang pendidikan berikutnya. Pengembangan program akan dilakukan melalui kolaborasi dengan pemerintah, sekolah, guru, dan berbagai mitra pendidikan. (AS/YM)


Post Views: 2

Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *