0 5 min 2 yrs

Kudus, Liputan7.Net – Usai berita viral mengenai santri yang dalam gambar di sejumlah platform media sosial terlihat jari dan sebagian telapak tangannya melepuh akibat hukuman dicelup ke air panas oleh oknum pengurus pondok pesantren. Sejumlah awak media segera meluncur menuju lokasi ondok untuk menemui pimpinan pondok pesantren (Ponpes) Anfaul Ulum yang berada di Desa Samirejo, Kecamatan Dawe, Kudus, Sabtu (08/06/2024) siang.

Ditemui langsung oleh pimpinan ponpes yang juga Pengasuh Ponpes yakni KH Ahmad Thoha, dirinya membenarkan memang ada kejadian tersebut di pondok pria yang lokasinya tak jauh dari kediaman Thoha.

Menurutnya dugaan kekerasan fisik itu memang benar ada dan dilakukan oleh salah satu pengurus ponpes berinisial AS terhadap santri mereka yang diketahui melanggar peraturan pondok atau ta’ziran atau sanksi yang diberikan kepada santri yang telah melakukan pelanggaran peraturan pesantren, dengan tujuan agar santri yang melanggar tersebut tidak mengulangi kesalahannya.

“Itu biasanya setiap malam Jumat pengurus-pengurus itu saya suruh data anak-anak yang melanggar aturan tata tertib pondok pesantren. Kalau sudah terdata itu nanti saya suruh pertamakali untuk menasehati sesuai jenis pelanggarannya,” kata Thoha.

Dikatakannya, setelah dinasehati dihukum tapi dengan membaca Al-quran dengan tujuan mendapatkan hidayah, sehingga kesalahan yang dilakukan tidak diulangi sebagai hukuman yang pertama.

“Kalau pelanggaran itu ada banyak maka ada tambahan hukuman berupa membersihkan tempat yang kotor atau bahasa istilah Pondok itu Yaro’an yakni dengan membersihkan kamar mandi, WC, tempat wudhu dan tempat tempat pembuangan sampah. Itu yang selalu saya anjurkan pada semua pengurus,” kata dia.

Pada kejadian yang kemudian viral, saat itu dirinya kebetulan sedang tidak ada ditempat, dan seperti biasanya setiap pekan pengurus memberikan hukuman pada anak-anak yang dinilai melanggar. Dengan hukuman yang sama yakni memasukkan tangan separuh jari kedalam baskom yang terbuat dari atom.

“Cerita dari pelaku, air belum mendidih dicampur dengan air biasa atau air kran, jadi bukan sepenuhnya yang dalam baskom itu air panas, karena sudah dicampur air dingin dan sebelum menyuruh 15 orang yang melanggar itu AS pengurus yang menyuruh dan menghukum, sudah mencoba memasukkan tangannya sendiri kedalam baskom itu,” jelasnya.

Pas kebetulan katanya, dari 15 orang itu yang dihukum itu mungkin kulitnya ada dua anak yang kulitnya begitu sensitif 2 orang.

“Sehingga akibatnya jari keduanya melepuh seperti yang di foto-foto itu. Cuman mohon maaf, apakah itu foto editan atau sudah di zoom, kebenarannya saya nggak tahu,” tuturnya.

Pihaknya menilai, AS yang merupakan pengurus pelaku dugaan kekerasan fisik terhadap santri, adalah sosok pribadi yang baik akhlaknya. S berasal dari keluarga kurang mampu yang sudah mondok di ponpes setempat tanpa dipungut biaya.

“Anaknya selama ini baik akhlaknya, Dia dari kalangan kurang mampu yang orangtuanya usia 70 tahun. Alhamdulillah di pondok sudah menghafal 25 juz, jadi mondok di sini saya gratiskan karena keluarga kurang mampu,” paparnya.

Setelah kejadian itu, lanjut Thoha, kedua belah pihak juga telah berkomunikasi. Hingga Sabtu, 8 Juni 2024, sudah ada komunikasi agar permasalahan tersebut bisa terselesaikan dengan cara kekeluargaan. Satu anak dari Gembong Pati yang kemudian dirawat di RS Soewondo Pati, Sedangkan yang seorang lagi warga Gebog dan hanya dirawat dirumah. Keduanya Siswa MA Kelas 10.

“Saya juga sudah sempat menjenguk anaknya pas dirawat di RSUD Soewondo, tapi memang terlambat kurang lebih 9 hari setelah kejadian, karena saya minta alamatnya tidak dikasih, lalu saya cari sendiri dan alhamdulillah ketemu,” tambahnya.

Thoha melanjutkan, pada saat perstiwa tersebut terjadi, Ia mengaku sedang berada di luar ponpes. Bahkan, Ia mengetahui ada kejadian tersebut dua hari setelah kejadian, tepatnya pada Rabu, 29 Mei 2024 saat orangtua korban datang ke ponpes.

“Jadi setelah malamnya kejadian, esok harinya hari Selasa itu anaknya izin pulang, bukan menceritakan masalah ini tapi bilangnya tulang belakangnya sakit, terus saya kasih izin. Tahunya, Rabu kedua orang tua melapor, itu baru saya tahu,” imbuhnya.

Saat ini, pengurus pondok yakni AS telah mendapatkan nasehat dari pihak pengasuh pondok dan diminta berjanji untuk diulang kembali. Terlebih, menghukum santri yang tidak pernah diajarkan olehnya seperti itu. (YM/YM)



Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *