0 4 min 3 mths

JAKARTA, ISKNEWS.com – Asosiasi Perajin dan Pengusaha Batik Indonesia (APPBI) menggelar Pagelaran Seni Batik Puspa Nuswantara 2026 sebagai upaya menggaungkan perlindungan terhadap batik asli Indonesia di tengah maraknya peredaran tekstil bermotif batik yang dinilai mengancam keberlangsungan para perajin batik tradisional. Kegiatan tersebut akan berlangsung pada 8–12 Juli 2026 di Jakarta International Convention Center (JICC), Senayan, Jakarta.

Mengusung tema “Rupa Makna Tambal Nusantara”, pagelaran ini menjadi ruang promosi, edukasi, apresiasi, sekaligus konsolidasi bagi perajin, pengusaha batik, komunitas budaya, akademisi, media, pemerintah, dan masyarakat untuk bersama-sama menjaga kelestarian batik sebagai warisan budaya Indonesia.

APPBI menilai batik Indonesia bukan sekadar produk sandang, melainkan warisan budaya yang memiliki nilai sejarah, filosofi, identitas, dan jati diri bangsa. Di balik setiap lembar kain batik terdapat proses panjang yang melibatkan keterampilan, ketekunan, serta pengetahuan tradisional yang diwariskan secara turun-temurun.

Namun dalam beberapa tahun terakhir, keberadaan batik asli menghadapi tantangan besar akibat membanjirnya tekstil bercorak batik dan kain bermotif batik yang diproduksi secara massal menggunakan teknologi cetak modern. Produk-produk tersebut kerap dipasarkan menggunakan istilah “batik” tanpa memberikan penjelasan mengenai proses pembuatannya.

Kondisi tersebut dinilai membuat masyarakat semakin sulit membedakan antara batik tulis, batik cap, batik kombinasi, dan tekstil bermotif batik. Dampaknya, banyak perajin tradisional mengalami penurunan pesanan, berkurangnya produksi, hingga melemahnya pendapatan karena tidak mampu bersaing dari sisi harga dengan produk industri.

APPBI mengingatkan, apabila kondisi tersebut terus berlangsung, Indonesia berisiko kehilangan para perajin yang selama ini menjadi penjaga pengetahuan tradisional sekaligus roh utama batik Nusantara.

Melalui Pagelaran Seni Batik Puspa Nuswantara 2026, APPBI berupaya membangkitkan kesadaran masyarakat untuk lebih mengenal dan memilih batik asli Indonesia, sekaligus memperkuat ekonomi para perajin.

Tema “Rupa Makna Tambal Nusantara” dipilih sebagai simbol keberagaman, kekuatan, dan harapan. “Rupa” merepresentasikan kekayaan visual batik dari berbagai daerah, “Makna” menggambarkan filosofi yang terkandung dalam setiap motif, sedangkan “Tambal” menjadi metafora kebersamaan dalam merajut kembali kekuatan perajin batik Nusantara.

Dalam pagelaran tersebut, APPBI akan menampilkan koleksi batik dari Pakualaman Yogyakarta sebagai bentuk penghormatan terhadap warisan batik keraton yang memiliki nilai sejarah, estetika, dan budaya tinggi.

Selain itu, kegiatan ini juga menjadi momentum peluncuran Batik Puspawicitra karya GKBRAA Paku Alam X sebagai wujud sinergi antara tradisi, kreativitas, dan keberlanjutan batik Indonesia.

Rangkaian acara lainnya meliputi bedah buku “Batik Tiga Negeri” karya Komarudin Kudiya dan Afif Syakur, lelang batik, fashion show, talkshow bersama Komunitas Cinta Berkain Indonesia, Pasar Batik Rakyat, serta peragaan busana hasil karya mahasiswa dari sejumlah perguruan tinggi swasta di Jakarta dan Bandung.

Melalui Pasar Batik Rakyat, masyarakat dapat berinteraksi langsung dengan para perajin dan pelaku UMKM batik dari berbagai daerah. Sementara keterlibatan perguruan tinggi diharapkan mampu mendorong lahirnya inovasi, riset desain, dan kreativitas generasi muda dalam mengembangkan batik tanpa meninggalkan nilai-nilai tradisinya.

APPBI menegaskan bahwa keberlangsungan batik asli Indonesia tidak hanya menjadi tanggung jawab para perajin. Dukungan pemerintah, media, dunia usaha, lembaga pendidikan, komunitas budaya, pelaku industri kreatif, hingga masyarakat luas dinilai sangat penting untuk menjaga eksistensi batik sebagai warisan budaya bangsa.

Melalui Pagelaran Seni Batik Puspa Nuswantara 2026, APPBI mengajak seluruh masyarakat hadir dan turut mendukung gerakan pelestarian batik asli Indonesia. Mengusung tagline “Asli Batiknya, Asli Harganya dan Asli Perajinnya”, pagelaran ini diharapkan menjadi momentum memperkuat kecintaan terhadap batik sekaligus mengembalikan martabat batik di rumahnya sendiri. (AS/YM)


Post Views: 26

Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *