Kudus, Liputan7.Net – Ketua PGRI Kabupaten Kudus, Ahadi Setiawan buka suara soal polemik wacana penghapusan program study tour sekolah. Rencana ini mencuat setelah insiden kecelakaan yang menewaskan sembilan siswa dan satu guru SMK Lingga Kencana Depok, serta seorang pengendara motor di Subang, Jawa Barat.
“Enggak masalah [ada study tour], busnya yang perlu diperketat,” ujar Kepala SMP 1 Kudus itu.
Wawan (sapaan akrabnya) menegaskan, sebaiknya program study tour di sekolah tak perlu dihilangkan. Sebab yang perlu dilakukan adalah mengetatkan pengawasan armada transportasi yang digunakan.
“Study tour jangan dihilangkan. Pengetatan di armada transportasi lebih diutamakan,” tegasnya.
Dirinya juga menegaskan ketidak setujuannya atas larangan tersebut karena study tour banyak manfaatnya. Bila ada errornya bukan study tournya yang disalahkan, tetapi pelaksanaanya yang harus diketati.
“Sebagai contoh adalah biro harus qualified orangnya, busnya harus benar – benar dalam kondisi bagus, rakitan terbaru, dan PO bus harus yang sudah familiar sebagai bus pariwisata. Serta pengemudi bukan putar balik tapi harus istirahat sebelumnya,” ujar Wawan panggilan akrabnya, Jum’at (17/5.2024).
“Saya ibaratkan dulu ada kegiatan pramuka yang memakan koirban jiwa di seuat daerah, supaya lebih bijak maka bukan Pramukanya yang langsung dilarang, melainkan teknis dari kegiatannya harus diperketat, sambungnya.
Dirinya juga mengkhawatirkan dampak jika dilarang studi tour, mereka (para siswa) menghimpun atau berangkat sendiri (per kelompok misalnya) menuju tempat wisata,
“Justru dengan mereka melakukan wisata sendiri, malah tidak ada pengawasan dari guru apalagi orang tua. Sehingga mereka bisa berbuat semaunya. Ini akan sangat mengkhawatrkan,” tandasnya.
Sebelumnya Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Jawa Tengah mengeluarkan nota dinas Nomor 421.7/00371/SEK/III/2024 yang melarang sekolah negeri, baik SMA maupun SMK, menggelar kegiatan study tour.
Menurut Kepala Disdikbud Jateng, Uswatun Hasanah, pihaknya bakal memberikan sanksi tegas bagi sekolah yang ketahuan melanggar aturan tersebut. Sebab, menurut mereka, kegiatan study tour berisiko besar. (AS/YM)
