0 4 min 2 mths

KUDUS, Liputan7.Net – Semangat kebersamaan masyarakat dalam menjaga tradisi Ampyang Maulid di Desa Loram Kulon, Kecamatan Jati, Kabupaten Kudus, dinilai terus menguat. Hal itu terlihat dari antusiasme warga serta kreativitas peserta yang semakin berkembang dalam Festival Ampyang Maulid 1448 Hijriah, Selasa (25/8/2026).

Kepala Desa Loram Kulon, M. Wahyu Saputra, mengatakan pelaksanaan Festival Ampyang Maulid tahun ini diikuti 43 peserta. Mereka berasal dari berbagai unsur masyarakat, mulai dari lembaga pendidikan, musala hingga masjid di Desa Loram Kulon dan Loram Wetan.

“Alhamdulillah untuk peserta Festival Ampyang Maulid tahun 2026 ini berjumlah 43 peserta. Antusiasme masyarakat Loram Kulon maupun Loram Wetan sangat tinggi,” kata Wahyu saat diwawancarai, Selasa (25/8/2026).

Menurut Wahyu, peningkatan antusiasme tersebut juga terlihat dari jumlah warga yang datang menyaksikan jalannya kirab. Masyarakat tampak memadati sejumlah titik untuk melihat beragam tandu ampyang yang dibawa peserta menuju Masjid Wali At-Taqwa Loram Kulon.

Ia menyebut perbedaan pelaksanaan tahun ini dengan sebelumnya memang tidak terlalu besar. Namun, kreativitas peserta dalam menghias dan membawa tandu ampyang dinilai semakin baik.

“Perbedaannya memang tipis, tetapi antusias dari musala dan masjid untuk membawa tandu ampyang masih banyak. Kreasinya juga semakin bagus,” ujarnya.

Bagi masyarakat Loram, Ampyang Maulid bukan sekadar kegiatan seremonial. Tradisi tersebut telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat sejak masa Sultan Hadirin, bahkan sebelum wilayah Loram terbagi menjadi Loram Kulon dan Loram Wetan.

Wahyu mengatakan keberadaan tradisi tersebut menjadi salah satu cara masyarakat untuk terus mengenalkan nilai-nilai keagamaan sekaligus budaya kepada generasi berikutnya. Menurutnya, inti dari peringatan Maulid Nabi adalah meneladani akhlak Nabi Muhammad SAW.

“Harapannya masyarakat Loram Kulon, Loram Wetan dan seluruh masyarakat yang menonton bisa meneladani akhlak yang baik dari Nabi Muhammad SAW melalui kegiatan Ampyang Maulid ini,” jelasnya.

Selain kirab tandu ampyang, tradisi tersebut juga tidak terlepas dari keberadaan nasi kepel. Makanan itu merupakan nasi sedekah yang dibawa warga ke masjid sebagai bentuk syukuran atas hajat tertentu, seperti ulang tahun maupun weton.

Nasi kepel kemudian dibagikan kepada jamaah masjid dan musafir. Lauk yang menyertainya pun beragam, mulai dari tahu, telur, ayam hingga daging.

Untuk pelaksanaan tahun ini, masyarakat Loram Kulon menyiapkan lebih dari 500 bungkus nasi kepel. Warga mengirimkan nasi tersebut ke Masjid Wali At-Taqwa sejak pagi hingga menjelang pelaksanaan kirab.

Wahyu menjelaskan jumlah nasi kepel yang dibawa warga umumnya menggunakan angka ganjil, seperti lima, tujuh, atau sembilan. Hal tersebut berkaitan dengan filosofi yang berkembang dalam tradisi masyarakat setempat.

“Kalau tujuh itu ada istilah pitulungan. Jadi semuanya memiliki filosofi dan berkaitan dengan niat baik warga yang mengirimkan nasi kepel ke masjid,” katanya.

Menurutnya, keberadaan nasi kepel juga menunjukkan kuatnya budaya berbagi yang masih dipertahankan masyarakat. Tradisi tersebut menjadi salah satu bentuk kebersamaan warga dalam memeriahkan peringatan Maulid Nabi.

Semangat kebersamaan juga terlihat dari rangkaian kegiatan lain yang digelar di Loram Kulon. Salah satunya Expo yang berlangsung pada 17-23 Agustus 2026 dan menghadirkan lebih dari 120 stan UMKM serta pedagang dari luar daerah.

Wahyu menyebut kegiatan expo turut memberikan ruang bagi masyarakat untuk mengembangkan aktivitas ekonomi. Penjualan para pedagang dinilai semakin meningkat dari tahun ke tahun seiring bertambahnya antusiasme masyarakat.

Ia berharap Festival Ampyang Maulid dapat terus dipertahankan sebagai warisan budaya masyarakat Loram. Lebih dari itu, tradisi tersebut diharapkan tetap menjadi ruang untuk memperkuat persaudaraan, gotong royong, dan nilai keagamaan di tengah masyarakat.

Dengan semakin tingginya partisipasi warga dan berkembangnya kreativitas peserta, Festival Ampyang Maulid diharapkan mampu terus menjadi tradisi yang hidup serta diwariskan kepada generasi muda tanpa kehilangan nilai dan makna yang terkandung di dalamnya. (AS/YM)


Post Views: 12

Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *