KUDUS, Liputan7.Net – Musik bagi Muhammad Salwa Aristotel bukan sekadar bunyi yang lahir dari sebuah alat. Musik menjadi bagian dari perjalanan hidupnya, sekaligus ruang untuk membuktikan bahwa keterbatasan fisik tidak harus menjadi penghalang untuk terus belajar, berkarya dan mengejar mimpi.
Lahir di Kudus pada 17 September 2001, Salwa sejak kecil terbiasa menjalani berbagai aktivitas dengan cara yang berbeda. Menulis, menggambar hingga kegiatan sehari-hari menjadi proses panjang yang membentuk kemandiriannya.
Masa kecil Salwa di Kudus menjadi awal dari perjalanan tersebut. Ia pernah bersekolah di SLB Negeri Purwosari Kudus. Di sekolah, Salwa tidak hanya mengikuti pembelajaran, tetapi juga menunjukkan kemampuan akademik yang membuatnya beberapa kali dipercaya mewakili sekolah dalam berbagai perlombaan mata pelajaran.
Melihat kemampuan dan rasa ingin tahu yang besar, sejumlah guru kemudian mendorong orang tua Salwa untuk memberikan kesempatan melanjutkan pendidikan ke jenjang lebih tinggi.
Langkah itu membawa Salwa ke Yayasan Pendidikan Anak Cacat (YPAC) Surakarta. Perpindahan dari Kudus menuju Solo menjadi fase penting dalam hidupnya.
Jauh dari kedua orang tuanya yang tinggal di wilayah Kecamatan Undaan, Salwa harus tinggal di asrama dan belajar hidup lebih mandiri. Ia mulai terbiasa mengurus berbagai kebutuhan sendiri hingga bepergian pulang ke Kudus dengan menumpang bus.
Pengalaman tersebut menjadi bagian dari proses Salwa membangun keberanian dan kemandirian.
Menemukan Dunia Seni di Solo
Lingkungan YPAC Surakarta membuka cakrawala baru bagi Salwa. Selain pendidikan, ia mulai mengenal berbagai kegiatan seni dan olahraga, termasuk renang.
Salah satu bakat yang berkembang adalah melukis. Dengan ketekunan, Salwa mampu menghasilkan karya menggunakan kaki.
Kemampuan tersebut kemudian membawanya ke pengalaman yang tidak terlupakan.
Pada 2017, Salwa mendapat kesempatan melukis dalam rangkaian penyambutan tamu negara di Istana Negara.
“Saya pernah mendapat kesempatan istimewa, yakni diundang melukis oleh Bapak Presiden Joko Widodo dan Ibu Negara Iriana dalam rangkaian penyambutan tamu negara di Istana Negara,” ujar Salwa.
Kala itu, Salwa diminta membuat sketsa keluarga Wakil Presiden Amerika Serikat saat itu, Mike Pence.
Pengalaman tersebut menjadi salah satu titik penting dalam perjalanan seninya. Namun, Salwa ternyata belum selesai menemukan bidang yang ingin ditekuninya.
Dari dunia lukis, perhatiannya kemudian beralih ke musik.
Rasa Penasaran yang Membawa ke Dunia Musik
Ketertarikan Salwa terhadap musik bermula ketika melihat teman-temannya di lingkungan YPAC memainkan alat musik dengan cara yang disesuaikan dengan kondisi masing-masing.
Rasa penasaran membuatnya ikut mencoba.
Keyboard menjadi salah satu alat musik yang pertama dipelajarinya. Dari sana, ketertarikannya semakin berkembang.
Salwa kemudian mempelajari sejumlah alat musik, mulai dari keyboard, bass hingga terompet.
Kemampuan memainkan terompetnya bahkan pernah menjadi objek penelitian mahasiswa Institut Seni Indonesia Surakarta. Penelitian tersebut mengangkat adaptasi teknik permainan terompet bagi penyandang tunadaksa.
Pada 2017, Salwa tampil bersama kelompok musik YPAC Solo dalam pentas seni memperingati HUT Kemerdekaan RI. Ia memainkan bass dengan teknik yang telah dipelajarinya.
Bagi Salwa, setiap alat musik menghadirkan tantangan tersendiri. Namun, tantangan tersebut justru membuatnya terus mencari cara dan berlatih.
Mimpi Bertemu Addie MS
Di antara banyak musisi yang dikaguminya, terdapat satu nama yang memiliki tempat khusus bagi Salwa, yakni Addie MS.
Sejak kecil, ia bermimpi dapat bertemu dan bermain musik bersama musisi tersebut.
Kesempatan itu akhirnya datang pada 2018.
Seorang teman Addie MS mengetahui kemampuan Salwa dan meminta dirinya memainkan sebuah lagu untuk direkam.
“Saya kemudian diminta memainkan sebuah lagu untuk direkam. Rekaman tersebut dikirimkan kepada Mas Addie MS,” terang Salwa.
Dari rekaman tersebut, kesempatan yang selama ini hanya menjadi impian akhirnya terbuka.
Salwa mendapat kesempatan bermain musik satu panggung dengan Addie MS pada 2018.
Bagi Salwa, pengalaman tersebut menjadi salah satu momen paling berkesan dalam perjalanan musiknya.
Bukan semata karena dapat bertemu dengan musisi yang diidolakannya, tetapi karena kesempatan itu menjadi bukti bahwa proses panjang yang dijalaninya perlahan membuka jalan menuju impian.
Musik Bukan Satu-Satunya Jalan
Perjalanan Salwa ternyata tidak hanya berlangsung di dunia musik.
Ia juga menekuni olahraga, terutama renang. Setelah belajar berenang selama bertahun-tahun, Salwa kemudian berkembang menjadi atlet paralimpik.
Pada Pekan Paralimpik Daerah 2022, Salwa berhasil meraih tiga medali emas.
Ia juga pernah meraih prestasi dalam ajang FLS2N tingkat provinsi serta berbagai kegiatan lainnya.
Musik, seni rupa, olahraga dan pendidikan menjadi bagian dari perjalanan Salwa dalam menemukan potensi dirinya.
Baginya, mencoba berbagai bidang adalah bagian dari proses belajar.
Dari Kudus, Solo hingga Jakarta
Setelah menyelesaikan masa pendidikan di Solo, Salwa kembali membuka babak baru kehidupannya dengan melanjutkan pendidikan ke Jakarta.
Ia tercatat sebagai mahasiswa Institut Kesenian Jakarta (IKJ) pada Program Studi Seni Musik.
Jakarta tentu menghadirkan tantangan berbeda. Lingkungan seni yang lebih luas membuat Salwa kembali harus beradaptasi dan meningkatkan kemampuannya.
“Hidup di Jakarta dengan persaingan seni yang ketat, menuntut saya untuk kembali beradaptasi,” ungkapnya.

Namun, pengalaman sejak kecil membuat Salwa terbiasa menghadapi perubahan.
Dari Kudus, ia belajar mengenal dunia pendidikan. Di Solo, ia belajar hidup mandiri sekaligus menemukan bakat dalam seni dan olahraga. Di Jakarta, ia kembali memperluas langkah untuk mengejar cita-citanya sebagai musisi.
“Semua Bisa Dilakukan Asal Mau Belajar”
Ada satu kalimat sederhana dari Salwa yang seolah merangkum seluruh perjalanan hidupnya.
“Semua bisa dilakukan asal mau belajar.”
Kalimat tersebut bukan sekadar ungkapan. Salwa telah menjalaninya sejak kecil.
Ketika sebuah aktivitas harus dilakukan dengan cara berbeda, ia belajar. Ketika ingin menguasai alat musik, ia berlatih. Ketika kesempatan belum datang, ia terus mempersiapkan diri.
Hingga akhirnya, kesempatan itu benar-benar datang.
Dari seorang anak yang tumbuh di Kudus, Salwa kemudian menemukan kemandirian di Solo dan membawa mimpinya ke Jakarta.
Perjalanannya menunjukkan bahwa setiap orang dapat memiliki jalan yang berbeda untuk mencapai tujuan.
Salwa mungkin memainkan musik dengan teknik yang tidak biasa. Namun ketika nada mulai terdengar dari atas panggung, yang sampai kepada penonton bukanlah bagaimana sebuah alat musik dimainkan.
Yang terdengar adalah musik.
Dan di balik musik itu, ada proses panjang seorang pemuda asal Kudus yang terus belajar, berlatih dan berani mengejar mimpinya.
Sebab bagi Salwa, keterbatasan bukan akhir dari perjalanan. Ia justru memilih menjadikannya bagian dari cerita untuk terus berkarya. (YM/YM)
Post Views: 1
